AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan proyek sosial bertajuk Happy Bus yang berlangsung selama 4 minggu di Kota Malang dari tanggal 19 Januari—15 Februari 2026.
Proyek ini merupakan inisiatif nyata berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 mengenai pendidikan berkualitas (Quality Education). Dengan semangat kolaborasi lintas budaya, kegiatan ini menghadirkan Exchange Participants asal Vietnam dan Turki. Mereka bekerja sama dengan Local Volunteer untuk memberikan dampak edukatif bagi siswa sekolah dasar hingga komunitas disabilitas.
Proyek Happy Bus ini secara spesifik mengambil target SDG 4.7 yang menggabungkan aspek edukasi dengan pengenalan pariwisata di Kota Malang.
Mengenai fokus pendidikan yang diberikan, Alya Naura Tifania Ayu selaku Organizing Committee President (OCP)proyek Happy Bus, mengatakan, “Edukasi dalam Happy Bus tidak mengajarkan mata pelajaran formal seperti Matematika atau IPA. Fokus kami adalah pendidikan karakter dan wawasan global, seperti pentingnya sikap saling menghormati serta cara menjaga kelestarian lingkungan. Kami juga memperkenalkan keragaman budaya melalui para Exchange Participants atau EP agar para siswa dapat belajar mengenai cross-cultural understanding.”
Rangkaian kegiatan selama 4 minggu ini dimulai dengan fase perkenalan pada minggu pertama. Para Exchange Participant dan Local Volunteer diberikan pemahaman mengenai profil sekolah yang akan didatangi, bedah materi, serta seminar teknis mengenai cara mengajar yang efektif untuk anak-anak di tingkat sekolah dasar hingga menengah.
Memasuki minggu kedua, jadwal kegiatan menjadi sangat padat dengan aksi nyata di lapangan. Exchange Participant dan Local Volunteer memulai hari Senin dengan menerima materi Care of Environment dari dosen Universitas Brawijaya. Dilanjutkan dengan kunjungan ke desa binaan di Desa Bakalan Kerebet untuk melihat pengolahan sampah.
Pada hari Selasa dan Rabu, kegiatan difokuskan di SDN Tegalgondo untuk mengajar bahasa Inggris dasar serta membuat kerajinan dari limbah plastik yang telah dicuci dan dipotong kecil-kecil oleh para siswa.
Selain mengajar, para Exchange Participant dan Local Volunteer juga melakukan kunjungan budaya ke Museum Singhasari, pameran di Galeri Raos Batu, dan mengeksplorasi kawasan Kayutangan.
Akhir pekan di minggu kedua ditutup dengan kunjungan ke komunitas Manifolks untuk memberikan pengajaran bahasa Inggris dan workshop kreatif membuat mozaik bagi anak-anak disabilitas.
Pada minggu ketiga, fokus beralih ke SMA Rakyat 22 Kota Malang dengan materi utama berupa pertukaran budaya (cross-culture).
Para Exchange Participant menjelaskan budaya negara asal mereka dan mengajak siswa membuat kerajinan tangan khas negara tersebut.
Untuk menyegarkan suasana, para Exchange Participant, Local Volunteer, dan juga Organizing Committee (OC) melakukan perjalanan wisata ke Pantai Tanjung Penyu dan berkeliling Kota Malang menggunakan Bus Macito.
Memasuki minggu keempat atau minggu terakhir, para relawan fokus menyusun laporan akhir mengenai pembelajaran dan dampak yang mereka terima selama menjadi volunteer. Selain dari sisi volunteer, sekolah-sekolah mitra juga memberikan umpan balik atas dampak yang dirasakan.
Rangkaian proyek ini ditutup dengan meriah melalui perhelatan Global Village dan farewell party. Dalam Global Village, volunteer asal Turki menampilkan tarian tradisional dan menyuguhkan teh khas Turki.
Adapun volunteer asal Vietnam mempresentasikan kondisi lingkungan di negaranya, bernyanyi lagu asal Vietnam, hingga memperkenalkan kudapan kacang khas Vietnam.
Selama 4 minggu berjalan, manajemen proyek dilakukan secara disiplin melalui weeklyreport setiap hari Kamis. Sesi ini diisi dengan pengisian worksheet oleh volunteer mengenai aktivitas mingguan, pemberian umpan balik dari Organizing Committee (OC), serta koordinasi untuk rencana kegiatan minggu berikutnya.
Penyesuaian durasi proyek dari 6 minggu menjadi 4 minggu dilakukan secara strategis oleh pihak penyelenggara dengan pertimbangan Tahun Baru China. Harapannya tetap mampu menarik minat Exchange Participant untuk bergabung tanpa meninggalkan momen penting bersama keluarga mereka.
Mengenai pengalaman pribadi selama proyek berlangsung, Nydia Sabrina Fuadah Pranata dari Tim Divisi Program mengatakan, “Pastinya aku senang sekali bisa ke pantai saat jalan-jalan kemarin. Aku juga sempat berkunjung ke Manifolks dan beberapa SD untuk mengajar. Walaupun prodi kuliahku bukan kependidikan, aku sebenarnya sangat suka mengajar karena senang bertemu dan berinteraksi dengan anak kecil.”
Sementara itu, Alya Naura Tifania Ayu selaku Organizing Committee President (OCP) proyek Happy Busmenjelaskan, “Proyek Happy Bus ini sungguh luar biasa dan jauh lebih bermakna dibandingkan proyek sebelumnya. Hal ini dikarenakan kita terjun langsung ke masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Kami juga mengunjungi tiga sekolah dengan latar belakang yang berbeda, yaitu SDN Tegalgondo dan SMA Rakyat 22 Malang. Selain itu, kami bekerja sama dengan stakeholder kami, yaitu ManiFolks, untuk merangkul anak-anak dengan latar belakang yang beragam pula."
Kesuksesan proyek Happy Bus ini tidak lepas dari dukungan penuh para mitra seperti Manifolks, SDN Tegalgondo, SMA Rakyat 22 Kota Malang, Artemis Cafe, Batik Belimbing, Mahasiswa Malang, dan Sari Roti.
Menutup rangkaian kegiatan ini, Nydia Sabrina Fuadah Pranata menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan proyek tersebut.
"Kami sangat bersyukur dan bahagia dapat berbagi ilmu secara langsung kepada masyarakat. Pengalaman mengajar ini memberikan dampak positif yang timbal balik, baik bagi para peserta maupun bagi kami sendiri sebagai penyelenggara. Kami berharap kedepannya proyek seperti Happy Bus dapat berkembang lebih besar dan mampu menjangkau lebih banyak stakeholder," ujar Nydia.
Penulis: AIESEC in UMM
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


