merpati mahkota biru burung endemik papua yang monogami seumur hidup - News | Good News From Indonesia 2026

Merpati Mahkota Biru: Burung Endemik Papua yang Monogami Seumur Hidup

Merpati Mahkota Biru: Burung Endemik Papua yang Monogami Seumur Hidup
images info

Merpati Mahkota Biru: Burung Endemik Papua yang Monogami Seumur Hidup


Jika Kawan menyusuri semak-semak hutan hujan Papua yang lembap, akan menemui burung besar yang jalannya anggun dan auranya tenang. Ia bukan elang, bukan kasuari, tetapi merpati darat terbesar di dunia bernama Merpati Mahkota Biru atau Mambruk Ubiaat. Nama ilmiahnya Goura cristata, spesies endemik Papua yang tak hanya indah, tetapi juga sarat makna ekologis dan simbolik.

Burung ini bukan sekadar eksotik, tetapi juga unik secara biologis dan sosial. Ia monogami seumur hidup, hidup berkelompok, jinak, dan sangat terikat dengan habitat hutannya. Keindahan mahkota biru berenda di kepalanya seperti mahkota bangsawan, bukan sekadar ornamen, tetapi penanda evolusi dan seleksi alam yang panjang.

Dalam dunia burung, sifat setia seumur hidup adalah fenomena langka. Merpati Mahkota Biru menjadi simbol kesetiaan biologis yang nyata, bukan sekadar metafora. Data dan pengamatan lapangan menunjukkan pasangan burung ini bertahan sepanjang hidup, berbagi wilayah jelajah, sarang, dan perawatan anak.

Penelitian klasik Peter Simon Pallas dalam Systema Naturae Supplementum tahun 1764 menjadi fondasi awal klasifikasi spesies ini. Riset modern kemudian dikembangkan oleh Baptista dkk. dalam Birds of the World (2020) yang menegaskan statusnya sebagai merpati darat terbesar dan paling kompleks secara morfologi. Status konservasinya kini masuk kategori rentan menurut IUCN Red List of Threatened Species (2021).

Merpati Mahkota Biru. Gambar: ChatGPT Image

Secara kultural, masyarakat Papua mengenalnya sebagai Mambruk Ubiaat, Mambruk Barat, atau Dara Mahkota. Ia bukan sekadar fauna, tetapi bagian dari identitas lokal, simbol hutan, dan penanda keseimbangan ekosistem. Ketika mambruk menghilang, itu tanda hutan sedang tidak baik-baik saja.

Identitas Biologis dan Keunikan Fisik

Merpati Mahkota Biru termasuk dalam famili Columbidae, ordo Columbiformes, genus Goura. Secara taksonomi, ia berada satu keluarga dengan punai, tekukur, walik, dan perkutut, tetapi tampil sangat berbeda. Panjang tubuhnya mencapai 70 sampai 80 sentimeter dengan berat sekitar 1,8 sampai 2,4 kilogram.

Warna tubuhnya biru keabu-abuan, dengan bulu gelap di sekitar mata membentuk topeng alami. Iris matanya merah, paruhnya hitam, kakinya merah tua, dan tubuhnya padat. Lehernya kokoh, badannya besar, dan langkahnya cepat meski tampak tenang.

Ciri paling khas adalah mahkota renda biru di kepala. Jambul ini tersusun dari bulu pipih bercabang halus, menyerupai renda aristokratik. Inilah asal nama “mahkota biru” yang membuatnya tampak seperti burung kerajaan hutan.

Secara seksual, jantan dan betina hampir identik. Perbedaannya hanya ukuran, dengan jantan sedikit lebih besar. Tidak ada warna mencolok pembeda, menunjukkan seleksi seksualnya lebih berbasis perilaku, bukan visual agresif.

Ia termasuk burung terestrial, lebih banyak berjalan daripada terbang. Kemampuan terbangnya tetap baik, tetapi jarang digunakan kecuali untuk bertengger atau menghindar. Pola ini membuatnya sangat rentan terhadap perburuan dan fragmentasi habitat.

Di Papua, ia hidup di hutan hujan dataran rendah bagian barat Pulau Papua, wilayah Kepala Burung, Leher Burung, serta pulau Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool. Sebarannya sangat terbatas, menjadikannya spesies endemik murni Indonesia.

