Minggu terakhir bulan Sya’ban selalu menjadi periode yang dinantikan umat Islam di seluruh dunia. Pada masa ini, suasana spiritual mulai terasa semakin kuat.
Masjid dipenuhi jamaah, kajian tentang puasa semakin banyak diselenggarakan, dan umat Islam mulai mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental untuk menyambut Ramadan.
Selain persiapan ibadah, perhatian juga tertuju pada satu momen penting, yaitu penentuan awal bulan Ramadan.
Penentuan awal Ramadan secara umum dilakukan melalui pengamatan hilal, yaitu bulan sabit pertama yang menandai masuknya bulan baru dalam kalender Hijriah.
Tradisi rukyatul hilal ini telah dilakukan sejak masa Rasulullah SAW dan masih menjadi metode utama di banyak negara hingga sekarang.
Selain rukyat, beberapa organisasi dan negara juga menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi sebagai dasar penentuan awal bulan.
Penentuan Awal Ramadan di Indonesia
Di Indonesia, pemerintah menetapkan awal Ramadan melalui sidang isbat yang dilakukan oleh Kementerian Agama.
Sidang ini mempertimbangkan dua metode sekaligus, yaitu rukyatul hilal dan hisab. Tim pengamat hilal ditempatkan di berbagai titik di seluruh wilayah Indonesia untuk memastikan visibilitas bulan sabit.
Hasil pengamatan ini kemudian dibahas bersama para ulama, ahli astronomi, dan perwakilan organisasi Islam sebelum keputusan resmi diumumkan kepada masyarakat.
Sementara itu, organisasi Islam seperti Muhammadiyah biasanya telah menetapkan awal Ramadan jauh hari sebelumnya menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, awal Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026.
Penetapan ini memberikan kepastian bagi anggota Muhammadiyah untuk mempersiapkan ibadah lebih awal.
Bagaimana dengan Awal Ramadhan di Arab Saudi, Apakah Sama?
Di sisi lain, perhatian umat Islam juga tertuju pada penentuan awal Ramadan di Arab Saudi, negara yang menjadi lokasi dua kota suci umat Islam, yaitu Mekah dan Madinah.
Pemerintah Arab Saudi melalui Mahkamah Agung secara resmi mengumumkan ajakan kepada masyarakat untuk melakukan rukyatul hilal pada akhir bulan Sya’ban. Pengamatan ini biasanya dilakukan pada tanggal 29 Sya’ban saat matahari terbenam.
Berdasarkan informasi astronomi, konjungsi atau ijtimak menjelang Ramadan 1447 H diperkirakan terjadi pada 17 Februari 2026. Setelah itu, otoritas Arab Saudi akan melakukan pengamatan hilal untuk menentukan apakah bulan sabit sudah dapat terlihat.
Jika hilal terlihat pada malam tersebut, maka Ramadan akan dimulai pada 18 Februari 2026. Namun, jika hilal belum terlihat, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari dan Ramadan dimulai pada 19 Februari 2026.
Proses ini menunjukkan bahwa penentuan awal Ramadan di Arab Saudi sangat bergantung pada hasil pengamatan langsung. Oleh karena itu, terdapat kemungkinan perbedaan awal Ramadan antara Arab Saudi dan negara lain, termasuk Indonesia.
Menanggapi Perbedaan Tanggal Awal Ramadhan Antar Umat Islam
Perbedaan ini bukanlah hal baru, karena faktor geografis, kondisi atmosfer, dan metode penetapan yang digunakan dapat memengaruhi visibilitas hilal.
Meski demikian, perbedaan tersebut tidak mengurangi makna Ramadan sebagai bulan suci yang penuh berkah. Justru, hal ini mencerminkan kekayaan tradisi dan metode keilmuan dalam Islam.
Baik melalui rukyat maupun hisab, tujuan utamanya tetap sama, yaitu memastikan umat Islam dapat memulai ibadah puasa pada waktu yang tepat sesuai dengan ketentuan syariat.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah kesamaan tanggal semata, melainkan kesiapan hati dalam menyambut Ramadan.
Baik dimulai bersamaan maupun berbeda, Ramadan tetap menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah, memperbaiki diri, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


