Legenda gunung emas merupakan salah satu cerita rakyat dari Maluku. Menurut ceritanya, gunung emas ini berhasil mengubah nasib sebuah keluarga dan masyarakat yang ada di sebuah kampung yang ada di sana.
Berikut kisah lengkap dari legenda gunung emas yang jadi salah satu cerita rakyat Maluku.
Cerita Rakyat dari Maluku tentang Legenda Gunung Emas
Dinukil dari artikel Ratna Sari Mappa, "Gunung Emas" dalam buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Buru, pada zaman dahulu di Pulau Buru terdapat sebuah kampung yang tanahnya sangat subur. Semua masyarakat yang ada di sana berprofesi sebagai petani dan mengolah lahan di kampung tersebut.
Namun sayang, ada sebuah kondisi yang membuat kehidupan masyarakat yang ada di sana menjadi pas-pasan. Kampung tersebut sangat rawan terkena banjir karena tanah yang ada di sekitarnya merupakan daerah rawa.
Hal ini membuat masyarakat sering kali mengalami gagal panen ketika musibah banjir melanda. Meskipun demikian, masyarakat masih bertahan dan tetap menjalani kehidupan sehari-hari di kampung tersebut.
Di kampung itu hiduplah sebuah keluarga miskin. Keluarga ini dipimpin oleh Pak Jalal.
Pak Jalal memiliki seorang putra dan dua orang putri. Putra Pak Jalal bernama Rudi.
Sejak kecil Pak Jalal dan istrinya mengajarkan anak-anak mereka tentang kesabaran. Selain itu, mereka juga mesti bersyukur dengan setiap nikmat yang didapatkan.
Seiring berjalannya waktu, anak-anak Pak Jalal tumbuh dewasa dan menikah. Meskipun demikian, kondisi keluarga mereka masih serba kesusahan.
Kedua putri Pak Jalal akhirnya pergi merantau mengikuti suami mereka. Sementara itu, Rudi yang sudah menikah memilih tetap tinggal di kampung tersebut.
Rudi mengikuti jejak Pak Jalal sebagai petani. Sehari-hari dia membantu sang ayah untuk mengolah lahan yang ada di sana.
Pada suatu hari, Rudi berinisiatif untuk membuka lahan baru bagi keluarga mereka. Dia ingin menggarap lahan di lereng gunung yang tidak jauh dari kampung mereka.
Rudi pun menyampaikan niat ini kepada sang ayah. Dia berkata jika membuka lahan di lereng gunung, maka kebun mereka bisa selamat ketika musibah banjir datang.
Pak Jalal setuju dengan saran sang anak. Dia pun mengajak Rudi untuk mulai mengolah lahan baru tersebut keesokan harinya.
Besok paginya, ayah dan anak ini kemudian pergi ke lereng gunung. Mereka saling bahu membahu untuk membuka lahan yang nantinya ditanami berbagai macam hasil bumi.
Ketika tengah hari, Pak Jalal dan Rudi beristirahat sejenak. Mereka memakan bekal yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Setelah beristirahat, Pak Jalal dan Rudi kembali melanjutkan pekerjaan. Belum lama bekerja, Rudi tiba-tiba berteriak memanggil sang ayah.
Pak Jalal kemudian mendekat ke arah Rudi. Ternyata anaknya memperlihatkan tanah yang terdapat butiran kilauan emas di dalamnya.
Tanah yang digarap oleh Rudi tersebut berada di dekat aliran Sungai Anahoni. Meskipun demikian, Pak Jalal belum terlalu yakin apakah tanah tersebut memang memiliki kandungan emas atau tidak.
Akhirnya Pak Jalal menyuruh Rudi membawa gumpalan tanah tersebut ketika mereka kembali pulang. Sesampainya di rumah, Pak Jalal dan Rudi kemudian mengetes apakah butiran kilauan emas tersebut benar-benar emas.
Pak Jalal memasukkan gumpalan tanah itu ke dalam tempurung kelapa. Setelah itu, tempurung kelapa tersebut dilapisi karet ban.
Jika butiran tersebut menempel di karet ban, maka benar tanah tersebut memiliki kandungan emas. Pak Jalal dan Rudi pun menunggu semalaman untuk menunggu hasil tes tersebut.
Keesokan harinya, ternyata butiran emas itu benar-benar menempel di karet ban. Alangkah senangnya Pak Jalal dan Rudi karena menemukan gunung emas yang ada di dekat kampung mereka.
Sejak saat itu, Pak Jalal dan Rudi menyuling emas yang ada di gunung tersebut. Mereka juga mengajak masyarakat untuk menikmati hasil bumi tersebut bersama-sama.
Akhirnya taraf kehidupan Pak Jalal dan keluarganya membaik. Gunung emas yang dia temukan berhasil mengubah nasib keluarganya.
Itulah kisah legenda gunung emas yang menjadi cerita rakyat dari Maluku.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


