Sebanyak 24 lulusan, resmi diambil sumpahnya dalam Pengambilan Sumpah Program Profesi Insinyur (PPI) Angkatan ke-8 Sekolah Pascasarjana (SPs) IPB University. Di antara para lulusan itu, ada satu nama yang menarik perhatian.
Ia adalah Eng Lucio Marcal Gomes, MEngAgron, Rektor East Timor Coffee Institute (ETCI) dari Timor Leste. Keberadaan tokoh akademik luar negeri yang menempuh pendidikan di sana menunjukkan bahwa jejaring dan kualitas keinsinyuran IPB sudah menembus batas negara.
Apa Itu Program Profesi Insyinyur?
Program Profesi Insinyur adalah jalur pendidikan profesi untuk mendapatkan gelar Insinyur (Ir.) yang diakui secara hukum dan organisasi profesi. Karena pendidikan ini basisnya profesi yang bisa langsung terjun ke lapangan, lulusannya pun disumpah secara resmi.
Prosesi pengambilan sumpah ini menjadi penegasan komitmen para insinyur baru untuk mengabdi kepada bangsa dan masyarakat. Mereka tidak hanya mendapatkan gelar tapi telah terikat pada kode etik profesi.
Acara Pengambilan Sumpah Program Profesi Insinyur (PPI) Angkatan ke-8 Sekolah Pascasarjana (SPs) IPB University dihadiri Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Prof Agus Taufik Mulyono; Dekan SPs IPB Prof Yusli Wardiatno; Wakil Dekan bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan Dr Perdinan; serta Ketua Program Studi PPI Prof Muhammad Romli.
Sebanyak 24 lulusan berasal dari berbagai bidang. Pertanian dan Hasil Pertanian (7 orang), Peternakan (2), Kehutanan (1), Industri Pertanian (3), Perikanan dan Kelautan (1), serta Sipil dan Lingkungan (10).
Dengan tambahan tahun ini, total insinyur lulusan IPB yang telah diambil sumpahnya sejak angkatan pertama mencapai 780 orang.
Jumlah itu diharapkan bertambah. Sebab, Indonesia dinilai masih menghadapi kekurangan insinyur. Dalam banyak laporan pembangunan nasional, rasio insinyur per satu juta penduduk Indonesia masih tertinggal dibanding beberapa negara Asia.
Global Engagement 2026: Target IPB
IPB University menetapkan tahun 2026 sebagai tahun Global Engagement. Artinya IPB berkomitmen untuk penguatan kolaborasi internasional, peningkatan visibilitas global, serta perluasan jejaring akademik dan profesional di tingkat regional maupun dunia.
Pelantikan insinyur yang melibatkan peserta dari Timor Leste disebut sebagai bagian dari implementasi nyata agenda tersebut.
Jika ditarik lebih jauh, ini selaras dengan target Indonesia Emas 2045. Tahun itu Indonesia genap berusia 100 tahun. Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi negara maju. Salah satu syaratnya adalah kualitas sumber daya manusia, termasuk insinyur profesional.
Insinyur Harus Mampu Merancang Sistem
Dalam sambutannya, Dekan SPs IPB menegaskan, meski IPB telah melahirkan ratusan insyinyur, yang menjadi fokus adalah kualitas, bukan kuantitas insyinyur. Untuk itu, insyinyur harus bisa mencetuskan solusi berkelanjutan dalam segala hal.
“Indonesia membutuhkan insinyur yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mampu merancang sistem, mendorong inovasi, serta menghadirkan solusi berkelanjutan bagi tantangan pangan, energi, lingkungan, dan infrastruktur,” ujarnya.
Oleh karena itu, insyinyur harus mampu memahami ekosistem. Misalnya dalam sektor pangan. Yang dibahas bukan hanya produksi, tetapi juga distribusi, keberlanjutan lahan, hingga dampak lingkungan.
Sebab, IPB memposisikan diri sebagai pusat unggulan keinsinyuran berbasis hayati dan keberlanjutan di kawasan ASEAN. Ini mencakup pengembangan teknologi yang memanfaatkan sumber daya biologis, contohnya pertanian tropika, pangan, kelautan, kehutanan, bioindustri, dan rekayasa lingkungan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


