kicak jajanan tradisional yang disajikan saat bulan ramadan saja - News | Good News From Indonesia 2026

Kicak, Jajanan Tradisional yang Disajikan saat Bulan Ramadan Saja

Kicak, Jajanan Tradisional yang Disajikan saat Bulan Ramadan Saja
images info

Kicak, Jajanan Tradisional yang Disajikan saat Bulan Ramadan Saja


Di manapun Kawan GNFI berada, pastinya Kawan akan menjumpai sentra makanan atau minuman di dekat rumah. Berbagai lapak pedagang yang menjual beraneka ragam jajanan, apalagi ketika masa Bulan Ramadan datang, mestinya itu akan diserbu para pembeli sembari mempersiapkan diri menunggu waktunya berbuka puasa.

Sebagaimana dilansir dari kapanlagi.com (7/10/2025), jajanan pasar secara umum merujuk pada berbagai sebutan untuk kudapan tradisional yang diperjualbelikan di pasar tradisional yang tersebar di seluruh Indonesia.

Karakteristik jajanan ini cenderung unik dan berbeda-beda, tergantung dari mana asal jajanan terkait, komposisinya, maknanya bagi masyarakat, acuan berdasarkan sosial-budaya setempat, hingga filosofi terciptanya jajanan tersebut.

Disebutkan terdapat lebih dari 150-an jenis makanan tradisional, baik dalam bentuk jajanan pasar (kudapan), masakan, lauk-pauk, serta minuman yang telah berkembang pada masing-masing daerah, mencerminkan identitas daerah setempat secara tidak langsung.

Menyambung pernyataan tadi, tulisan kali ini akan memperkenalkan satu jajanan lokal yang kini mulai naik daun. Jajanan ini bernama kicak. Memangnya, kicak itu seperti apa sih?

Sajian Khas Yogyakarta

Dikutip dari idntimes.com (8/5/2019), bisa dibilang kicak adalah jajanan manis khas Yogyakarta yang cukup unik, dikarenakan kudapan ini hanya muncul selama Bulan Ramadan lalu tiba-tiba menghilang begitu saja jejaknya ketika memasuki momen Idul Fitri.

Aktor penting yang memelopori produksi jajanan satu ini adalah mbah Wono. Beliau merupakan warga asli Kampung Kauman yang sudah lama menggeluti profesi sebagai penjual makanan.

Yang menarik, sejak kicak dibuat pada tahun 1950-an, tidak ada yang mengetahui bahkan mbah Wono sendiri lupa alasan pasti kenapa kue buatannya dinamai ‘kicak’. Konon kabarnya, mayoritas sumber mengemukakan jajanan tersebut dijuluki ‘kicak’ lantaran warga Kauman memiliki kebiasaan untuk menyebut jaddah, jajanan dari tepung ketan dengan sebutan ‘kicak’.

Punya Karakteristik antara Perpaduan Dodol dan Putu

Pada umumnya, kicak terbuat dari beras ketan yang ditumbuk kemudian dicampur dengan gula pasir, parutan kelapa, potongan nangka dan daun pandan serta vanili (sesuai selera) agar aromanya lebih harum.

Adonan kicak selanjutnya dibungkus dengan daun pisang dan dikukus menggunakan kayu bakar. Perpaduan rasa manis-legit dari ketan dan nangka serta gurihnya parutan kelapa menjadikan cita rasa kicak dinilai spesial dan cocok sebagai takjil.

Sebagian pihak akan mengira bahwa basis komposisi dari kicak sebenarnya tidak jauh beda dengan dodol atau kue putu, yang juga memiliki cita rasa manis dan gurih sehingga mampu mengenyangkan perut.

“Salah satu menu buka puasa yang favorit adalah kicak yang terbuat dari ketan yang ditumbuk halus. Kicak ini bisa ditemukan di Kauman dan itu hanya ditemukan pas Bulan Ramadan,” terang Sri Wahyuni Dewi, Ketua Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (APJI) DPD DI Yogyakarta dalam keterangan resmi pada travel.kompas.com (29/4/2020).

Oleh sebab kicak ini tergolong mudah pembuatannya serta banyak peminat, warga sekitar mulai menduplikasi produksi kicak dengan sedikit modifikasi varian rasa dan dijual saat Ramadan. Akhirnya, kicak pun dikenal sebagai penganan khas Ramadan dan hanya bisa dijumpai di Pasar Sore Kauman.

Kenapa Bisa Dijual saat Bulan Ramadan saja?

“Kalau mau beli kicak, ya hanya saat Ramadan saja. Itu pun biasanya harus lebih awal belinya karena selalu diburu oleh pembeli,” ungkap mbah Wono, seorang wanita sepuh berusia sekitar 80 tahun yang menjadi pembuat awal kue kicak, dikutip dari nationalgeographic.grid.id (3/8/2012).

“Lakunya hanya saat Ramadan, kalau hari biasa tidak ada yang membeli. Karena itu, saya selalu menjualnya saat Ramadan,” ungkapnya lagi.

Dari sini, bisa disaksikan bahwa kicak sudah diidentikkan sebagai menu takjil yang bernilai khusus sekaligus favorit bagi siapa saja yang menaruh hati padanya. Saat ini, mbah Wono tidak lagi memproduksi kicak, dan ilmu pembuatannya telah diwariskan kepada anak-anaknya.

Adapun Walidah yang selama ini membantu mbah Wono dalam pemroduksian kicak mengatakan setiap harinya ia menyiapkan kicak hingga 300 bungkus. Setidaknya, diperlukan sekitar 13 kilogram ketan Jaddah, 3 kilogram gula, 10 butir kelapa muda, 0,5 kilogram nangka, daun pandan, dan vanili secukupnya. Proses pemasakan hingga matang dimulai pada pukul 11:00 sampai 13:00 WIB.

Lebih lanjut, kicak buatan mbah Wono ini dipatok dengan kisaran harga sekitar Rp2.000,00 hingga Rp5.000,00. Salah satu pembeli, Andre, menyebut bahwa kicak ‘khas’ mbah Wono dinilai berbeda dengan kicak lainnya. “Kicak mbah Wono lebih manis dan sesuai dengan lidah orang Jawa. Campuran adonannya sangat pas sehingga sangat nikmat ketika disantap,” jelasnya.

Salah satu pedagang di Pasar Sore Kauman bernama Aminah juga mengaku selalu mengambil kicak dari mbah Wono untuk dijual kembali di lapaknya. “Meski banyak pesaing, banyak masyarakat mencari kicak mbah Wono. Biasanya kami para pedagang memasang tulisan kicak made in mbah Wono,” ujarnya.

Kalau begitu, yuk, jangan lupa beli kicaknya, ya, Kawan!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.