Di sebuah sudut Desa Ciburayut, kaligrafi kini terukir permanen di dinding Masjid Jami Sabilul Muchtar. Bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kebersamaan dan jejak pengabdian mahasiswa Kuliah Kerja Sosial (KKS) 18 Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA).
Kawan GNFI, pengabdian masyarakat sering kali dipahami sebagai program akademik semata. Namun, di Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, KKS menjadi ruang belajar dua arah. Mahasiswa belajar dari masyarakat, dan masyarakat merasakan kontribusi nyata dari dunia kampus.
Menguatkan Ikatan lewat Kegiatan Keagamaan
Sejak awal kedatangan, mahasiswa aktif mengikuti kegiatan keagamaan warga. Tawasulan rutin setiap malam Minggu, pengajian bersama, hingga peringatan hari besar Islam menjadi ruang interaksi yang mempererat hubungan emosional.
Pada salah satu kesempatan, perwakilan mahasiswa dipercaya memimpin pembacaan Al-Qur’an dan doa bersama. Kepercayaan tersebut menjadi penanda bahwa kehadiran mahasiswa diterima bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari lingkungan sosial desa.
Melalui aktivitas spiritual ini, pengabdian tidak lagi terasa formal. Ia tumbuh dari kebersamaan yang dibangun secara alami.
Caption | Foto: Dokumentasi KKS 18 FAI UHAMKA (Muhammad Romdoni)
Pendidikan sebagai Ruang Tumbuh Bersama
Di bidang pendidikan, mahasiswa menjalankan program secara terjadwal dan berkelanjutan. Kegiatan mengajar kaligrafi dilaksanakan setiap Senin dan Selasa di SMP Widya Bakti untuk siswa kelas VII hingga IX. Pembelajaran ini bertujuan meningkatkan keterampilan menulis huruf Arab sesuai kaidah sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap seni Islam.
Mahasiswa juga terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di PAUD Aulia setiap Rabu dan Jumat pagi. Dengan pendekatan interaktif dan menyenangkan, anak-anak dikenalkan pada huruf hijaiyah, nilai-nilai dasar keislaman, serta pembentukan karakter positif sejak dini.
Pada sore hari, masjid menjadi pusat pembinaan bacaan Al-Qur’an dan bimbingan belajar. Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA. Di ruang ini, mahasiswa menyaksikan semangat belajar generasi muda desa yang terus tumbuh.
Sebagai bentuk penguatan kepercayaan diri, mahasiswa juga menyelenggarakan lomba ceramah. Kegiatan ini melatih keberanian siswa untuk berbicara di depan umum sekaligus meningkatkan kemampuan retorika mereka.
Caption | Foto: Dokumentasi KKS 18 FAI UHAMKA (Muhammad Romdoni)
Interaksi Sosial yang Menghidupkan Pengabdian
Pengabdian tidak hanya berlangsung di ruang kelas atau masjid. Mahasiswa turut melakukan kunjungan ke rumah warga bersama ketua RT setempat untuk memahami kondisi sosial masyarakat secara lebih dekat.
Kegiatan olahraga seperti jogging, bulu tangkis, dan futsal bersama pelajar desa menjadi sarana sederhana, tetapi efektif membangun komunikasi lintas usia. Dalam aktivitas tersebut, jarak antara mahasiswa dan warga perlahan menghilang.
Kawan GNFI, di sinilah makna KKS menjadi lebih hidup. Pengabdian bukan hanya tentang menjalankan program kerja, melainkan tentang membangun relasi sosial yang saling menguatkan.
Kaligrafi sebagai Warisan Kolaborasi
Salah satu program unggulan KKS 18 adalah pembuatan kaligrafi permanen di dinding Masjid Jami Sabilul Muchtar. Program ini terlaksana melalui kolaborasi mahasiswa, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), serta Karang Taruna setempat.
Proses pengerjaan dilakukan secara bertahap, mulai dari perancangan desain hingga pengecatan pada media permanen. Hasil akhirnya tidak hanya memperindah interior masjid, tetapi juga menjadi simbol kontribusi jangka panjang mahasiswa bagi Desa Ciburayut.
Selain itu, mahasiswa menyerahkan karya kaligrafi kepada pihak sekolah dan lokasi kegiatan tasawulan mingguan sebagai bentuk apresiasi atas dukungan masyarakat selama masa pengabdian.
Caption | Foto: Dokumentasi KKS 18 FAI UHAMKA (Muhammad Romdoni)
Lebih dari Sekadar Program Akademik
KKS 18 FAI UHAMKA di Desa Ciburayut menunjukkan bahwa pengabdian bukan hanya kewajiban akademik, melainkan proses pembelajaran sosial yang bermakna.
Sinergi antara mahasiswa, perangkat desa, sekolah, DKM, dan Karang Taruna membuktikan bahwa kolaborasi mampu menghadirkan perubahan nyata, meski dimulai dari langkah sederhana.
Pada akhirnya, bukan hanya desa yang menerima manfaatnya. Mahasiswa pun membawa pulang pelajaran bahwa ilmu menemukan maknanya ketika dibagikan, dan pengabdian menemukan keindahannya ketika dijalankan dengan ketulusan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


