Pelanduk Kalimantan adalah satu dari sedikit burung Indonesia yang hidupnya seperti legenda. Namanya jarang terdengar, wujudnya nyaris mitos, jejaknya lama menghilang. Burung ini bukan sekadar spesies langka, tetapi simbol betapa rapuhnya pengetahuan manusia tentang hutan tropis.
Nama ilmiahnya Malacocincla perspicillata, dikenal internasional sebagai black-browed babbler. Di tingkat lokal, warga Kalimantan mengenalnya sebagai burung pelanduk, meski tak terkait mamalia pelanduk. Ia endemik Indonesia dan diyakini hanya hidup di Pulau Kalimantan.
Asal-usul burung ini bermula dari abad ke-19, masa eksplorasi kolonial. Spesimen pertama dikumpulkan Carl A.L.M. Schwaner pada 1840-an. Deskripsi ilmiah kemudian dibuat Charles Lucien Bonaparte pada 1850.
Sejak itu, Pelanduk Kalimantan lenyap dari catatan ilmiah. Selama 172 tahun, tak ada satu pun laporan valid penampakan. Dunia ornitologi menyebutnya teka-teki terbesar Indonesia, bahkan Asia Tenggara.
Ketiadaan data membuat statusnya simpang siur. Ia sempat dianggap punah, lalu dinilai rentan, hingga akhirnya berstatus kurang data. Penilaian terakhir ditetapkan oleh International Union for Conservation of Nature pada 2008.
Semua berubah pada Oktober 2020 di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Dua warga lokal, Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan, menemukan burung asing saat mengumpulkan hasil hutan. Mereka memotret, melepasnya kembali, lalu melapor ke komunitas pengamat burung.
Foto itu beredar cepat di kalangan ornitolog. Komunitas BW Galeatus dan Birdpacker mencium sesuatu yang tak biasa. Dugaan mengarah pada Pelanduk Kalimantan yang hilang berabad-abad.
Identifikasi dilakukan hati-hati, melibatkan peneliti nasional dan internasional. Spesimen foto dibandingkan dengan koleksi Naturalis Biodiversity Center Belanda. Hasilnya mengejutkan dan menggembirakan.
Temuan itu dikonfirmasi dalam jurnal BirdingASIA tahun 2021. Penulis utama Panji Gusti Akbar menyebutnya penemuan zoologi paling dramatis Indonesia modern. Dunia sains pun tersentak.
Secara fisik, Pelanduk Kalimantan berukuran sekitar 16 sentimeter. Tubuhnya kekar untuk ukuran burung penyanyi. Warna bulu dominan cokelat dengan burik abu-abu di bagian perut.
Ciri paling mencolok adalah garis hitam tebal di atas mata. Alis hitam itu membentang dari paruh hingga tengkuk, seperti topeng. Inilah asal nama black-browed babbler.
Iris matanya merah tua, detail yang lama keliru dipahami. Spesimen awetan abad ke-19 memakai mata buatan berwarna kuning. Kesalahan taksidermi itu menyesatkan generasi peneliti berikutnya.
Paruhnya hitam dan sangat kuat. Bentuk ini menandakan adaptasi mencari makan di lantai hutan. Kakinya abu-abu gelap, kokoh untuk berjalan di serasah.

Lehernya pendek, badannya padat, sayapnya relatif pendek. Ia bukan penerbang jarak jauh. Kemampuan terbangnya rendah dan cenderung meloncat di bawah tajuk hutan.
Perbedaan jantan dan betina belum terdeskripsi jelas. Minimnya pengamatan lapangan membuat dimorfisme seksual masih teka-teki. Data genetiknya pun belum tersedia.
Secara taksonomi, burung ini termasuk ordo Passeriformes. Ia berada dalam famili Timaliidae, kelompok babbler Asia. Genus Malacocincla dikenal sebagai burung pemalu penghuni lantai hutan.
Jenis dalam spesies ini belum dibedakan lebih lanjut. Populasinya diduga sangat kecil dan terfragmentasi. Inilah alasan kuat sulitnya perjumpaan selama dua abad.
Makanan Pelanduk Kalimantan diperkirakan serangga kecil dan invertebrata tanah. Ia mencari makan di serasah daun basah. Paruh kuat membantu membongkar lapisan tanah lunak.
Habitat alaminya adalah hutan dataran rendah lembap. Banyak ahli menduga ia menyukai hutan rawa gambut. Wilayah Pegunungan Meratus disebut sebagai kantong penting.
Fungsi ekologisnya tak bisa diremehkan. Burung lantai hutan membantu mengontrol populasi serangga. Ia juga berperan dalam siklus nutrien tanah.
Bunyi Pelanduk Kalimantan belum pernah direkam. Hingga kini, tak ada dokumentasi suara valid. Ini menjadikannya satu dari sedikit burung Indonesia tanpa arsip vokalisasi.
Soal reproduksi, pengetahuan kita nyaris nol. Umur, usia matang seksual, musim berbiak, semuanya belum diketahui. Sarangnya pun belum pernah ditemukan.
Jumlah telur, masa pengeraman, hingga kemandirian anakan masih kosong. Kekosongan data ini menunjukkan betapa minimnya riset di luar Jawa. Para ahli mengakui adanya jurang pengetahuan besar.
Teguh Willy Nugroho dari Taman Nasional Sebangau menegaskan pentingnya peran warga lokal. Tanpa mereka, misteri ini mungkin tetap terkubur. Sains modern tak selalu lahir dari laboratorium.
Ding Li Yong dari BirdLife International menyebut penemuan ini ironi sekaligus harapan. Saat hutan tergerus, spesies ini justru bertahan. Akan tetapi ancaman habitat tetap nyata.
Deforestasi Kalimantan berlangsung cepat dan masif. Hutan dataran rendah menjadi yang paling tertekan. Di sinilah Pelanduk Kalimantan hidup.
Hingga kini, burung ini belum masuk daftar satwa dilindungi nasional. Pemerintah melalui KLHK menyatakan proses kajian masih berjalan. Rekomendasi ilmiah sangat dibutuhkan.
Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menilai temuan ini momentum penting. Mohammad Irham menyebut peluang konservasi masih terbuka. Tetapi waktu tidak berpihak.
Tantangan utama adalah minimnya survei lanjutan. Akses lokasi sulit dan populasi sangat jarang. Kesalahan langkah bisa berakibat fatal bagi spesies ini.
Pelanduk Kalimantan mengingatkan kita pada satu hal penting. Indonesia masih menyimpan rahasia biologis besar. Banyak yang belum punah, hanya belum kita pahami.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


