pesona anggrek tebu ratu anggrek dari hutan kalimantan - News | Good News From Indonesia 2026

Pesona Anggrek Tebu, "Ratu Anggrek" dari Hutan Kalimantan

Pesona Anggrek Tebu, "Ratu Anggrek" dari Hutan Kalimantan
images info

Pesona Anggrek Tebu, "Ratu Anggrek" dari Hutan Kalimantan


Membicarakan keanekaragaman hayati di Kalimantan seolah tak pernah ada habisnya. Dari hutan hujan tropis yang lebat hingga kanopi pohon raksasa yang menjulang, setiap sudutnya menyimpan kehidupan yang unik.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum). Bukan hanya menonjol dari ukuran, tetapi juga dari makna ekologis. Sebuah simbol raksasa yang anggun, sekaligus pengingat betapa bernilainya hutan tropis di pulau ini.

Raksasa yang Dijuluki "Ratu Anggrek"

Anggrek tebu dikenal sebagai salah satu anggrek terbesar di dunia. Julukan “raksasa” dan "ratu anggrek" bukanlah berlebihan. Batangnya semunya yang mirip tebu, memiliki tinggi hingga 2–3 meter dengan rumpun yang memiliki berat ratusan kilogram.

Dalam satu kali berbunga, tanaman ini mampu menghasilkan ratusan hingga ribuan kuntum bunga yang menggantung indah dalam malai panjang. Warna kuning cerah dengan bercak cokelat kemerahan yang menyerupai motif kulit harimau. Ini membuatnya sering dijuluki anggrek macan.

Anggrek Tebu
info gambar

Penampakan utuh anggrek tebu | Flickr: Steven Severinghaus


Keindahannya bukan hanya pada tampilan, tetapi juga daya tahannya. Satu rangkaian bunga bisa bertahan hingga dua bulan, menjadikannya primadona di kalangan pecinta anggrek. Namun, pesona inilah yang membuat keberadaannya saat ini terancam.

baca juga

Tingginya permintaan membuat anggrek ini kerap diambil langsung dari habitat aslinya. Alih-alih dibudidayakan, banyak yang justru mengeksploitasinya dari alam. Sehingga populasinya semakin menurun. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999, anggrek tebu dikategorikan sebagai anggrek langka yang dilindungi.

Hidup Bergantung pada Hutan

Anggrek tebu bukan tanaman biasa. Tanaman ini hidup sebagai epifit, menempel pada batang atau cabang pohon besar tanpa mengambil nutrisi dari inangnya. Sebaliknya, ia menyerap kelembaban dari udara, hujan, dan sisa-sisa organik di sekitarnya. Pola hidup ini menjadikannya sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem hutan.

Di hutan hujan tropis Kalimantan, anggrek tebu biasanya ditemukan di lapisan kanopi, tempat cahaya matahari masih bisa menembus, tetapi kelembaban tetap terjaga. Pohon-pohon tua menjadi “rumah” yang tak tergantikan. Ketika pohon ditebang, bukan hanya satu tanaman yang hilang, tetapi seluruh jaringan kehidupan yang bergantung padanya.

Sayangnya, deforestasi terus terjadi. Pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan permukiman telah mengubah wajah hutan secara drastis. Dalam kondisi seperti ini, anggrek tebu menjadi salah satu korban yang paling terdampak. Regenerasinya yang lambat membuatnya sulit pulih ketika habitatnya rusak.

Simbol yang Mulai Diperjuangkan

Di tengah ancaman tersebut, berbagai upaya konservasi mulai dilakukan. Di Taman Nasional Tanjung Puting, anggrek tebu masih dapat ditemukan di habitat alaminya. Kawasan ini tidak hanya menjadi rumah bagi satwa liar, tetapi juga ruang hidup bagi flora langka seperti anggrek raksasa ini.

Sementara itu, di Palangkaraya, hadir Taman Anggrek Kalimantan yang berfungsi sebagai pusat pelestarian dan edukasi. Di tempat ini, masyarakat dapat mengenal lebih dekat berbagai jenis anggrek khas Kalimantan, termasuk anggrek tebu.

Upaya serupa juga dilakukan di Kebun Raya Balikpapan. Melalui fasilitas orchidarium, berbagai anggrek langka dibudidayakan dan diperkenalkan kepada publik. Kehadiran anggrek tebu di ruang-ruang ini bukan sekadar pajangan, melainkan simbol penting tentang urgensi pelestarian.

Lebih dari itu, anggrek tebu perlahan diposisikan sebagai “maskot” keanekaragaman hayati Kalimantan. Ia menjadi wajah yang mudah dikenali, sekaligus pintu masuk untuk membicarakan isu yang lebih besar: tentang hutan yang terancam dan ekosistem yang semakin rapuh.

baca juga

Anggrek tebu bukan sekedar tanaman hias, melainkan simbol peringatan. Melindungi anggrek tebu berarti menjaga hutan tetap utuh. Anggrek tebu mengajarkan bahwa keindahan alam tidak berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari keseimbangan yang kompleks, antara tanah, air, udara, dan makhluk hidup yang saling terhubung. 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.