Kasus pelecehan seksual terus bermunculan di berbagai ruang, baik di lingkungan terdekat maupun di ruang publik. Sayangnya, maraknya kasus ini tidak selalu diiringi dengan pendampingan yang memadai bagi para korban.
Banyak penyintas justru memilih untuk diam karena takut disalahkan, dianggap membuka aib keluarga, atau dinilai merusak nama baik lingkungan sekitarnya.
Stigma sosial semacam ini membuat korban merasa tidak aman, tidak didengar, dan kehilangan dukungan emosional yang seharusnya mereka dapatkan.
Di sisi lain, minimnya literasi masyarakat mengenai cara mendampingi korban pelecehan seksual juga semakin memperburuk keadaan.
Alih-alih memberi dukungan, tidak jarang korban justru mendapat respons yang menyudutkan, seperti diminta melupakan kejadian atau bahkan dipersalahkan atas apa yang menimpanya.
Situasi ini membuat korban semakin memilih menutup diri dan memendam trauma sendirian.
Padahal, pendampingan yang tepat sangat dibutuhkan agar korban dapat pulih dan kembali merasa didukung secara emosional.
Faktor Penyebab Minimnya Pendampingan bagi Korban
Salah satu faktor utama minimnya pendampingan adalah stigma sosial yang masih melekat kuat di lingkungan sekitarnya. Banyak korban merasa takut menceritakan pengalaman pahitnya karena khawatir tidak dipercaya atau justru disalahkan. Kondisi ini sejalan dengan temuan bahwa sebagian besar korban kekerasan seksual enggan melapor karena tekanan sosial dan rasa takut terhadap penilaian lingkungan sekitar (KEMENPPPA, 2023).
Selain stigma, minimnya edukasi masyarakat tentang cara mendampingi korban juga menjadi persoalan serius. Masih banyak orang yang belum memahami bahwa korban membutuhkan empati, validasi emosi, dan rasa aman. Panduan pendampingan dasar menekankan bahwa respons awal dari orang terdekat sangat menentukan kondisi psikologis korban ke depannya (Lestari dkk., 2020).
Dampak Kurangnya Pendampingan terhadap Kondisi Korban
Kurangnya pendampingan pada korban dapat menimbulkan dampak psikologis yang signifikan, seperti halnya korban cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, menjadi pribadi yang lebih tertutup, merasa cemas setiap kali keluar rumah, selalu merasa waspada setiap kali berada di keramaian, dan lain sebagainya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi rasa menyalahkan diri sendiri, rendahnya kepercayaan diri, hingga proses pemulihan trauma yang berjalan sangat lambat.
Penelitian mengenai pemulihan trauma menunjukkan bahwa tanpa dukungan emosional yang memadai, korban berisiko mengalami trauma berkepanjangan yang memengaruhi kualitas hidupnya (Pitria, Karneli, & Netrawati, 2024).
Solusi untuk Meningkatkan Pendampingan Korban Pelecehan Seksual
Pendampingan yang tepat dapat dimulai dari hal sederhana. Sebagai contoh mendengarkan korban tanpa menghakimi, menciptakan ruang aman, pendampingan pemulihan, tidak memaksa korban untuk segera melapor jika mereka belum siap, dan memberikan dukungan secara emosional.
Langkah-langkah awal ini penting untuk membangun rasa aman bagi korban, sehingga memungkinkan korban untuk bercerita tanpa rasa takut.
Selain itu, dalam memberikan pendampingan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan: tidak membuka identitas/ rahasia tanpa persetujuan korban, menyepelekan hal yang dialaminya, serta menyalahkan korban atas peristiwa yang menimpa dirinya.
Minimnya pendampingan bagi korban pelecehan seksual menunjukkan bahwa masalah ini tidak hanya soal tindakan pelanggarannya, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dan orang sekitar merespons para korban.
Dengan menghilangkan stigma sosial, meningkatkan edukasi, serta menyediakan ruang aman bagi korban, masyarakat dapat membantu korban memperoleh pemulihan yang layak.
Oleh karena itu, pendampingan bukan hanya sekedar pilihan, tetapi juga tanggung jawab bersama agar korban kembali merasa aman, diayomi, dihargai, dan didukung.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


