Pulau Tomia adalah salah satu gugusan pulau yang ada di daerah Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara yang mengisahkan tentang legenda asal usul Pulau Tomia.
Bagaimana kisah lengkap dari legenda asal usul Pulau Tomia tersebut?
Legenda Asal Usul Pulau Tomia, Cerita Rakyat dari Wakatobi Sulawesi Tenggara
Dikutip dari buku Cerita Rakyat Wakatobi (Bahasa Wakatobi dan Bahasa Indonesia), pada zaman dahulu daerah Mandati Tonga dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Ratu Wa Surubentengi. Dirinya dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana dalam memimpin wilayah tersebut.
Suatu ketika, Ratu Wa Surubentengi meninggal dunia dan menemui akhir hayatnya. Malapetaka muncul setelah meninggalnya sang ratu di daerah Mandati Tonga.
Terjadi krisis kepemimpinan yang ada di daerah tersebut. Tidak ada sosok penerus yang bisa langsung menggantikan Ratu Wa Surubentengi ketika dirinya meninggal dunia.
Semua kelompok yang berpengaruh di sana saling berseteru antara satu sama lain. Setiap kelompok saling menjadikan tokohnya masing-masing untuk menjadi pemimpin Mandati Tonga selanjutnya.
Hal ini membuat kerusuhan terjadi di mana-mana. Daerah Mandati Tonga yang sebelumnya aman dan tentram berubah drastis.
Situasi ini membuat Kaapi risau. Kaapi adalah penasihat negeri Mandati Tonga ketika Ratu Wa Surubentengi masih berkuasa dulunya.
Kini, nasihat yang diberikan oleh Kaapi tidak lagi didengar oleh kelompok yang berpengaruh di Mandati Tonga. Hal ini membuat Kaapi berpikir untuk meninggalkan daerah tersebut.
Setelah memikirkan semuanya dengan matang, Kaapi membulatkan tekad untuk keluar dari sana. Akhirnya tepat pada hari yang ditentukan, Kaapi mempersiapkan perahu untuk berlayar pergi dari Mandati Tonga.
Sebelum pergi, Kaapi meninggalkan sebuah pesan bagi masyarakat yang masih menghormatinya. Dia berpesan jika ada masyarakat yang masih mencintainya, maka mereka bisa menyusulnya kelak.
Kaapi berkata jika masyarakat yang mengikutinya bisa pergi ke arah tenggara pada masa bulan purnama berikutnya. Nantinya mereka bisa melihat asap yang mengepul di udara sebagai tanda lokasi tempat Kaapi berada.
Setelah menitipkan pesan tersebut, Kaapi akhirnya pergi berlayar. Dia menuju arah yang sudah disampaikan sebelumnya.
Selepas kepergian Kaapi, pertikaian yang terjadi di Mandati Tonga tetap tak kunjung usai. Berbagai pertarungan masih saja terjadi untuk memperebutkan tampuk kekuasaan.
Hal ini membuat masyarakat yang ada di sana mulai khawatir. Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Mandati Tonga dan mengikuti pesan yang disampaikan oleh Kaapi sebelumnya.
Semua masyarakat yang menghormati Kaapi akhirnya memulai perjalanan bersama. Sesuai dengan pesan Kaapi, mereka mengarahkan perahu ke arah tenggara.
Setelah berlayar cukup lama, sampailah rombongan ini di Pulau Kaledupa. Ketika tiba di sana, mereka mencoba mengarahkan pandangan ke arah tenggara untuk mencari kepulan asap seperti pesan Kaapi.
Pada awalnya mereka tidak berhasil menemukan kepulan asap tersebut. Namun rombongan ini tetap dengan sabar meneruskan perjalanan.
Begitu tiba di Pantai Lentea Kiwolo, salah seorang masyarakat berhasil melihat kepulan asap dari sebuah pulau yang ada jauh di arah tenggara. Dia pun langsung memberitahu hal ini ke semua orang yang ada di sana.
Semua masyarakat kemudian langsung mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjukkan oleh orang tersebut. Mereka semua kemudian merasa senang dan berteriak, "Atoomia, atoomia, te kaapy ilihanto."
Perilaku ini ternyata dilihat oleh masyarakat setempat yang ada di Kaledupa. Kelak pulau yang dituju tersebut kemudian diberi nama Pulau Tomia.
Nama ini berdasarkan teriakan yang didengarkan begitu masyarakat pengikut Kaapi berhasil menemukan kepulan asap yang dia pesankan dulunya. Begitulah kisah dari legenda asal usul Pulau Tomia, salah satu cerita rakyat Sulawesi Tenggara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


