Indonesia merupakan negara yang punya beragam kebudayaan dan tradisi dari setiap daerah yang menjadi pembeda dengan daerah lain. Termasuk di Aceh, Suku Gayo salah satunya Kabupaten Gayo Lues menjadi salah satu daerah yang punya banyak tradisi dan kesenian yang sampai sekarang masih dipertahankan, salah satunya adalah Pongot.
Definisi Pongot
Secara definisi, Pongot berasal dari kata Mongot yang dalam bahasa Gayo berarti menangis atau tangis, namun kata "pongot" sendiri lebih sering dan lumrah dipakai untuk kegiatan adat dan budaya, sedangkan "mongot" lebih sering digunakan untuk peristiwa dalam kegiatan sehari-hari, misalnya seorang anak yang menangis, maka anak tersebut sedang mongot (menangis). Pongot merupakan tangisan yang dilakukan oleh seorang wanita dengan kata-kata yang tersusun rapi atau terstruktur dan berbentuk prosa liris.
Pongot berbentuk tangis ratap yang dalam bahasa Gayo disebut dengan Sebuku. Namun, Pongot bukan hanya sebuah tangis ratap tanpa makna, didalamnya justru terselip kata yang bermakna dan berfungsi untuk menyampaikan isi hati kepada orang-orang tertentu. Sehingga, dalam pongot tersebut orang yang melakukannya mendapatkan kepuasan dan kelegaan hati setelah melakukan pongot.
Secara umum, dalam suku Gayo, pongot hanya dilakukan oleh perempuan dan disampaikan pada tiga peristiwa yang sangat emosional yaitu peristiwa khitanan, pernikahan dan kematian.
Jenis-Jenis Pongot
1. Pongot dalam Khitanan
Dalam sebuah acara khitanan, Pongot kerap dilantunkan oleh orang tua atau kerabat terdekat sang anak. Tangis itu bukan sekadar ratapan, melainkan untaian kata yang menelusuri perjalanan hidupnya sejak ia dilahirkan, melewati masa kanak-kanak, hingga hari-hari sekolah yang membentuknya.
Setiap kata yang terucap membawa ingatan dan harapan, membuat mereka yang menyampaikan Pongot larut dalam emosi, hingga air mata pun tak jarang jatuh tanpa disadari.
2. Pongot dalam Pernikahan
Dalam tradisi pernikahan masyarakat Gayo dikenal istilah, "juelen" yang berarti ‘jual’ yakni bentuk pernikahan yang mengharuskan mempelai wanita (inen mayak) masuk kedalam keluarga mempelai pria (aman mayak). Jika sudah dinikahkan secara juelen, si mempelai wanita seperti sudah dijual ke keluarga mempelai pria sehingga tidak dapat diharapkan mengurus orang tuanya di masa depan.
Bagi orang tua si mempelai perempuan, setelah terjadinya juelen ini menjadi peristiwa yang menyedihkan seperti kehilangan anak perempuannya yang sangat ia cintai. Oleh sebab itu, momen pernikahan bagi orang Gayo Lues merupakan peristiwa yang sangat emosional, terutama bagi pihak perempuan.
3. Pongot dalam Kematian
Pada momen kematian, pongot dibawakan oleh kerabat-kerabat si mayat pada saat mereka melayat di rumah duka sebelum mayat dimakamkan. Konon tradisi ini sudah ada sebelum Islam masuk ke Gayo.
Namun, setelah Islam dikenal luas oleh masyarakat Gayo, tradisi pongot dalam kematian perlahan mulai memudar dan menghilang karena bertentangan dengan ajaran Islam dimana perbuatan meratapi mayat merupakan perbuatan yang dilarang sehingga para ulama pun mengajak masyarakat Gayo meninggalkan tradisi pepongoten dalam peristiwa kematian.
Berikut ini adalah salah satu contoh lirik dan syair Pongot yang dikarang oleh Isma Tantawi, (Aman Ayu, Medan) dalam buku Pilar-Pilar Kebudayaan Gayo Lues yang ditulis olehnya dan Buniyamin S.
Nge berbilang lo, nge berbilang ulen, Kutaringen gergel tete urum batang ruang,
Ike lo gelep lagu segere tenantin terang, Ike uren lagu sigere tenantin naku sidang,
Male mudemu urum ama-ineku, Male mudemu urum rakan sebetku.
Ara ke die musiding sengkaran si atas, Ara ke die murelas tebing penirinku,
Ara ke die murungkem kayu pelongohenku, Ara ke die muninget rakan sebetku.
Syair diatas merupakan pongot yang dilakukan dalam Entong Ralik, yaitu saat pasangan suami istri yang baru menikah (aman mayak dan inen mayak) berkunjung ke rumah orang tua pihak istri yang dilakukan saat waktu hari raya Idulfitri dan Iduladha.
Kurang lebih isi dan makna dari syair pongot diatas adalah ungkapan perasaan dari istri atau inen mayak untuk menyampaikan rasa rindu setelah berpisah dan keinginan untuk menjumpai teman dan sahabat yang ada di kampung yang ia tinggalkan.
Tantangan dan Pongot di Zaman Sekarang
Dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues,pongot sudah menjadi tradisi yang membumi. Namun, tantangan demi tantangan dalam melestarikannya terus berdatangan seiring dengan perkembangan zaman, dimana sekarang budaya ini cukup sedikit dari generasi muda yang paham dan mampu melakukannya, berkurangnya penutur, minimnya regenerasi, serta perubahan cara masyarakat memaknai tradisi lisan.
Jika tidak dirawat, ia berisiko tinggal sebagai kenangan, bukan lagi praktik hidup. Karena itu, peran pemerintah, tokoh masyarakat, dan para budayawan menjadi sangat penting, bukan sekadar sebagai penjaga, tetapi sebagai penggerak.
Upaya seperti pelatihan Pongot bagi generasi muda, penyelenggaraan festival budaya, hingga perlombaan yang rutin dan berkelanjutan dapat menjadi ruang belajar sekaligus panggung apresiasi.
Dengan cara itulah Pongot tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diberi kesempatan untuk tumbuh, beradaptasi, dan terus menjadi bahasa hati masyarakat Gayo yang hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


