rangkong badak penghuni hutan kalimantan yang bantu sebarkan biji pepohonan - News | Good News From Indonesia 2026

Rangkong Badak, Penghuni Hutan Kalimantan yang Bantu Sebarkan Biji Pepohonan

Rangkong Badak, Penghuni Hutan Kalimantan yang Bantu Sebarkan Biji Pepohonan
images info

Rangkong Badak, Penghuni Hutan Kalimantan yang Bantu Sebarkan Biji Pepohonan


Rangkong badak atau Buceros rhinoceros merupakan salah satu burung rangkong terbesar di Asia Tenggara. Spesies ini mudah dikenali dari balung besar di atas paruhnya yang menyerupai cula badak. 

Dengan panjang tubuh sekitar 90–100 sentimeter, rangkong badak memiliki postur besar, sayap lebar, dan ekor panjang berpola garis hitam tebal di bagian tengah. Ketika terbang, kepakan sayapnya menghasilkan suara khas yang cukup keras dan dapat terdengar dari kejauhan.

Secara fisik, terdapat perbedaan jelas antara jantan dan betina. Jantan memiliki iris mata merah terang dan warna leher biru cerah, sedangkan betina beriris putih kebiruan dengan warna leher lebih pucat. 

Area sekitar mata tidak ditumbuhi bulu sehingga warna iris tampak menonjol. Paruhnya besar namun berongga dengan struktur ringan menyerupai sarang lebah, sehingga tetap kuat tanpa membebani saat terbang. Balung atau casque akan tumbuh semakin besar dan warnanya makin pekat seiring bertambahnya usia.

Penghuni Hutan Kalimantan

Rangkong badak hidup di hutan hujan tropis dataran rendah hingga perbukitan di Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Melayu, dan Thailand bagian selatan. Spesies ini sangat bergantung pada hutan primer yang memiliki pohon-pohon berdiameter besar. Pohon tua tidak hanya menjadi tempat bertengger, tetapi juga menyediakan lubang alami untuk bersarang.

Sebagian besar waktunya dihabiskan di tajuk hutan. Sekitar 90 persen makanannya berupa buah, terutama dari genus Ficus atau pohon ara. Selain buah, rangkong badak juga memakan serangga, reptil kecil, hewan pengerat, dan burung kecil. Dalam sehari, individu dewasa dapat berpindah beberapa kilometer untuk mencari pohon yang sedang berbuah. Aktivitas mencari makan umumnya berlangsung pada pagi dan sore hari.

Sebagai pemakan buah, rangkong badak berperan penting dalam penyebaran biji. Biji yang tertelan akan dikeluarkan kembali di lokasi berbeda, membantu regenerasi pohon di hutan tropis. Peran ekologis ini menjadikan rangkong badak sebagai salah satu spesies kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Perilaku Reproduksi yang Unik

Rangkong badak dikenal monogami dan membentuk pasangan jangka panjang. Pada musim berbiak, betina akan masuk ke dalam lubang pohon besar lalu menutup sebagian besar pintu masuknya menggunakan campuran lumpur, sisa makanan, dan kotoran. 

Hanya tersisa celah sempit untuk menerima makanan dari jantan. Selama masa pengeraman hingga anak cukup besar, betina tetap berada di dalam sarang dan sepenuhnya bergantung pada pasokan makanan dari pasangannya.

Jantan berperan sebagai penyedia utama makanan selama periode tersebut. Setelah anak menetas dan tumbuh, betina akan membuka segel sarang, dan anak burung tetap mengikuti induknya selama beberapa bulan untuk belajar mencari makan. Pola ini menunjukkan tingkat ketergantungan tinggi terhadap ketersediaan pohon besar yang aman untuk bersarang.

Komunikasi antarindividu dilakukan melalui suara keras yang dapat terdengar hingga sekitar satu kilometer, diperkuat oleh struktur casque. Selain itu, gerakan kepala dan posisi tubuh juga digunakan sebagai sinyal visual.

baca juga

Status Konservasi dan Ancaman

Menurut Daftar Merah IUCN, rangkong badak berstatus rentan terhadap kepunahan. Dalam regulasi perdagangan internasional, spesies ini tercantum dalam Appendix II CITES, yang berarti perdagangan komersial internasional dilarang kecuali dengan pengawasan ketat. Tekanan utama terhadap populasinya berasal dari hilangnya habitat akibat deforestasi serta perburuan, terutama untuk mengambil bagian casque.

Kepadatan populasi di beberapa wilayah tercatat rendah, berkisar antara 0,32 hingga 0,6 individu per kilometer persegi. Fragmentasi hutan menyebabkan ruang jelajah semakin terbatas dan mengurangi ketersediaan pohon sarang. Di Indonesia, rangkong badak telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi melalui peraturan perundang-undangan.

Pelestarian spesies ini bergantung pada perlindungan hutan primer, pengawasan terhadap perburuan, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peran rangkong badak dalam ekosistem. Keberadaan burung ini menjadi indikator kesehatan hutan tropis yang masih terjaga.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.