siapa sangka perang gerilya diponegoro melawan belanda jadi kunci lahirnya negara belgia - News | Good News From Indonesia 2026

Siapa Sangka, Perang Gerilya Diponegoro Melawan Belanda Jadi Kunci Lahirnya Negara Belgia

Siapa Sangka, Perang Gerilya Diponegoro Melawan Belanda Jadi Kunci Lahirnya Negara Belgia
images info

Siapa Sangka, Perang Gerilya Diponegoro Melawan Belanda Jadi Kunci Lahirnya Negara Belgia


Sejarah dunia seringkali menyimpan keterkaitan yang tidak terduga antara dua peristiwa di belahan bumi yang berbeda. Salah satu narasi yang paling menarik adalah hubungan antara taktik gerilya di pedalaman Jawa dengan lahirnya negara Belgia di Eropa. Meskipun secara geografis terpisah ribuan kilometer, perlawanan sengit Pangeran Diponegoro pada tahun 1825 sampai 1830 ternyata menjadi faktor kunci yang melemahkan kekuatan Kerajaan Belanda di tanah airnya sendiri.

Mimpi Buruk Belanda di Tanah Jawa

Perang Jawa bukan sekadar pemberontakan lokal biasa. Bagi pemerintah kolonial, taktik gerilya yang diterapkan Pangeran Diponegoro adalah mimpi buruk yang menciptakan lubang hitam keuangan. Pasukan Jawa tidak pernah membiarkan Belanda bertempur dalam formasi terbuka yang konvensional. Sebaliknya, mereka menyerang secara mendadak dari hutan dan pegunungan lalu menghilang dengan cepat. Taktik ini membuat pasukan Belanda kelelahan, frustrasi, dan kehilangan banyak personel akibat penyakit serta serangan mendadak.

Pasukan kolonial Belanda menyerbu Pleret, Bantul | Oleh J.P. van de Veer - G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger, Domain Publik, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=5974522
info gambar

Pasukan kolonial Belanda menyerbu Pleret, Bantul | Oleh J.P. van de Veer - G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger, Domain Publik, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=5974522


Kelelahan kolonial mencapai puncaknya ketika Jenderal de Kock menyadari bahwa pengejaran konvensional tidak akan pernah berhasil menangkap Diponegoro. Belanda terpaksa menjalankan strategi Benteng Stelsel, sebuah sistem jaringan benteng yang saling terhubung untuk mempersempit ruang gerak gerilyawan. Secara militer, strategi ini berhasil, namun secara ekonomi, ini adalah bencana bagi kas negara

Lukisan penyerahan diri Pangeran Diponegoro kepada Jenderal de Kock pada 1830, yang menandai akhir Perang Diponegoro.Sumber: Nicolaas Pieneman Wikimedia Commons
info gambar

Lukisan penyerahan diri Pangeran Diponegoro kepada Jenderal de Kock pada 1830, yang menandai akhir Perang Diponegoro.Sumber: Nicolaas Pieneman Wikimedia Commons


Setiap benteng membutuhkan biaya pembangunan yang besar, unit kavaleri untuk patroli antar pos, dan pasokan logistik yang harus dikirim melalui jalur darat yang rawan penghadangan. Belanda harus mengimpor ribuan tentara bayaran dari Eropa untuk menggantikan ribuan serdadu yang tewas bukan hanya karena peluru, tetapi karena malaria dan kelelahan fisik yang ekstrem. Pengeluaran ini menciptakan defisit yang begitu besar sehingga Bank Jawa (De Javasche Bank) harus didirikan pada 1828 salah satunya untuk mengelola kekacauan moneter tersebut.

