AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang melalui Departement Incoming Global Volunteer (IGV) melaksanakan kunjungan edukatif ke Manifolks komunitas yang menaungi anak-anak berkebutuhan khusus di bawah naungan Yayasan Mutiara Kasih, pada Minggu (1/2/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4.7 tentang pendidikan inklusif dan berkualitas.
Kunjungan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dan diikuti oleh Organizing Committee (OC) Happy Bus, Local Volunteers (LV), serta Exchange Participants (EPs) dari Turki dan Vietnam.
Manifolks dipilih sebagai salah satu mitra utama (OP Taker) karena fokusnya pada pendampingan dan pengembangan potensi anak-anak disabilitas di Kota Malang.
Sebelum kegiatan dimulai, pihak Yayasan Mutiara Kasih memberikan pengarahan kepada seluruh panitia dan relawan terkait pendekatan interaksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
Dalam sesi tersebut dijelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan, termasuk penggunaan bahasa yang tepat serta pendekatan yang lebih lembut dan suportif.
Rangkaian acara dibuka oleh moderator dari panitia, lalu dilanjutkan dengan sesi pembelajaran bahasa oleh Exchange Participants asal Turki, Alkim Erkan Tanrigünverdi.
Materi yang disampaikan meliputi pengenalan kosakata dasar bahasa Inggris dan Turki seperti nama buah serta angka. Proses pembelajaran berlangsung secara interaktif dengan metode pengulangan dan didampingi oleh Local Volunteers yang membantu menerjemahkan materi agar lebih mudah dipahami peserta.
Sesi berikutnya membahas pengenalan ekspresi perasaan (feeling) dalam bahasa Inggris, seperti happy, sad, dan angry. Materi ini bertujuan membantu anak-anak mengenali dan mengekspresikan emosi melalui kosakata sederhana.
Setelah sesi pembelajaran, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas kreatif berupa pembuatan mozaik menggunakan plastik bekas yang telah dikumpulkan panitia selama tujuh hari sebelum pelaksanaan kegiatan.
Plastik dipotong kecil-kecil dan ditempelkan pada pola gambar yang telah disediakan oleh panitia. Seluruh panitia, EP, dan LV turut mendampingi anak-anak selama proses berlangsung untuk memastikan setiap peserta dapat menyelesaikan karyanya.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama anak-anak, orang tua, serta pengurus Manifolks. Kehadiran orang tua yang mendampingi anak-anak selama kegiatan menambah suasana interaksi yang kolaboratif.
Zulkipli selaku OC (Organizing Committee) Partnership program Happy Bus menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman langsung dalam praktik pendidikan inklusif.
“Pengalaman yang sangat berkesan ketika mengajar ataupun membantu anak-anak berkebutuhan khusus di Manifolks. Kegiatan ini membuka perspektif kami tentang pentingnya pendidikan yang inklusif dan penuh empati,” ujarnya.
Sementara itu, Alya Naura Tifania Ayuu selaku OCP (Organizing Committee President) IGV Manifolks juga mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya selama menjalankan kegiatan ini.
“Banyak wonderful things and moments yang kami rasakan. Kami bisa memberikan pengalaman bersama anak-anak disabilitas, pengalaman yang hanya bisa didapatkan sebagai OCP IGV di Manifolks. Saya sungguh bersyukur bisa bertemu adik-adik yang mungkin memiliki keterbatasan, tetapi memiliki semangat yang tidak pernah kurang,” tuturnya.
Program Happy Bus pada periode ini menggandeng tiga mitra utama, yaitu Manifolks sebagai komunitas, SDN Tegal Gondo, dan Sekolah Rakyat di kawasan Ijen, Malang. Kegiatan di Manifolks dilaksanakan sebanyak dua kali, yakni pada 1 Februari dan 8 Februari 2026.
Berdasarkan hasil evaluasi akhir proyek, pihak mitra menyampaikan keterbukaan untuk kembali berkolaborasi dalam program serupa di masa mendatang. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendukung akses pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan di Kota Malang.
Melalui sinergi antara AIESEC UMM, Manifolks, serta mitra sekolah lainnya, proyek Happy Bus diharapkan dapat terus menghadirkan ruang pembelajaran yang mendukung perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus sekaligus memperkuat implementasi SDGs di tingkat lokal.


