Indonesia kembali menyampaikan pentingnya perlucutan senjata di dunia. Pembatasan senjata ini penting untuk menegakkan keamanan dan perdamaian dunia.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam High Level Segment Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Swiss, Senin (23/2/2026) menyampaikan keprihatinannya pada kemunduran agenda perlucutan senjata di dunia. Ditambah lagi, perjanjian New START yang baru berakhir pada awal Februari 2026 lalu turut memunculkan kekhawatiran meletupnya konflik yang lebih besar dari dua negara pemilik senjata nuklir terbesar di dunia.
Sebagai informasi New START (Strategic Arms Reduction Treaty) adalah perjanjian perlucutan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia. Melansir dari The International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN), saat ini Rusia diperkirakan memiliki sekitar 5.459 hulu ledak nuklir. Sementara itu, Amerika Serikat sekitar 5.177 hulu ledak nuklir.
Perjanjian yang ditandatangani pada 2010 ini bertujuan untuk membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang bisa dikerahkan dua negara. Perjanjian ini juga bertujuan untuk mencegah perlombaan senjata nuklir tak terkendali antara dua negara raksasa tersebut.
New START menjadi pilar utama dalam menekan risiko konflik nuklir karena 80 persen nuklir dunia dikuasai oleh Amerika Serikat dan Rusia. Namun, perjanjian ini resmi berakhir tanpa perpanjangan per 5 Februari 2026. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya eskalasi bersenjata di masa depan.
Indonesia Desak Perlucutan Senjata Nuklir di Dunia
Melihat situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu, Indonesia mengkhawatirkan dampak berakhirnya perjanjian New START yang menyebabkan tidak adanya kerangka pengendalian yang mengikat antara dua pemilik senjata nuklir terbesar di dunia.
“Di tengah situasi ini, risiko salah perhitungan semakin meningkat,” kata Menlu Sugiono dalam keterangan resminya.
Oleh karena itu, Sugiono menekankan pentingnya mengatasi ketidakseimbangan antara kewajiban non-proliferasi dan lambatnya kemajuan perlucutan senjata. Padahal, menurutnya saat ini sudah semakin banyak negara yang pro pada perlucutan senjata nuklir.
Sugiono mendorong terciptanya keamanan dunia lewat dialog. Ia juga menyerukan urgensi penguatan komitmen politik dan kemajuan substantif agar Konferensi Perlucutan Senjata bisa kembali menjadi forum kredibel untuk berunding.
“Perlucutan senjata bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga keharusan moral demi masa depan dunia yang lebih aman dan damai,” jelasnya.
Pentingnya Perluncutan Senjata
Melansir dari situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perlucutan senjata penting untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Perlucutan senjata merupakan bagian untuk mengurangi dan menghapus berbagai jenis senjata; mulai dari senjata kecil hingga pemusnah massal, demi melindungi masyarakat sipil.
Lebih lanjut, saat ini masih ada lebih dari 12.000 hulu ledak yang masih aktif. Banyak negara yang meningkatkan modernisasi persenjataan dan nuklir mereka.
Senjata-senjata seperti nuklir, senjata kimia, dan senjata biologi dianggap sebagai ancaman mengerikan bagi kemanusiaan. Oleh karena itu, terdapat perjanjian non-proliferasi dan larangan senjata yang dirancang untuk menghapuskan ancaman ini secara bertahap.
Indonesia sendiri sudah menandatangani perjanjian non-proliferasi nuklir lewat Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) pada 1978 silam. Di sisi lain Indonesia resmi meratifikasi Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons (TPNW) pada Desember 2024 yang menegaskan larangan total senjata nuklir.
Nuklir yang direncanakan dibangun di Indonesia pun masuk dalam kategori nuklir damai yang diperuntukkan pada tujuan energi, kesehatan, dan pertanian.
Perlucutan senjata dapat melindungi masyarakat sipil secara keseluruhan. Dengan mengurangi jumlah senjata dan membatasi penyebarannya, konflik, kejahatan, dan risiko kekerasan bersenjata kepada anak dan perempuan bisa semakin diminimalkan.
Di sisi lain, perlucutan senjata juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, di mana sumber daya militer yang berbahaya dapat dialihkan ke sektor sosial atau ekonomi yang lebih produktif.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


