Bulan Ramadan 1447 H/2026 M semakin dekat. Kehadirannya selalu dinanti sebagai momentum peningkatan kualitas iman, perbaikan diri, dan penguatan kepedulian sosial.
Namun, Ramadan bukan sekadar bulan yang datang lalu dijalani apa adanya. Ia perlu disambut dengan persiapan yang matang agar ibadah yang dilakukan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, melainkan benar-benar berdampak pada perubahan diri.
Sejumlah panduan dari berbagai lembaga keagamaan menekankan bahwa persiapan menyambut Ramadan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual dan intelektual. Berikut beberapa hal penting yang dapat dipersiapkan menjelang bulan suci.
- Memperbanyak ibadah dan amal saleh
Salah satu langkah awal menyambut Ramadan adalah membiasakan diri dengan peningkatan ibadah sebelum bulan suci tiba.
Memperbanyak istighfar, memperbaiki shalat wajib, menambah shalat sunnah, hingga memperbanyak zikir menjadi bentuk latihan spiritual agar hati lebih siap memasuki Ramadan.
Selain itu, amal saleh seperti membantu sesama, menjaga lisan, serta memperbaiki hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar juga perlu ditingkatkan.
Ramadan adalah bulan ampunan, sehingga memulai dengan hati yang bersih dan hubungan yang baik dengan sesama akan membuat ibadah terasa lebih ringan dan khusyuk.
Dengan membiasakan diri sejak bulan-bulan sebelumnya, kita tidak akan merasa “kaget” saat Ramadan tiba. Justru, ibadah akan terasa lebih terstruktur dan konsisten.
- Merencanakan kegiatan ibadah selama bulan Ramadan
Ramadan sering kali berlalu begitu cepat. Tanpa perencanaan yang jelas, banyak target ibadah yang akhirnya tidak tercapai. Karena itu, penting untuk menyusun rencana ibadah sejak awal.
Perencanaan bisa dimulai dengan membuat target tilawah Al-Qur’an, jadwal shalat tarawih, waktu khusus untuk berzikir atau membaca buku-buku keislaman, hingga target sedekah harian atau mingguan.
Bagi yang memiliki aktivitas padat, menyusun jadwal yang realistis akan membantu menjaga konsistensi.
Selain ibadah personal, rencana kegiatan sosial seperti berbagi takjil, menyalurkan zakat, atau mengikuti kajian Ramadan juga dapat dimasukkan dalam agenda.
Dengan perencanaan yang matang, Ramadan tidak hanya diisi dengan rutinitas, tetapi menjadi bulan yang produktif dan penuh makna.
- Mempelajari ilmu tentang puasa Ramadan
Persiapan penting lainnya adalah memperdalam ilmu tentang puasa. Memahami rukun dan syarat sah puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, serta ketentuan fidyah dan qadha akan membantu umat Islam menjalankan ibadah dengan benar.
Selain aspek fikih, mempelajari hikmah dan tujuan puasa juga tak kalah penting. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih kesabaran, pengendalian diri, dan empati terhadap sesama.
Dengan pemahaman yang baik, puasa akan dijalani dengan kesadaran penuh, bukan sekadar kewajiban formal.
Ilmu dapat diperoleh melalui kajian di masjid, ceramah daring, buku-buku keislaman, maupun sumber terpercaya lainnya.
Semakin baik pemahaman seseorang tentang puasa, semakin besar peluang untuk meraih keberkahan Ramadan.
- Rutin membaca Al-Qur’an
Ramadan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.
Oleh karena itu, membiasakan diri membaca Al-Qur’an sebelum Ramadan menjadi langkah penting agar saat bulan suci tiba, tilawah dapat dilakukan secara konsisten.
Bagi yang belum terbiasa, dapat memulai dengan target ringan, misalnya satu atau dua halaman per hari. Perlahan-lahan tingkatkan hingga mampu menyelesaikan satu juz dalam beberapa hari.
Selain membaca, memahami makna dan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an juga akan memperkaya pengalaman spiritual selama Ramadan.
Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada kelancaran tilawah di bulan suci, tetapi juga menumbuhkan kedekatan yang lebih dalam dengan kitab suci.
- Merawat kebiasaan bersedekah dan berinfak
Ramadan adalah bulan berbagi. Pahala sedekah dilipatgandakan, dan semangat kepedulian sosial semakin terasa. Oleh sebab itu, membiasakan diri bersedekah sebelum Ramadan dapat menjadi latihan agar di bulan suci kita lebih ringan dalam berbagi.
Sedekah tidak selalu harus dalam jumlah besar. Menyisihkan sebagian rezeki secara rutin, membantu kebutuhan tetangga, atau mendukung program sosial sudah termasuk bentuk kepedulian. Selain itu, persiapan zakat juga perlu diperhatikan agar dapat ditunaikan tepat waktu.
Dengan menjaga kebiasaan berbagi, Ramadan akan menjadi bulan yang tidak hanya memperkuat hubungan dengan Allah, tetapi juga mempererat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, menyambut Ramadan bukan sekadar soal menunggu hilal terlihat, melainkan tentang bagaimana menata hati dan mempersiapkan diri.
Dengan memperbanyak ibadah, merencanakan kegiatan, memperdalam ilmu, membiasakan tilawah, dan merawat semangat berbagi, Ramadan 1447 H/2026 M diharapkan menjadi momentum perubahan menuju pribadi yang lebih baik dan bertakwa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


