10 kelompok etnis terbesar di asia tenggara mengapa jawa mendominasi - News | Good News From Indonesia 2026

10 Kelompok Etnis Terbesar di Asia Tenggara, Mengapa Jawa Mendominasi?

10 Kelompok Etnis Terbesar di Asia Tenggara, Mengapa Jawa Mendominasi?
images info

10 Kelompok Etnis Terbesar di Asia Tenggara, Mengapa Jawa Mendominasi?


Sudah menjadi rahasia umum jika suku Jawa menjadi suku dengan populasi terbesar di Indonesia. Per tahun 2024 saja, jumlah orang Jawa sudah mencakup 55-60 persen total populasi Indonesia; lebih dari 100 juta jiwa.

Saking banyaknya, suku Jawa juga termasuk ke dalam daftar kelompok etnis terbesar di Asia Tenggara, bahkan dunia. Kira-kira, mengapa banyak suku Jawa yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri?

10 Kelompok Etnis Terbesar di Asia Tengggara

Di bawah ini adalah daftar kelompok etnis terbesar di Asia Tenggara, merangkum dari Seasiastats:

  1. Jawa – 105 juta jiwa
  2. Kinh – 89 juta jiwa
  3. Thai – 59 juta jiwa
  4. Sunda – 42 juta jiwa
  5. Bamar – 35 juta jiwa
  6. Tagalog – 33 juta jiwa
  7. Tionghoa – 31 juta jiwa
  8. Malay – 27 juta jiwa
  9. Lao – 22 juta jiwa
  10. Khmer – 19 juta jiwa

Dari data tersebut, tampak jika suku Jawa menjadi kelompok etnis terbesar di Asia Tenggara dengan populasi sekitar 105 juta jiwa. Selain itu, ada pula suku Sunda yang berada di posisi ke-4 dengan total kurang lebih 42 juta jiwa.

baca juga

Mengapa Banyak Orang Jawa di Indonesia (dan Dunia)?

Selain menjadi yang terbanyak di Asia Tenggara, suku Jawa juga menjadi salah satu suku dengan populasi terbanyak di dunia. Ada beberapa hal yang menyebabkan banyaknya populasi atau jumlah orang Jawa. Apa saja?

Pulau Jawa memiliki tanah vulkanik yang subur. Pulau padat ini terletak pada lingkar cincin api pasifik atau ring of fire. Hal ini menyebabkan Indonesia, khususnya Pulau Jawa, dianugerahi banyak gunung aktif yang menghasilkan abu vulkanik.

Abu vulkanik kaya akan unsur hara yang mempengaruhi kesuburan tanah. Ditambah lagi, Indonesia secara keseluruhan terletak di kawasan tropis yang dengan suhu yang cenderung hangat dan kelembaban tinggi sepanjang tahun, sehingga sangat ideal untuk dijadikan lahan pertanian, utamanya padi.

Akibatnya, banyak sekali daerah-daerah di Jawa yang sangat subur, sehingga mampu mendukung kehidupan masyarakatnya. Seiring berjalannya waktu, dengan kondisi yang “nyaman” ini, populasi masyarakatnya menjadi terus bertambah.

Di sisi lain, sejak era VOC, pusat pemerintahan pun terpusat di area Jawa. Tahun 1600-an, Batavia alias Jakarta sudah menjadi kawasan perdagangan dan pemerintahan Belanda.

Bahkan, Belanda juga banyak membangun jalan kereta di Jawa. Hal ini dilakukan untuk mengangkut hasil alam sekaligus mempermudah konektivitas antardaerah.

Lebih lanjut, banyak juga pekerja-pekerja Jawa yang mulai merantau ke luar pulau melalui program transmigrasi. Ada yang berpindah ke Kalimatan, Sumatra, bahkan Sulawesi, sehingga menciptakan “kantong” populasi baru di luar domisili asal mereka.

Ada pula buruh Jawa yang dibawa oleh Belanda ke negara lain, seperti Suriname dan Kaledonia Baru. Di masa lalu, mereka dibawa ke sana untuk dijadikan buruh. Bahkan, sampai sekarang, komunitas wong Jowo di Suriname dan Kaledonia Baru masih hidup dan memiliki kekeluargaan yang erat.

Orang-orang Jawa juga banyak yang merantau ke negara lain. Banyak dari mereka yang masih mempertahankan budaya leluhur meskipun berada jauh dari Tanah Airnya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.