Hujan rajin menyapa pada bulan Februari. Aku sudah menyiapkan jaket, jas hujan, dan payung dalam tas. Namun untungnya hari itu langit begitu cerah. Hari itu tepatnya Sabtu (21/2), aku mengikuti acara Kawan GNFI yang berkolaborasi dengan 60 Museum, yaitu Ngabuburit di Gedung Candra Naya.
Gedung Candra Naya merupakan cagar budaya dengan arsitektur khas Tiongkok. Lokasi gedungnya di Jalan Gajah Mada no 118, Jakarta Barat. Cagar budaya ini mudah dijangkau dengan transportasi umum. Kawan GNFI bisa menjangkaunya dengan menumpang bus TransJakarta atau naik Commuter Line.
Apabila menumpang bus TransJakarta, kalian bisa turun di Halte Tamansari. Sementara apabila naik Commuter Line bisa memilih turun di Stasiun Kota atau Mangga Besar, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki atau naik ojek online sekitar 5-15 menit.
Sambil menunggu kawan-kawan GNFI berkumpul, saya menyapa ketua rombongan Kawan GNFI, Almer. Dari pihak 60 Museum sendiri, sudah datang pendirinya, yakni Lucky Ibrahim. Setelah mengobrol sejenak, saya menyusuri bangunan luas ini yang masih berhiaskan pernak-pernik khas Imlek.

Gedung Candra Naya di Kawasan Glodok (dok.Dewi Puspasari)
Hiasan dengan dominan warna merah memberikan nuansa Imlek. Ada lampion berwarna merah dan tanaman imitasi dengan amplop angpau. Payung warna-warni dengan motif bunga dan barongsai merah dan kuning juga ada di salah satu sudut ruangan. Tak lupa juga hadir hiasan shio kuda di pintu.
Lukisan bergaya Tiongkok menghiasi dinding. Juga terpajang kaligrafi Tiongkok dan petuah-petuah bijak.
Sejarah Gedung Candra Naya
Bangunan ini awalnya merupakan kediaman keluarga Mayor Khouw Kim An yang aktif berkecimpung di komunitas Tionghoa. Gedung Candra Naya juga dikenal sebagai Rumah Mayor Tionghoa karena Khouw Kim An diangkat sebagai Mayor Tionghoa pada tahun 1910.
Gedung Candra Naya masih kental dengan gaya arsitektur berlanggam Tionghoa. Banyak ornamen khas Tiongkok menghiasi bangunan ini, juga bentuk pintu dengan akses dekoratif Tionghoa, dan struktur rangka atap yang disebut tou-kung.
Bentuk atap Gedung Candra Naya melengkung dengan kedua ujungnya terbelah dua, yang disebut ekor walet alias yanwei.
Di bagian tengah, terdapat atap transparan atau skylight, sehingga cahaya matahari bisa menerobos masuk dan menerangi ruang utama.
Dulu bangunan ini merupakan kantor mayor di bagian depan. Sedangkan bagian belakang adalah tempat tinggal. Sedangkan bangunan sayap kiri dan kanan adalah ruang pelayan. Kolam koi dulunya ada di bagian belakang.
Saat ini bangunan telah banyak mengalami perubahan, di mana yang bisa dikunjungi oleh para tamu hanyalah bangunan utama yang dulunya kantor. Sayap kiri kanan serta bagian belakang telah berubah. Sayap kanan menjadi tempat ibadah. Sedangkan bagian sayap kiri dan bagian belakang telah menjadi wilayah komersial, berupa kafe dan apartemen.
Kolam yang indah yang dulu di bagian belakang dipindahkan ke bagian tengah, penghubung antara bangunan utama dan bangunan belakang. Kolam ini bersih dan asri dengan dikelilingi tanaman. Kolamnya penuh dengan ikan koi berwarna-warni.
Pada tahun 1946 atau setelah Indonesia merdeka, bangunan ini disewa menjadi kantor perhimpunan sosial Sin Ming Hui atau Perkumpulan Sinar Baru, kemudian berubah menjadi Candra Naya. Tempat ini pun menjadi wadah berbagai ragam aktivitas seperti poliklinik, tempat olah raga seperti badminton, tempat rekreasi, wadah kegiatan budaya, dan juga ruang belajar.
Sejarah bangunan tersebut panjang karena juga pernah digunakan sebagai sekolah dari SD hingga perguruan tinggi. Candra Naya juga pernah disewa sebagai tempat resepsi pernikahan, tempat untuk mengadakan kompetisi berbagai olahraga dari badminton, bridge, biliar, hingga angkat besi.
Sekarang bangunan Candra Naya telah menjadi cagar budaya dan pernah dipugar pada tahun 2012.
Semangat Menyimak Penjelasan Pemandu
Dengan penuh semangat Gilang Ramadhan memandu para peserta. Ia adalah 'sahabat museum' yang kali ini mewakili 60 Museum.
Cerita Gilang beragam dari menjelaskan awal mula kontak Nusantara dengan bangsa Tiongkok, asal muasal nama Glodok, hingga Geger Pecinan, termasuk bangunan Candra Naya dulu dan kini.
Para Kawan GNFI yang kompak menggunakan busana merah juga tak kalah antusias mengajukan pertanyaan dan mengikuti kuis.

Gilang Ramadhan memandu Kawan GNFI (dok.Dewi Puspasari)
Setelah berkeliling dan mendapatkan banyak wawasan, tibalah saatnya momen bagi-bagi hadiah. Ada yang dapat kartu pos, ada juga yang dapat stiker.
Sebagai informasi, Kawan GNFI bisa memasuki Gedung Candra Naya secara cuma-cuma. Kalian tinggal scanbarcode di meja registrasi di depan bangunan. Gedung buka setiap Selasa–Minggu, pukul 09.00–17.00 WIB.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


