Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana religius yang khas di berbagai daerah Indonesia. Selain ibadah yang menjadi inti utama, banyak masyarakat Muslim juga memiliki tradisi lokal yang sarat makna spiritual dan sosial.
Salah satu tradisi yang pernah hidup di tengah masyarakat Gayo Lues adalah Niri Tuk Kurik, sebuah kebiasaan mandi sunah menjelang Hari Raya Idulfitri yang dahulu menjadi simbol penyucian diri sekaligus momentum kebersamaan masyarakat.
Istilah Niri Tuk Kurik dalam bahasa Gayo berasal dari kata "Niri" yang berarti mandi, dan "Tuk Kurik" yang artinya merujuk pada waktu subuh ketika ayam berkokok.
Tradisi ini dahulu berkembang terutama di wilayah Blangkejeren. Menjelang subuh pada malam terakhir Ramadan, sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 WIB, masyarakat berjalan kaki menuju sungai di Desa Leme, sekitar 2 KM dari pusat kota Blangkejeren.
Perjalanan itu bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan peristiwa sosial yang penuh semangat kebersamaan. Obor-obor yang menyala menerangi jalan, sementara bunyi musik canang mengiringi langkah warga. Sesekali terdengar suara riang para gadis dengan seruan khas, “he…he…huu…,” menambah suasana meriah tapi tetap sakral.
Mandi dalam tradisi Niri Tuk Kurik memiliki makna simbolis yang sejalan dengan ajaran Islam. Mandi sebelum melaksanakan sangat dianjurkan dan hukumnya sunah muakkad. Dalam konteks Ramadan, tradisi ini dapat dipahami sebagai ekspresi budaya untuk menyambut hari kemenangan dengan hati yang bersih setelah sebulan menjalani puasa, menahan hawa nafsu, serta memperbanyak ibadah.
Walaupun mandi tersebut bukan bagian dari syariat wajib, nilai simboliknya memperkuat kesadaran spiritual masyarakat tentang pentingnya kebersihan diri dan kesiapan mental menyongsong Idul Fitri.
Selain aspek spiritual, tradisi ini juga memperlihatkan kuatnya solidaritas sosial. Seluruh masyarakat berjalan bersama tanpa memandang status sosial. Kebersamaan itu menciptakan rasa persaudaraan yang erat, sejalan dengan nilai ukhuwah dalam Islam.
Ramadan memang kerap menjadi momentum mempererat hubungan antarsesama, dan Niri Tuk Kurik menjadi salah satu wujud konkret bagaimana nilai tersebut dihidupkan dalam praktik budaya lokal.
Menariknya, dalam pelaksanaan tradisi ini terdapat unsur tata kelola sosial yang rapi. Pada masa itu masih berdiri kerajaan Patiambang, sebuah kerajaan yang berdiri dan memerintah seluruh Gayo Lues. Raja Patiambang menunjuk seorang tokoh yang disebut Hakim Leme yang bertugas setahun sekali.
Ia bersama pembantu-pembantunya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat selama tradisi berlangsung karena kekhawatiran raja Patiambang akan terjadinya masalah-masalah yang tidak diinginkan mengingat kondisi di sungai kala itu sangat ramai.
Hakim Leme bertugas mengawasi keamanan tempat pemandian dari serangan binatang buas, kejahatan dari oknum yang tidak bertanggung jawab, menjaga syariat Islam, menjaga adat istiadat, dan menjaga ketertiban dari awal hingga perjalanan pulang.
Setelah kegiatan selesai, Hakim Leme melaporkan hasil pengawasannya kepada raja sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi tersebut tidak hanya bernilai religius dan sosial, tetapi juga memiliki dimensi kepemimpinan serta tanggung jawab kolektif.
Jika dilihat lebih dalam, keberadaan Hakim Leme mencerminkan nilai amanah dan kepedulian terhadap keselamatan bersama, yang juga menjadi prinsip penting dalam ajaran Islam. Keamanan masyarakat dipandang sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata tugas individu tertentu. Dengan demikian, tradisi ini menjadi gambaran sinergi antara budaya lokal, nilai keagamaan, dan struktur sosial masyarakat pada masa itu.
Mengingat kembali tradisi seperti Niri Tuk Kurik bukan sekadar nostalgia budaya, melainkan upaya memahami bagaimana masyarakat masa lalu memadukan ajaran agama dengan kearifan lokal. Dari sana kita belajar bahwa Ramadan tidak hanya tentang ibadah individual, tetapi juga tentang membangun solidaritas, menjaga harmoni sosial, dan merawat identitas budaya yang selaras dengan nilai-nilai Islam.
Perjalanan waktu perlahan membuat tradisi Niri Tuk Kurik semakin jarang terdengar, bahkan kini nyaris tidak lagi dilaksanakan. Perubahan zaman, pola hidup, serta perkembangan sosial turut memengaruhi keberlangsungan tradisi tersebut.
Namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan seperti semangat penyucian diri, kebersamaan, gotong royong, serta kesiapan spiritual menyambut hari kemenangan. Di zaman sekarang, masyarakat umumnya memilih mandi sunat Idulfitri di rumah masing-masing karena lebih praktis dan sesuai dengan pola kehidupan modern.
Kalaupun dilakukan di sungai, biasanya hanya di sungai kampung sendiri tanpa arak-arakan, obor, maupun iringan musik seperti dahulu. Meski tradisinya mulai hilang, nilai kebersamaan, kesucian diri, dan semangat menyambut hari kemenangan tetap hidup dalam praktik masyarakat, hanya saja diwujudkan dalam bentuk yang lebih sederhana dan menyesuaikan perkembangan zaman.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