Secara ekologis, ia berperan sebagai penyebar biji alami. Buah hutan yang dimakannya disebarkan melalui kotoran, membantu regenerasi vegetasi. Tanpa mambruk, dinamika regenerasi hutan terganggu.

Perilaku Sosial, Reproduksi, dan Kehidupan Alamiahnya

Merpati Mahkota Biru hidup berkelompok kecil, biasanya dua sampai sepuluh individu. Ia bukan burung soliter, tetapi makhluk sosial dengan interaksi yang stabil. Dalam kelompok, tidak tampak dominasi agresif, melainkan struktur damai.

Pola kawinnya monogami seumur hidup. Pasangan terbentuk sekali dan bertahan sepanjang hidup. Ini dikonfirmasi dalam pengamatan lapangan yang dicatat dalam Handbook of the Birds of the World (2021) oleh BirdLife International.

Usia siap reproduksi sekitar 15 bulan. Betina hanya bertelur satu butir setiap siklus reproduksi. Telur dierami bersama oleh kedua induk selama beberapa minggu hingga menetas.

Anak burung diasuh bersama oleh kedua induk. Mereka dilatih mencari makan, mengenali wilayah, dan bertahan hidup. Anak menjadi mandiri setelah sekitar 8 sampai 10 bulan.

Pola makan didominasi buah hutan, biji-bijian, beri, dan sesekali serangga kecil. Ia mencari makan di lantai hutan, memungut buah jatuh, dan menelan kerikil kecil untuk membantu pencernaan.

Suaranya berupa gemuruh rendah, dalam, dan beresonansi. Bukan kicauan nyaring, tetapi suara bass alami hutan. Bunyi ini berfungsi sebagai komunikasi kelompok dan penanda wilayah.

Secara perilaku, ia jinak dan tidak agresif. Inilah yang membuatnya mudah diburu. Ia tidak mengenal mekanisme pertahanan cepat seperti burung pemangsa.

Dalam klasifikasi genus Goura, terdapat empat spesies: Goura cristata, Goura victoria, Goura sclaterii, dan Goura scheepmakeri. Di Indonesia, tiga yang utama adalah cristata, victoria, dan sclaterii.

Keistimewaan Goura cristata terletak pada mahkota renda birunya yang paling kompleks. Inilah alasan ia dijuluki “mahkota biru” dan menjadi ikon visual genus Goura.

Konservasi, Ancaman, dan Masa Depan Mambruk

Status konservasi Merpati Mahkota Biru adalah rentan atau vulnerable. Data resmi dari International Union for Conservation of Nature menunjukkan populasinya terus menurun akibat perburuan dan kehilangan habitat.

Merpati Mahkota Biru. Gambar: ChatGPT Image

Ia masuk Apendiks II Convention on International Trade in Endangered Species, artinya perdagangannya harus dikontrol ketat. Di Indonesia, ia dilindungi melalui Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 dan PP No. 7 Tahun 1999.

Ancaman utamanya adalah perburuan untuk bulu, daging, dan perdagangan ilegal. Selain itu, deforestasi, perkebunan sawit, dan fragmentasi hutan mempersempit habitat alaminya. Hutan yang terpecah membuat populasi terisolasi dan rentan.

Bryan dan Shearman dalam studi degradasi hutan Papua Nugini tahun 2015 menunjukkan laju kerusakan hutan meningkat signifikan. Pola ini juga terjadi di Papua Indonesia dengan tren serupa.

Merpati Mahkota Biru bukan hanya spesies cantik, tetapi indikator kesehatan ekosistem. Hilangnya mambruk berarti rusaknya struktur ekologis hutan dataran rendah Papua.

Keistimewaannya sebagai burung monogami seumur hidup memberi pesan simbolik yang kuat. Ia bukan hanya satwa, tetapi narasi hidup tentang kesetiaan, keseimbangan, dan keterikatan dengan alam.

Konservasi mambruk bukan sekadar menyelamatkan satu spesies. Ini tentang menjaga hutan, budaya, dan masa depan biodiversitas Papua. Jika mambruk punah, yang hilang bukan hanya burung, tetapi satu bab peradaban ekologis.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.