cut nyak meutia dari perempuan bangsawan hingga komandan perang - News | Good News From Indonesia 2026

Cut Nyak Meutia: Dari Perempuan Bangsawan hingga Komandan Perang

Cut Nyak Meutia: Dari Perempuan Bangsawan hingga Komandan Perang
images info

Cut Nyak Meutia: Dari Perempuan Bangsawan hingga Komandan Perang


Di antara deretan pahlawan perempuan Indonesia, nama Cut Nyak Meutia menempati posisi istimewa. Sosoknya bukan sekadar simbol keberanian, tetapi jua representasi dari keteguhan hati seorang perempuan yang memilih jalan perjuangan dibanding kenyamanan hidup.

Dikutip dari laman Zenius.net, Cut Nyak Meutia lahir sekitar tahun 1870 di Aceh Utara. Meutia tumbuh di tengah lingkungan bangsawan religius yang menjunjung tinggi nilai agama dan kehormatan. Ayahnya, Teuku Ben Daud, merupakan seorang uleebalang Pirak, sedangkan ibunya bernama Cut Jah, seorang perempuan salehah dari keluarga terpandang.

Sejak kecil, Meutia telah mendapatkan pendidikan agama dari para ulama yang diundang ke rumah keluarganya. Pelajaran mengaji dan nilai-nilai Islam membentuk karakter kuat dalam dirinya.

Prinsip bahwa hidup harus dijalani untuk membela agama dan tanah air melekat dalam setiap langkahnya. Keyakinan tersebut membuatnya berani menghadapi penderitaan bahkan kematian, sebab bagi Meutia, gugur di medan perang adalah jalan menuju syahid.

Dari Istri Bangsawan Menjadi Pejuang

Sebagai anak perempuan dari keluarga terhormat, Cut Nyak Meutia tumbuh menjadi gadis cerdas dan berparas ayu. Banyak bangsawan Aceh yang meminangnya, hingga akhirnya ia menikah dengan Teuku Syamsarif, seorang uleebalang Keureutoe, pada tahun 1890.

Pernikahan ini awalnya berlangsung bahagia, namun perlahan berubah menjadi ujian besar. Syamsarif ternyata memilih bekerja sama dengan Belanda demi mempertahankan kekuasaan dan kemewahan.

Bagi Meutia, sikap itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap rakyat dan tanah air. Ia berusaha menasihati suaminya agar meninggalkan Belanda dan kembali memperjuangkan kemerdekaan Aceh.

Namun segala usahanya sia-sia. Ketika Syamsarif justru menerima jabatan tinggi dari Belanda, Meutia memutuskan untuk pergi. Ia memilih meninggalkan kehidupan istana dan kembali ke rumah ayahnya, menolak hidup di bawah bayang penjajahan. Keputusan ini menandai awal perjalanan seorang perempuan bangsawan yang berubah menjadi pejuang rakyat.

Tidak lama setelah bercerai, Meutia menikah dengan Teuku Chik Tunong, adik dari suami pertamanya sekaligus pejuang tangguh yang setia melawan Belanda. Pernikahan ini mempertemukan dua jiwa pemberani yang sama-sama mencintai tanah air. Bersama suaminya, Meutia terjun langsung ke medan perang dan menjadi bagian dari pasukan gerilya Aceh.

Keduanya dikenal sebagai pasangan pejuang yang cerdas dalam menyusun strategi perang. Salah satu taktik terkenal mereka adalah menyamar melalui kegiatan kenduri untuk mengecoh pasukan Belanda.

Di balik pesta pura-pura itu, pasukan Aceh mempersiapkan serangan mendadak. Berkat kecerdikan strategi ini, beberapa benteng Belanda berhasil direbut, dan banyak senjata musuh jatuh ke tangan pasukan Aceh.

Dikutip dari laman kemendikdasmen.go.id, serangkaian kemenangan besar dicapai. Namun keberhasilan itu membuat Belanda semakin murka. Gubernur Van Heutsz mengirim pasukan besar-besaran untuk menghancurkan perlawanan rakyat Aceh.