Tekanan Ekonomi yang Memicu Gejolak di Brussels

Kondisi ekonomi yang sekarat akibat perang di Nusantara ini memaksa Raja Willem I meningkatkan beban pajak secara drastis di wilayah domestik. Saat itu, wilayah Belgia masih menjadi bagian dari Kerajaan Belanda bersatu. Kenaikan pajak untuk menambal kerugian perang di Jawa menjadi salah satu pemicu utama kemarahan rakyat Belgia. Mereka merasa dieksploitasi untuk membiayai konflik kolonial yang jauh dari kepentingan mereka di Eropa.

Lukisan ini menggambarkan momen krusial dalam Revolusi Belgia 1830, yaitu perlawanan rakyat di alun-alun pusat kota Brussels (Grand Place) melawan kekuasaan Kerajaan Belanda.Gambar By Égide Charles Gustave Wappers - |+/−, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=18494930
info gambar

Lukisan ini menggambarkan momen krusial dalam Revolusi Belgia 1830, yaitu perlawanan rakyat di alun-alun pusat kota Brussels (Grand Place) melawan kekuasaan Kerajaan Belanda.Gambar By Égide Charles Gustave Wappers - |+/−, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=18494930


Ketegangan mencapai puncaknya ketika Revolusi Juli meletus di Prancis pada tahun 1830. Api semangat tersebut segera menjalar ke Brussels. Rakyat Belgia bangkit melawan kekuasaan Belanda dengan membawa tuntutan kemerdekaan. Di sinilah peran krusial perang gerilya Diponegoro terlihat jelas. Belanda tidak mampu mengirimkan kekuatan militer penuh untuk memadamkan pemberontakan di Brussels. Sebagian besar tentara terbaik dan sumber daya militer Belanda masih tertahan atau baru saja selesai bertempur dalam kondisi fisik yang lemah di Jawa.

Kelumpuhan Militer Belanda di Dua Front

Belanda berada dalam kondisi ekonomi dan militer yang sangat pincang. Fokus mereka terpecah antara mempertahankan tanah jajahan di Timur dan menjaga kedaulatan di Barat. Tanpa dukungan dana dan pasukan yang memadai karena habis terserap untuk mengejar pasukan gerilya di Jawa, Belanda gagal meredam revolusi Belgia dengan cepat. Hal ini memberikan kesempatan bagi para pejuang Belgia untuk mengonsolidasikan kekuatan dan mendapatkan pengakuan internasional.

Barisan sukarelawan Belgia dalam upaya merebut kemerdekaan dari tangan Raja Willem I. Kelumpuhan finansial Belanda akibat biaya Perang Jawa yang masif memberikan ruang bagi para pejuang ini untuk mengonsolidasikan kekuatan tanpa perlawanan berarti dari militer Belanda. | Gambar By Charles Soubre (1821-1895) - Charles Soubre, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=631585
info gambar

Barisan sukarelawan Belgia dalam upaya merebut kemerdekaan dari tangan Raja Willem I. Kelumpuhan finansial Belanda akibat biaya Perang Jawa yang masif memberikan ruang bagi para pejuang ini untuk mengonsolidasikan kekuatan tanpa perlawanan berarti dari militer Belanda. | Gambar By Charles Soubre (1821-1895) - Charles Soubre, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=631585


Fenomena ini selaras dengan ulasan sejarah dalam buku "The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855" karya sejarawan Peter Carey. Dalam penelitian mendalamnya, Carey mencatat bahwa beban keuangan akibat Perang Jawa begitu melumpuhkan sehingga Belanda tidak memiliki fleksibilitas ekonomi untuk mempertahankan wilayah selatannya (Belgia) saat terjadi pergolakan. Kurasnya sumber daya di Jawa menciptakan kerentanan yang dimanfaatkan oleh revolusioner di Brussels.

Pada akhirnya, Belgia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1830. Kemerdekaan ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Pangeran Diponegoro ditangkap melalui tipu muslihat di Magelang. Secara tidak langsung, kegigihan taktik gerilya di Nusantara telah melapangkan jalan bagi terbentuknya sebuah negara baru di Eropa.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.