Komitmen Jakarta untuk memperluas ruang terbuka hijau semakin ditegaskan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah tekanan urbanisasi, kepadatan penduduk, dan kualitas udara yang sering menjadi sorotan, Pemprov DKI Jakarta menempatkan ruang hijau sebagai bagian penting dari strategi pembangunan kota.
Perluasan RTH dipandang sebagai langkah memperbaiki kualitas hidup warga sekaligus memperkuat daya tahan lingkungan. Pemberitaan tentang hadirnya Taman Bendera Pusaka di Jakarta Selatan beberapa waktu terakhir ini cukup menarik perhatian publik. Bahkan beberapa media menyebutkan taman ini diproyeksikan menjadi ikon baru ruang terbuka hijau (RTH).
Kabar ini hadir seolah menunjukkan bahwa Jakarta mulai memberi kesempatan bagi warganya untuk berhenti sejenak dari sibuknya aktivitas kota.
Taman Bendera Pusaka dibangun dengan menyatukan tiga taman, yaitu Langsat, Ayodya, dan Leuser yang kemudian menjadi satu kawasan hijau seluas sekitar 5,5 hektare.
Di dalamnya terdapat lintasan lari sepanjang 1,2 kilometer, jalur pejalan kaki, fasilitas olahraga, serta area duduk yang terbuka. Ruang ini dirancang untuk menampung gerak, jeda, dan pertemuan; sesuatu yang rasanya semakin langka di Jakarta.
Kawasan ini berada di lokasi strategis karena berdekatan dengan Transit Oriented Development (TOD) Blok M, pusat aktivitas publik yang terus berkembang sebagai salah satu ikoniknya kota Jakarta.
Dalam tahap pengembangannya, telah dibangun jembatan penghubung yang menyatukan seluruh area taman, sehingga pengunjung dapat berpindah tanpa harus menyeberangi jalan umum.
Taman Bendera Pusaka menjadi simbol “rebirth” kawasan Barito sebagai ruang publik yang lebih hidup, inklusif, dan memiliki beragam fungsi. Pengembangannya menghadirkan lanskap yang tertata sekaligus memperkuat sistem pengelolaan tata air untuk membantu pengendalian banjir. Di saat yang sama, fungsi ekologis kawasan diperkuat dengan tetap memberi perhatian pada nilai sejarah dan budaya lokal yang melekat di wilayah tersebut.
Nama Bendera Pusaka dipilih untuk merepresentasikan semangat persatuan bangsa. Seperti helaian Sang Saka Merah Putih yang dijahit dan disatukan oleh Fatmawati, tiga taman di kawasan ini dirangkai menjadi satu ruang yang utuh.
Gagasan tersebut mengandung upaya merawat kekayaan alam sekaligus menghidupkan kembali ingatan kolektif dalam ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan.
Secara historis, Kebayoran Baru dirancang oleh Insinyur M. Soesilo pada 1948 dengan konsep kota taman. Perkembangannya kini menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat kegiatan regional dan bagian dari sentra ASEAN.
Penataan taman dilakukan dengan standar internasional sebagai penegasan posisi Jakarta sebagai kota global yang tetap bertumpu pada sejarah dan bergerak menuju masa depan.
Persentase RTH di Jakarta masih berada di bawah standar ideal. Setiap tambahan ruang hijau menjadi langkah penting, meskipun belum cukup untuk menjawab seluruh persoalan. Jakarta masih memerlukan strategi jangka panjang yang konsisten agar ruang hijau tidak tergerus oleh kepentingan lain.
Taman Bendera Pusaka adalah bukti perubahan cara pandang Jakarta terhadap infrastruktur. Pembangunan kota mulai memberi tempat bagi kualitas hidup. Ruang publik kembali dipahami sebagai bagian penting dari ekosistem sebuah kota; tempat di mana manusia membangun hubungan dengan lingkungan dan sesamanya.
Ruang terbuka hijau perlu hadir di lebih banyak wilayah Jakarta. Setiap warga berhak memiliki akses terhadap ruang yang inklusif sehingga memberi tempat bagi semua, tanpa memandang latar belakang.
Ketika nanti Taman Bendera Pusaka resmi dibuka, harapan yang menyertainya sesederhana agar menjadi bagian dari keseharian warga, tempat tubuh bergerak lebih bebas dan pikiran yang menemukan jeda.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


