pura ulun danu beratan bali menyaksikan simbol harmonisasi hindu buddha - News | Good News From Indonesia 2026

Pura Ulun Danu Beratan Bali: Menyaksikan Simbol Harmonisasi Hindu-Buddha

Pura Ulun Danu Beratan Bali: Menyaksikan Simbol Harmonisasi Hindu-Buddha
images info

Pura Ulun Danu Beratan Bali: Menyaksikan Simbol Harmonisasi Hindu-Buddha


Pagi itu di Bedugul datang pelan, diselimuti kabut tipis yang turun perlahan dari perbukitan. Di tepian Danau Beratan, siluet Pura Ulun Danu Beratan tampak seperti lukisan hidup. Pura itu seolah mengapung, meski sebenarnya berdiri di daratan yang menjorok ke danau.

Efek visual ini menciptakan ilusi spiritual yang kuat, membuat siapa pun terdiam. Di titik ini, alam, budaya, dan iman bertemu dalam satu lanskap simbolik yang tenang dan reflektif.

Keunikan utama pura ini bukan hanya pada arsitekturnya, tetapi pada makna simboliknya. Kehadiran stupa Buddha di luar area utama pura menjadi tanda harmonisasi Hindu-Buddha yang jarang dibahas. Stupa itu tidak berdiri sebagai simbol dominasi, tetapi sebagai simbol koeksistensi.

Ini sejalan dengan konsep toleransi religius Bali yang tumbuh secara historis. Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures (1973) menyebut agama di Bali sebagai sistem makna yang hidup dalam praktik sosial, bukan sekadar ritual formal.

Secara historis, pura ini dibangun pada 1634 Masehi oleh I Gusti Agung Putu dari Kerajaan Mengwi. Sumber ini tercatat dalam Lontar Babad Mengwi yang menjadi rujukan utama sejarah lokal.

Pura ini didedikasikan untuk Dewi Danu, dewi air, danau, dan sungai, yang dipercaya sebagai sumber kesuburan. Di sini, spiritualitas tidak pernah terpisah dari ekologi. Air bukan sekadar sumber daya, tetapi entitas sakral yang harus dijaga bersama.

Makna ekologis ini terwujud nyata melalui sistem subak. UNESCO dalam dokumen Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System (2012) menyebut subak sebagai sistem irigasi religius yang memadukan teknologi, kepercayaan, dan komunitas.

Pura Ulun Danu Beratan berfungsi sebagai pusat spiritual subak kawasan Bedugul. Ritual air yang dilakukan di sini diyakini berdampak langsung pada keberhasilan panen dan stabilitas pangan masyarakat sekitar.

Meru tumpang sebelas yang berdiri di tengah danau menjadi ikon visual sekaligus simbol metafisik. Ia melambangkan tingkat kesucian tertinggi dalam kosmologi Hindu Bali. Meru ini didedikasikan untuk Siwa dan Parwati, simbol keseimbangan energi maskulin dan feminin.

Mircea Eliade dalam The Sacred and the Profane (1957) menjelaskan bahwa bangunan suci selalu menjadi poros antara dunia manusia dan dunia ilahi. Di Ulun Danu Beratan, poros itu berdiri di atas air, simbol kehidupan itu sendiri.

Namun kekuatan simbolik pura ini tidak berhenti pada Hindu saja. Stupa Buddha yang menghadap selatan memperlihatkan model pluralisme spiritual yang matang. Ini bukan toleransi simbolik, tetapi toleransi struktural.

Dalam banyak tempat, agama berdiri terpisah secara ruang. Di sini, mereka berdampingan secara sadar. Ini mengingatkan pada konsep “living pluralism” yang dijelaskan Diana Eck dalam A New Religious America (2001), bahwa harmoni sejati lahir dari ruang bersama, bukan sekadar wacana.

Pura Ulun Danu Beratan Bali. Foto: Fabian S.R.

Secara geografis, Bedugul berada di ketinggian lebih dari 1.200 meter di atas permukaan laut. Mikroklimatnya menciptakan kabut pagi yang khas. Fenomena ini memberi pengalaman visual yang berbeda setiap hari. Lanskap menjadi dinamis, tidak pernah sama. Pura tampil sebagai ruang spiritual yang hidup, bukan monumen mati. Di sinilah estetika bertemu dengan makna, dan pariwisata bertemu dengan kontemplasi.

Status pura ini sebagai ikon nasional diperkuat oleh kehadirannya di uang pecahan Rp50.000. Simbol ini bukan pilihan acak. Negara memilih citra yang merepresentasikan harmoni, spiritualitas, dan keindahan.

Ini menjadikan Pura Ulun Danu Beratan bukan hanya milik Bali, tetapi milik imajinasi kolektif Indonesia. Identitas visual ini memperluas maknanya dari ruang lokal menjadi simbol nasional.

Dalam konteks pariwisata, pura ini sering diposisikan sebagai objek foto. Tetapi reduksi makna ke estetika visual adalah bentuk simplifikasi. Pariwisata tanpa pemahaman hanya melahirkan konsumsi simbol, bukan pemaknaan.

John Urry dalam The Tourist Gaze (1990) mengingatkan bahwa pariwisata modern cenderung mengubah ruang sakral menjadi komoditas visual. Di sinilah tantangan Ulun Danu Beratan hari ini.

Namun justru di titik itu, pura ini tetap bertahan sebagai ruang spiritual aktif. Upacara piodalan, melasti, dan ritual air terus berjalan. Masyarakat lokal masih menjadikannya pusat iman, bukan sekadar destinasi. Ini menunjukkan bahwa modernitas dan tradisi tidak selalu harus saling meniadakan. Mereka bisa berdampingan, jika dikelola dengan kesadaran budaya.

Harmonisasi Hindu-Buddha di Ulun Danu Beratan bukan narasi romantik, tetapi realitas sosial yang terlembaga. Ia hadir dalam ruang, ritual, dan struktur bangunan. Ia hidup dalam praktik sehari-hari masyarakat.

Ini adalah model toleransi yang tidak berisik, tidak deklaratif, tetapi konsisten. Dalam dunia yang penuh polarisasi identitas, model seperti ini menjadi sangat relevan.

Pura Ulun Danu Beratan bukan sekadar pura di atas danau. Ia adalah teks budaya yang bisa dibaca dari banyak lapisan. Ia adalah simbol ekologi, spiritualitas, toleransi, dan identitas. Ia mengajarkan bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kesediaan hidup berdampingan. Di kabut pagi Bedugul, pesan itu terasa hening, tetapi kuat.

#MakinTahuBali

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.