Menjelang magrib di bulan Ramadan, kolak menjadi salah satu takjil yang paling banyak dicari. Hidangan ini telah lama menjadi bagian dari budaya berbuka puasa di Indonesia.
Lebih dari sekadar tradisi, kolak memiliki kandungan gizi yang relevan dengan kebutuhan tubuh setelah seharian berpuasa. Dengan porsi yang tepat, kolak dapat menjadi takjil yang lezat sekaligus bermanfaat bagi kesehatan.
Mengapa Kolak Cocok Dikonsumsi saat Berbuka Puasa?
Setelah berpuasa selama lebih dari 12 jam, kadar gula darah dalam tubuh cenderung menurun. Kondisi ini membuat tubuh terasa lemas, kurang fokus, dan energi berkurang.
Saat berbuka, tubuh membutuhkan asupan yang dapat dengan cepat mengembalikan energi tanpa membebani sistem pencernaan.
Dalam konteks ini, kolak memiliki kandungan yang bermanfaat bagi tubuh untuk memenuhi dan mengembalikan kebutuhan energi setelah berpuasa seharian.
Berbuka dengan rasa manis dianjurkan sebagai cara yang baik untuk mengembalikan energi secara bertahap. Kolak menjadi pilihan yang relevan karena memadukan rasa manis alami dengan bahan tradisional.
Melansir dari Kemenkes RI melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, masyarakat dianjurkan untuk menghindari konsumsi makanan berat dalam jumlah berlebihan saat berbuka karena dapat memicu gangguan pencernaan dan membuat tubuh terasa cepat lelah.
Oleh karena itu, mengawali berbuka dengan takjil ringan seperti kolak dalam porsi wajar dapat membantu tubuh beradaptasi sebelum menyantap hidangan utama.
Kandungan Gizi Kolak dan Manfaatnya
Kolak umumnya terdiri dari pisang, gula aren, santan, serta tambahan seperti kolang-kaling. Kombinasi ini memberikan manfaat berikut:
1. Pisang: Sumber Karbohidrat dan Serat
Pisang mengandung karbohidrat yang membantu mengembalikan energi setelah berpuasa. Karbohidrat ini diubah menjadi glikogen, yaitu cadangan energi di otot dan hati yang mendukung aktivitas malam seperti salat tarawih.
Kandungan seratnya juga membantu mencegah sembelit akibat perubahan pola makan selama Ramadan. Selain itu, pisang tergolong rendah asam sehingga relatif aman bagi lambung saat dikonsumsi setelah perut kosong.
2. Kolang-Kaling: Serat, Mineral, dan Hidrasi
Kolang-kaling kaya serat yang membantu melancarkan pencernaan. Kandungan karbohidratnya turut mendukung pemulihan stamina, sementara kadar airnya membantu proses rehidrasi saat berbuka. Mineral seperti zat besi, kalsium, dan kalium di dalamnya juga berperan dalam mendukung metabolisme tubuh.
3. Gula Aren: Energi Cepat Serap
Sebagai pemanis alami, gula aren mengandung karbohidrat yang dicerna relatif cepat sehingga membantu mengurangi rasa lelah setelah berpuasa.
Gula aren juga mengandung inulin, serat alami yang mendukung kesehatan usus dan penyerapan mineral. Meski demikian, konsumsinya tetap perlu dibatasi agar tidak berlebihan.
4. Santan: Lemak Nabati dan Kalori
Santan memberikan tambahan kalori dan lemak nabati yang membantu meningkatkan energi serta memberi rasa kenyang lebih lama. Namun, karena kandungan kalorinya cukup tinggi, santan sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar untuk menghindari risiko kenaikan berat badan.
Konsumsi Kolak Secara Bijak
Meski bermanfaat, kolak mengandung gula dan kalori yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, terutama setiap hari dalam porsi besar, kolak berisiko meningkatkan berat badan dan dalam jangka panjang dapat memicu obesitas hingga diabetes.
Kolak tetap dapat dinikmati setiap hari selama porsinya kecil dan tetap memperhatikan asupan gula serta kalori harian. Kuncinya adalah mengontrol porsi agar manfaat energinya tetap dirasakan tanpa menimbulkan risiko kesehatan.
Dengan konsumsi yang seimbang, kolak tidak hanya menjadi simbol Ramadan, tetapi juga dapat membantu memenuhi kebutuhan energi dan menjaga kondisi tubuh tetap bugar selama menjalankan ibadah puasa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


