Di lepas pantai utara Jawa Timur, ada sebuah pulau dengan identitas unik. Adalah Pulau Bawean, pulau yang disebut sebagai Pulau Putri dan memiliki suku dengan populasi paling kecil di Jawa Timur.
Secara administratif, pulau ini masuk dalam wilayah Kabupaten Gresik. Luas Pulau Bawean kurang lebih 197,42 km2 dan memiliki dua kecamatan.
Menariknya, sebagian wilayah pulau ini adalah kawasan konservasi, di mana ada suaka margasatwa yang diperuntukkan sebagai wilayah konservasi flora dan fauna endemik Bawean.
Kelompok Etnis Terkecil di Jawa Timur
Pulau Bawean mayoritas dihuni oleh suku Bawean yang merupakan kelompok etnis terkecil di Jawa Timur. Penduduknya kurang lebih hanya sekitar 107 ribu jiwa.
Mayoritas penduduknya beragama Islam. Konon, orang Bawean dikatakan merupakan hasil dari percampuran antara suku Madura, Mleyu, Jawa, Banjar, Bugis, sampai Makassar.
Disadur dari sebuah tulisan di situs syakal.iainkediri.ac.id, Pulau Bawean awalnya bernama Pulau Mejeti atau Madji. Nama ini diambil dari bahasa Arab yang berarti logam, karena bentuk pulaunya yang dianggap mirip dengan uang logam yang bulat.
Namun, di masa Kerajaan Majapahit, ada ambisi besar untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara. Untuk mewujudkan hal itu, banyak sekali armada laut yang dikirim ke penjuru Nusantara untuk mewujudkan hal itu.
Sayangnya, nasib malang menimpa mereka. Banyak di antara pelaut itu yang terjebak badai di Laut Jawa. Akan tetapi, ada di antara mereka yang terdampar di Pulau Mejeti.
Dilanda rasa gembira yang amat besar, ketua pasukan pun memekikkan kata Ba-We-An yang masing-masing berarti sinar, matahari, dan ada. Jika digabung, Bawean berarti ada sinar matahari. Dari sinilah nama Bawean mulai digunakan.
Pulau Bawean Si Pulau Putri
Tahukah Kawan GNFI jika Pulau Bawean dijuluki dengan Pulau Putri? Kira-kira apa sebabnya?
Merangkum dari berbagai sumber, sebutan Pulau Putri ini disebabkan karena banyaknya laki-laki di Pulau Bawean yang memutuskan untuk merantau ke luar pulau hingga luar negeri, sehingga kuantitas penduduk perempuan menjadi lebih banyak.
Laki-laki muda di Bawean memilih untuk merantau karena desakan ekonomi. Uang yang dihasilkan dari pekerjaan yang mereka lakukan sebelum bekerja di luar pulau tidaklah cukup untuk memnuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Hal ini membuat merantau menjadi opsi yang paling realistis.
Namun, ada pula yang menyebutkan jika merantau ke negeri seberang adalah tradisi yang sudah dilakukan sejak lama. Selain itu, bagi beberapa orang, merantau juga menjadi simbol kedewasaan bagi laki-laki Bawean sebelum masuk ke jenjang berikutnya; menikah. Budaya ini kemudian dilestarikan secara turun-temurun.
Lokasi merantau lelaki Bawean bervariasi. Ada yang ke Kalimantan, Jawa, hingga Sulawesi. Namun, ada pula yang merantau di Malaysia, Singapura, hingga Vietnam. Bahkan, jejak-jejak peninggalan orang Bawean juga masih ada yang bisa ditemukan di beberaoa tempat, salah satunya masjid Al Rahim di Vietnam.
Banyaknya laki-laki muda yang merantau ini yang menyisakan populasi yang menetap di Pulau Bawean diisi maoritas perempuan. Tak heran jika julukan Pulau Putri melekat kuat.
Pulau yang Dilindungi
Ada hal menarik lainnya di Pulau Bawean. Ada bagian pula ini yang ternyata dilindungi dan berstatus sebagai suaka margasatwa. Penetapannya bersadarkan SK: Mentan No. 762/Kpts/Um/12/1979.
Melalui situs Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur, suaka margasatwa Pulau Bawean memiliki luas sekitar 3.831,6 Ha. Ada banyak flora dan fauna unik, termasuk satwa endemik rusa bawean (Axis kuhli).
Luas kawasan konservasi Bawean mencakup krang lebih 38 persen dari total luas pulaunya. Selain suaka margasatwa, ada pula kawasan cagar alam dengan luas kurang lebih 7,25 km2.
Pelestarian di Pulau Bawean menjadi salah satu upaya untuk menjaga keseimbngan ekosistem dan mendukung kelestarian flora dan fauna di sana.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


