awc 2026 mengapa menghitung burung di pulau rambut penting bagi masa depan kita - News | Good News From Indonesia 2026

AWC 2026: Mengapa Menghitung Burung di Pulau Rambut Penting bagi Masa Depan Kita?

AWC 2026: Mengapa Menghitung Burung di Pulau Rambut Penting bagi Masa Depan Kita?
images info

AWC 2026: Mengapa Menghitung Burung di Pulau Rambut Penting bagi Masa Depan Kita?


Gugusan pulau di Teluk Jakarta menjadi tempat persinggahan penting bagi burung migran sekaligus surga bagi burung air di kawasan DKI Jakarta. Salah satunya adalah Pulau Rambut.

Pulau ini telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan suaka margasatwa sejak 1999. Vegetasi utamanya terdiri atas hutan mangrove, hutan dataran rendah, dan hutan pantai yang menjadi habitat berbagai jenis burung air.

Pulau Rambut merupakan salah satu dari 228 Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati (Important Bird Areas/IBAs) di Indonesia sekaligus telah ditetapkan sebagai Situs Ramsar, kawasan lahan basah bernilai ekologis tinggi yang penting bagi habitat burung air dan burung migran.

Karena itu, Burung Indonesia kembali menggelar kegiatan tahunan Asian Waterbird Census (AWC) pada Sabtu, 7 Februari, di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. AWC merupakan bagian dari International Waterbird Census (IWC) yang bertujuan mendukung pembaruan data populasi burung air, sekaligus meningkatkan kapasitas dan penyadaran publik mengenai nilai penting burung air beserta habitatnya di Indonesia.

Sebanyak 20 peserta terlibat dalam kegiatan perhitungan burung air di Pulau Rambut. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok untuk melakukan pengamatan di sisi luar pulau dan bagian tengah pulau.

Untuk lokasinya ada dermaga di selatan, bird hide di timur, dan menara di tengah pulau. Pengamatan dilakukan mulai pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB. Setelah pengamatan di tiga lokasi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi.

Salah satu spesies burung yang menjadi sorotan adalah bangau bluwok (Mycteria cinerea) yang menjadi burung ikonik Pulau Rambut. Spesies ini bersarang dan berbiak di kawasan tersebut.

Menurut IUCN, bangau bluwok termasuk spesies terancam punah secara global, statusnya Genting (Endangered). Populasinya juga menunjukkan tren penurunan berdasarkan data BirdLife International, dengan jumlah individu saat ini diperkirakan sekitar 1.800 ekor.

Penurunan populasi tersebut dirasakan langsung oleh salah satu peserta pengamatan, Merry Hemelda. Ia mengenang pengalamannya pada 2011–2012, saat bangau bluwok masih mudah ditemui di area menara.

Tidak hanya bangau bluwok, populasi burung air secara keseluruhan yang ditemui di Pulau Rambut kala itu masih jauh lebih banyak dibandingkan tahun ini. Bahkan, ketika masuk pulau, pengunjung sampai disambut dengan kotoran burung yang jatuh

“Saat itu, saking banyaknya burung yang bertengger, kami sampai bingung mau mengamati yang mana. Warnanya didominasi putih. Sekarang, yang terlihat justru didominasi hamparan hijau,” ujarnya.

Banyak spesies lain di Pulau Rambut

Meski begitu, masih terdapat spesies lain yang masih cukup banyak terlihat di Pulau Rambut, contohnya pecuk-padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris). Burung residen ini berstatus Risiko Rendah (Least Concern) dan banyak dijumpai di area pesisir.

Pengamat juga mencatat keberadaan burung migran seperti trinil pantai (Actitis hypoleucos) dan dara-laut kumis (Chlidonias hybrida). Secara keseluruhan, tercatat 14 jenis burung air di Pulau Rambut, di antaranya kowak-malam abu (Nycticorax nycticorax), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul besar (Ardea alba), cangak abu (Ardea cinerea), dan cangak merah (Ardea purpurea).

Biodiversity and Conservation Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid, mengatakan pendataan burung penting dilakukan karena burung merupakan salah satu bioindikator kesehatan lingkungan.

“Untuk mengetahui apakah lingkungan kita masih baik-baik saja atau sedang mengalami masalah, kita perlu melakukan pengukuran, salah satunya melalui perhitungan burung. Di sinilah kami turut berkontribusi menghitung jenis-jenis burung yang ada di Jakarta, khususnya di Pulau Rambut,” ujarnya.

Dia menjelaskan bahwa berbagai aktivitas di darat pada akhirnya akan berdampak langsung pada perairan dan wilayah pesisir. Penggundulan hutan, misalnya, dapat memicu aliran permukaan (run off) yang tinggi dan menyebabkan sedimentasi, yang kemudian mengalir dan merusak habitat muara dan pesisir, wilayah penting tempat burung air menggantungkan hidupnya.

“Karena itu, burung air menjadi indikator yang efektif untuk menilai kesehatan lingkungan. Melalui AWC, kita menggabungkan upaya pengumpulan data yang ilmiah dan edukasi kepada masyarakat untuk mendorong upaya pelestarian yang memberi dampak yang lebih luas,” kata Ridha.

Sarana edukasi mengenalkan kekayaan

Perhitungan burung air bukan hanya menjadi urusan pengamat burung dan peneliti, tetapi juga masyarakat luas. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana edukasi untuk mengenalkan kekayaan spesies burung air yang ada di Indonesia.

Data populasi burung air yang dikumpulkan melalui AWC menjadi acuan penting dalam pengelolaan kawasan konservasi, penentuan lokasi Ramsar, dukungan terhadap East Asian–Australasian Flyway Partnership, serta peninjauan status perlindungan jenis-jenis burung air di Indonesia

“Pelaksanaan AWC di Indonesia dilakukan bersama beberapa koordinator atau lembaga yang bekerja sama, mulai dari Kementerian Kehutanan, Wetlands International Indonesia atau YLBA, Burung Indonesia, Burung Laut Indonesia, Burungnesia, hingga Yayasan EKSAI,” kata Yaumud Mahmud dari Wetlands International Indonesia.

Data Asian Waterbird Census (AWC) juga menjadi dasar penting dalam pelestarian habitat lahan basah karena burung air berfungsi sebagai bioindikator kesehatan lingkungan. Melalui pemantauan jangka panjang terhadap jumlah, sebaran, dan komposisi spesies burung air, AWC membantu mengidentifikasi perubahan kondisi lahan basah akibat degradasi habitat, pencemaran, hingga tekanan pembangunan.

Data ini dapat digunakan untuk mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti, mulai dari pengelolaan kawasan konservasi, penetapan Situs Ramsar, perencanaan wilayah pesisir, hingga kerja sama lintas negara dalam jalur migrasi burung air.

“Dengan demikian, AWC berperan menjembatani sains dan kebijakan agar perlindungan lahan basah dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan berkelanjutan,” ucap Ridha.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.