Kawan GNFI pernah mendengar soal Pulau Marore? Marore adalah sebuah pulau kecil yang masuk dalam Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.
Pulau Marore masuk dalam kategori pulau terluar di Indonesia. Jaraknya sangat dekat dengan Pulau Balut di Filipina dibandingkan ke ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe di Tahuna. Jika dilihat dari peta, ukuran pulau ini sangat kecil dan memang tampak jauh lebih dekat ke Filipina di sebelah utara.
Jarak Pulau Marore dengan Pulau Balut di Filipina adalah sekitar 40-50 mil laut dan bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam saja dengan kapal motor. Sementara itu, antara Marore ke Tahuna bisa memakan waktu antara 10-13 jam dengan kapal perintis. Bisa dibayangkan betapa lama dan jauhnya, bukan?
Permata Kecil di Ujung Utara Indonesia
Marore adalah satu dari tiga desa di Kecamatan Kepulauan Marore. Dua desa lainnya adalah Kawio dan Matutuang.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kecamatan Kepulauan Marore, luas wilayah Pulau Marore kurang lebih 1,41 km2 saja. Per 2024, jumlah penduduknya hanyalah 688 jiwa.
Lebih lanjut, meskipun pulau kecil dan cukup terpencil, Pulau Marore sudah memiliki akses listrik selama 24 jam penuh sejak 2013. Pasokan listriknya ditopang dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Ada ladang khusus yang ditanami panel-panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat sekitar.
Bahkan, tulisan Esty Ekawati dalam jurnal Masyarakat & Budaya, letak Pulau Marore yang berada di ujung utara kepulauan Indonesia tidak menghambat kemajuan teknoogi informasi dan telekomunikasi di sana. Masyarakat sudah bisa mengakses internet, sehingga banyak dari mereka yang sudah mengetahui perkembangan sosial, ekonomi, dan politik Indonesia.
Lebih lanjut, ada fasilitas dasar yang sudah berdiri di Marore, yakni sekolah dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu, ada pula puskesmas pembantu dan tempat ibadah.
Masyarakatnya banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Selain itu, banyak juga yang berprofesi sebagai petani. Mereka mengelola lahan pertanian dan perkebunan sebagai alternatif selain melaut.
Pulau ini menghadapi ancaman serius soal abrasi. Oleh karena itu, pemerintah membangun talut/talud alias dinding penahan ombak yang berfungsi untuk mengatasi abrasi.
Tetangga Dekat Filipina
Secara administratif, pulau ini masuk ke dalam wilayah perbatasan antara Indonesia dan Filipina. Terdapat Border Cross Station (BCS) yang berfungsi sebagai pelayanan lintas batas.
Uniknya, dalam Jurnal Administrasi Negara tulisan Arif Alauddin Umar dan Vegky Agus Kakampu, petugas di wilayah Marore harus memiliki pengetahuan dasar bahasa Visaya; bahasa lokal Provinsi Sarangani, serta bahasa Tagalog. Hal ini dilakukan untuk melayani pelintas batas asal Filipina yang tidak bisa berbahasa Indonesia.
Akan tetapi, sebagai pulau terdepan, Marore menghadapi permasalahan lain, yakni sengketa perbatasan. Kedekatan hubungan antara masyarakat Marore dengan masyarakat di Pulau Balur dan Sarangani di Filipina menjadikan garis batas kedua negara menjadi samar.
Banyak nelayan Filipina yang tercatat masuk ke wilayah kedaulatan NKRI di sekitar perairan Kepulauan Marore dan sekitarnya. Mereka melakukan pencurian ikan. Hal ini membuat sumber daya alam yang seharusnya dikelola sepenuhnya oleh masyarakat setempat menjadi tidak optimal.
Oleh karena itu, perlu ada penguatan keamanan lewat patroli rutinan. Satgas Pengamanan Pulau Terluar (Pamputer) Kodim 1391/Sangihe bersama Pos Angkatan Laut (Posal) Pulau Marore pun berupaya melakukan peningkatan pengawasan wilayah perairan di sekitar Pulau Marore yang berbatasan langsung dengan Filipina.
Patroli ini juga bertujuan untuk mengamankan perbatasan serta menjamin situasi tetap aman, kondusif, dan bebas dari ancaman aktivitas ilegal yang berpotesi merugikan masyarakat lokal dan negara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


