AIESEC in Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Departemen Incoming Global Volunteer (IGV) menyelenggarakan Happy Bus Project sebagai salah satu kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 4: Quality Education.
Program ini dirancang untuk mendorong pendidikan yang inklusif dan setara, sekaligus memperkuat pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan melalui peningkatan kesadaran lingkungan, pengembangan keterampilan hidup, serta pembelajaran partisipatif berbasis kolaborasi lintas budaya dan pengalaman langsung di masyarakat.
Dalam rangkaian kegiatan Happy Bus, peserta yang terdiri dari Exchange Participants, dan Local Volunteers melakukan kunjungan edukatif ke Desa Krebet, salah satu desa binaan NIHR UB (National Institute for Health and Care Research Universitas Brawijaya).
Kunjungan ini dilaksanakan pada 26 Januari 2026 di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, dan menjadi highlight dalam memperkenalkan pendekatan partisipatif pengelolaan sampah kepada Exchange Participants, dan Local Volunteers diproject Happy Bus kali ini.
Desa Krebet dipilih atas rekomendasi NIHR UB karena merupakan percontohan sukses dengan bank sampah terintegrasi yang telah berjalan lama dan stabil. Kegiatan diawali dengan seminar pada 26 Januari 2026 oleh Dr. Rizka Amalia, S.K.Pm., M.Si., dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya sekaligus komisaris di NIHR UB.
Beliau menyampaikan materi tentang pengelolaan sampah di Indonesia, termasuk isu-isu terkait, pendekatan partisipatif, dan pengenalan Companion Modelling (ComMod) untuk pembelajaran kolektif dan pengambilan keputusan dalam sistem kompleks.
Pembahasan mencakup pemisahan sampah organik dan anorganik, hambatan sosio-lingkungan seperti rendahnya pemilahan sampah dan penegakan regulasi yang lemah, serta upcycling sampah menjadi bernilai tambah seperti pupuk kompos, pakan maggot/ternak, atau bahan daur ulang industri.
Peserta kemudian diajak langsung ke lokasi bank sampah di Desa Krebet. Di bank sampah organik, mereka menyaksikan proses pengolahan sampah rumah tangga menjadi pupuk alami untuk pertanian, termasuk demonstrasi hasil panen rambutan organik yang subur, merah cerah, manis, dan bebas bahan kimia ditanam dan diolah dari pupuk sampah rumah tangga.
Di bank sampah anorganik, peserta belajar pengumpulan plastik dan bahan non-organik yang dipotong kecil-kecil untuk diolah menjadi hiasan, kerajinan, atau dikirim ke perusahaan daur ulang. Lokasi yang berdekatan dengan sawah menunjukkan integrasi pengelolaan sampah dengan pertanian berkelanjutan.
Kegiatan ini melibatkan interaksi langsung dengan ibu-ibu kader lingkungan yang sangat antusias, terorganisir, dan mindful terhadap lingkungan. Mereka menyediakan tempat, alat, serta simulasi pengelompokan sampah (organik, anorganik) melalui permainan interaktif, sehingga peserta dapat mempraktikkan dan memahami dampak perilaku individu terhadap tata kelola lingkungan. Desa Krebet yang rapi, sejuk, dan bersih menjadi inspirasi besar, bahkan peserta sering berfoto karena keindahannya.
Pengalaman ini meningkatkan kesadaran peserta terhadap isu sampah, hal ini memperkuat rasa tanggung jawab generasi muda untuk lebih aware, mengedukasi masyarakat sekitar, dan mengajarkan anak-anak SD melalui kegiatan Mozaik art dari sampah bekas, agar mereka membangun tanggung jawab terhadap sampah sejak dini.
Alya Naura Tifania Ayu selaku Organizing Committee President of Happy bus Project turut menyampaikan refleksinya terhadap pelaksanaan kegiatan ini. “Desa Krebet menunjukkan bahwa langkah kecil dari masyarakat, seperti ibu-ibu yang excited belajar dan berproses dapat menciptakan perubahan nyata. Amazing people in the world! Pengalaman ini membuat kami lebih paham bahwa mengatasi masalah bersama-sama menjadi jauh lebih mudah dan berdampak, sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan serta pendidikan berkualitas bagi generasi muda.”
Dalam kesempatan yang sama, Madu Bunga Lakey, salah satu peserta yang akrab disapa Kak Madu, turut membagikan kesannya “Seru banget, nambah pengetahuan aku banget, buat aware sama sampah dan lingkungan sekitar. Jadi paham sih sebenarnya cara ngatasin masalah kalau bareng-bareng tuh jadi gampang, dan apalagi dengan posisi ada kelompok gitu jadinya semuanya jalan gitu loh dan gampang.”
Dengan keberhasilan kunjungan ini, Happy Bus Project menegaskan peran pemuda dalam mendukung pendidikan berkualitas yang mencakup kesadaran lingkungan, pengelolaan sampah berkelanjutan, dan pembelajaran partisipatif.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


