perjanjian linggarjati upaya pengakukan kedaulatan republik melalui perundingan internasional - News | Good News From Indonesia 2026

Perjanjian Linggarjati: Upaya Pengakukan Kedaulatan Republik Melalui Perundingan Internasional

Perjanjian Linggarjati: Upaya Pengakukan Kedaulatan Republik Melalui Perundingan Internasional
images info

Perjanjian Linggarjati: Upaya Pengakukan Kedaulatan Republik Melalui Perundingan Internasional


Perjanjian Linggarjati merupakan salah satu tonggak penting dalam perjuangan diplomasi Indonesia ketika baru terbentuk

Perjanjian ini menjadi jalan bagi Republik Indonesia untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda melalui jalur perundingan internasional, di tengah ketegangan politik dan konflik bersenjata yang terjadi pasca-Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Latar Belakang

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Indonesia menghadapi tantangan besar dari pihak Belanda yang berusaha mengembalikan kekuasaannya di wilayah Indonesia.

Perlawanan bersenjata dari TNI dan diplomasi luar negeri yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia menjadi dua strategi utama untuk menghadapi agresi tersebut.

Perundingan dengan Belanda menjadi sebuah kebutuhan strategis, karena konflik bersenjata semata tidak menjamin pengakuan internasional terhadap kedaulatan Indonesia.

Dalam konteks ini, Belanda mengalami tekanan dari komunitas internasional, terutama Sekutu, untuk menempuh jalur perundingan.

Keadaan ini membuka kesempatan bagi delegasi Indonesia untuk memperjuangkan pengakuan kedaulatan melalui cara damai. Linggarjati, sebuah desa di Jawa Barat, dipilih sebagai tempat awal pertemuan resmi antara kedua belah pihak.

Proses Perundingan

Perundingan Linggarjati dimulai pada awal November 1946. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta, sementara pihak Belanda diwakili oleh van Mook.

Tujuan utama dari pertemuan ini adalah mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik bersenjata dan membuka jalan bagi pengakuan kedaulatan Indonesia secara resmi.

Dalam perundingan ini, Indonesia menegaskan statusnya sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, sedangkan Belanda mengajukan berbagai tuntutan yang terkait dengan bentuk federasi dan hubungan ekonomi.

Kedua pihak mengalami tarik-menarik yang intens, tetapi fokus utama tetap pada pengakuan kedaulatan Republik Indonesia sebagai negara yang sah secara internasional.

Isi Pokok Perjanjian

Perjanjian Linggarjati disepakati pada 25 Maret 1947. Salah satu isi pokok perjanjian adalah pengakuan de facto Belanda terhadap wilayah Republik Indonesia meliputi Jawa, Sumatra, dan Madura.

Hal ini menjadi langkah penting karena secara formal Belanda mulai menerima eksistensi Republik Indonesia di wilayah tersebut.

Selain itu, perjanjian ini juga mencanangkan pembentukan Uni Indonesia-Belanda sebagai wadah kerjasama politik dan ekonomi.

Meski pengakuan kedaulatan secara penuh belum tercapai, Linggarjati menjadi pijakan awal untuk melanjutkan diplomasi internasional yang lebih luas, termasuk pembentukan jalur hukum dan mekanisme negosiasi di kemudian hari.

Dampak dan Tantangan

Meskipun Perjanjian Linggarjati menunjukkan kemajuan dalam diplomasi, pelaksanaannya tidak berjalan mulus.

Beberapa pihak di Belanda menolak isi perjanjian, yang memicu serangkaian agresi militer ke wilayah Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan diplomasi Indonesia masih menghadapi hambatan nyata dari pihak yang ingin mempertahankan kepentingannya di bekas jajahan.

Namun, dari sisi Indonesia, perjanjian ini memberi pengalaman penting dalam menggunakan jalur perundingan internasional.

Dengan Linggarjati, Indonesia mulai belajar bagaimana menyampaikan tuntutan kedaulatan melalui diplomasi, memanfaatkan tekanan internasional, dan membangun legitimasi politik di mata dunia.

Peran Krusial Perjanjian Linggarjati

Linggarjati menegaskan bahwa pengakuan kedaulatan tidak hanya bisa dicapai melalui perlawanan bersenjata, tetapi juga melalui strategi diplomasi yang cermat.

Walaupen keberhasilannya terbatas, ini membuka jalan bagi perjanjian-perjanjian selanjutnya, seperti Perjanjian Renville dan Konferensi Meja Bundar.

Pengalaman ini juga membentuk fondasi bagi kebijakan luar negeri Indonesia yang menekankan pentingnya negosiasi internasional dan kerjasama multilateral.

Perjanjian Linggarjati menjadi simbol awal pengakuan eksistensi Republik Indonesia muda di panggung dunia.

Dengan menegaskan wilayah yang diakui dan membuka peluang dialog lebih lanjut, perjanjian ini menunjukkan bahwa perjuangan kedaulatan Indonesia berjalan melalui dua jalur: militansi di lapangan dan diplomasi di meja perundingan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Daniel Sumarno lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Daniel Sumarno.

DS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.