Dalam kondisi genting, Chik Tunong tetap memimpin perjuangan hingga akhirnya tertangkap pada tahun 1905. Ia dihukum mati oleh Belanda dengan cara ditembak, tapi sebelum ajal menjemput, ia menitipkan tiga pesan kepada istrinya: melanjutkan perjuangan, mendidik anaknya untuk membenci penjajah, dan menikah dengan Pang Nanggroe, seorang pejuang kepercayaannya.

Setelah kepergian Chik Tunong, Meutia menepati amanah tersebut. Ia menikah dengan Pang Nanggroe, pemimpin pasukan gerilya yang terkenal cerdik dan pantang menyerah. Bersama suami ketiganya ini, Meutia kembali mengatur strategi perlawanan.

Serangan-serangan mereka terhadap pos Belanda semakin intens. Bahkan, pada tahun 1907, pasukan yang dipimpin oleh Pang Nanggroe berhasil menewaskan banyak tentara Belanda dan merampas puluhan pucuk senjata.

Salah satu taktik paling legendaris mereka terjadi di Kampung Matang Raya. Dalam strategi itu, Meutia dan pasukannya menyebarkan kabar palsu tentang kenduri kemenangan. Begitu pasukan Belanda datang, rumah tempat pesta telah digergaji halus tiangnya.

Saat Belanda naik ke atas rumah, tali penahan rotan diputuskan hingga rumah roboh dan pasukan Belanda tertimbun di bawahnya. Serangan ini membuat Belanda menderita kerugian besar dan memperlihatkan kecerdikan luar biasa dari pasukan Aceh.

Namun perjuangan panjang ini akhirnya mencapai titik sulit. Pada tahun 1910, pasukan Pang Nanggroe semakin terdesak akibat operasi besar-besaran Belanda. Dalam pertempuran di Paya Cicem, Pang Nanggroe gugur setelah tertembak. Sebelum meninggal, ia sempat berpesan kepada anak tiri sekaligus pewaris perjuangan, Teuku Raja Sabi agar melanjutkan perlawanan.

Akhir Perlawanan Sang Srikandi

Kehilangan suami tidak membuat semangat Meutia padam. Bersama sisa pasukan yang setia, ia terus melawan meski persenjataan semakin menipis. Pada tanggal 25 Oktober 1910, pasukan Belanda di bawah pimpinan Sersan Mosselman berhasil menemukan persembunyiannya di Sungai Peutoe. Pertempuran sengit pun pecah.

Dalam situasi terdesak, Meutia tidak memilih menyerah. Ia maju ke garis depan dengan pedang di tangan dan rambut terurai, memberi komando kepada para pejuangnya. Tiga peluru akhirnya menembus tubuhnya—satu di kepala dan dua di badan—mengakhiri hidupnya sebagai syuhada tanah air. Namun keberaniannya abadi dalam sejarah perjuangan bangsa.

Warisan Abadi dari Perempuan Aceh

Pengorbanan Cut Nyak Meutia menjadi bukti nyata bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya diwarnai oleh kaum laki-laki. Keberaniannya menunjukkan bahwa perempuan mampu menjadi pelindung bangsa dan pemimpin perang. Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 1964.

Kini, wajahnya diabadikan pada uang pecahan seribu rupiah sebagai penghormatan atas semangat juangnya. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan, gedung, hingga sekolah, menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak mengenal jenis kelamin.

Kisah hidup Cut Nyak Meutia bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi refleksi abadi tentang makna keberanian, keikhlasan, dan cinta terhadap tanah air. Dari seorang perempuan bangsawan, ia menjelma menjadi simbol kekuatan yang melampaui batas. Keberaniannya menghadapi senjata penjajah dengan rencong di tangan membuktikan bahwa semangat kemerdekaan dapat lahir dari hati yang tulus dan iman yang kuat.

Nama Cut Nyak Meutia akan selalu dikenang sebagai Srikandi Aceh yang tak gentar melawan penjajahan, simbol abadi bahwa perjuangan sejati tidak pernah pudar oleh waktu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.