Garangan jawa atau Herpestesjavanicus merupakan mamalia kecil berbulu cokelat yang berjalan dengan empat kaki dan aktif di permukaan tanah. Satwa ini termasuk dalam famili Herpestidae dan dikenal sebagai karnivora kecil yang tangkas.
Di Indonesia, persebarannya meliputi seluruh Pulau Jawa serta bagian utara Pulau Sumatera. Garangan dapat hidup di berbagai tipe habitat, mulai dari hutan, perkebunan, lahan pertanian, hingga kawasan permukiman.
Kemampuannya beradaptasi membuat spesies ini masih cukup mudah dijumpai, meskipun sebagian besar hutan di Jawa telah mengalami alih fungsi menjadi area pertanian maupun pemukiman.
Hidup di Kebun dan Semak-semak
Habitat garangan semakin terdesak akibat perubahan tata guna lahan, terutama pembangunan kawasan perumahan dan infrastruktur. Namun, spesies ini mampu bertahan karena tidak bergantung pada satu jenis lingkungan tertentu.
Keberadaan semak-semak, kebun, atau area dengan ketersediaan mangsa yang cukup sudah dapat mendukung populasinya. Faktor utama yang memengaruhi keberadaan garangan adalah ketersediaan makanan. Selama sumber pakan tersedia, garangan mampu menyesuaikan diri bahkan di lanskap yang telah dimodifikasi manusia.
Penyeimbang Ekosistem
Garangan jawa tergolong mesopredator, yaitu predator tingkat menengah dalam rantai makanan. Jenis makanannya sangat beragam, meliputi serangga, moluska seperti siput dan bekicot, amfibi seperti katak, reptil seperti kadal dan ular, ikan, burung, telur, hingga hewan pengerat seperti tikus.
Fleksibilitas ini membuatnya tidak menjadi hewan pemilih. Sebagai anggota Herpestidae, garangan juga dikenal mampu memangsa ular berbisa dengan teknik menyerang bagian belakang kepala sebelum membunuhnya.
Peran ekologis garangan cukup penting dalam menjaga keseimbangan populasi mangsa, terutama tikus yang kerap menjadi hama pertanian. Dalam konteks ini, garangan dapat berfungsi sebagai agen pengendali hayati.
Di beberapa wilayah di luar Indonesia, seperti Fiji, Amami-Oshima, dan Puerto Rico, spesies ini pernah diintroduksi untuk mengendalikan populasi tikus di perkebunan. Di lahan pertanian dan sawah, keberadaan garangan dapat membantu mengurangi kerusakan hasil panen akibat serangan hama pengerat.
Garangan Perlu Dilestarikan
Di kawasan permukiman yang berbatasan dengan kebun atau semak, garangan terkadang memangsa ayam peliharaan warga. Kondisi ini menimbulkan konflik sehingga tidak jarang hewan ini diburu atau dibunuh.
Padahal, selain berpotensi merugikan peternak kecil, garangan juga memberikan manfaat sebagai predator alami tikus. Pengelolaan konflik satwa-manusia menjadi penting agar keberadaannya tetap terjaga tanpa merugikan masyarakat.
Berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature, Herpestes javanicus berstatus Least Concern (LC) atau Risiko Rendah. Artinya, secara global populasinya masih dianggap stabil dan belum menghadapi ancaman kepunahan serius.
Di Indonesia, garangan juga bukan termasuk satwa yang dilindungi. Meski demikian, perubahan habitat yang terus berlangsung tetap perlu diperhatikan agar populasi alaminya tidak menurun di masa depan.
Menjaga keberadaan garangan berarti turut menjaga keseimbangan ekosistem, terutama dalam pengendalian populasi hama. Upaya konservasi tidak selalu berarti perlindungan ketat, tetapi juga mencakup pengelolaan habitat dan pengurangan konflik dengan manusia secara proporsional.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


