menjaga denyut tradisi asa huta simarmata menuju cagar budaya nasional - News | Good News From Indonesia 2026

Menjaga Denyut Tradisi: Asa Huta Simarmata Menuju Cagar Budaya Nasional

Menjaga Denyut Tradisi: Asa Huta Simarmata Menuju Cagar Budaya Nasional
images info

Menjaga Denyut Tradisi: Asa Huta Simarmata Menuju Cagar Budaya Nasional


Di jantung Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, berdiri sebuah benteng peradaban bernama Huta Simarmata. Kawasan permukiman adat ini bukan sekadar kumpulan bangunan tua, melainkan representasi fisik dari tata ruang tradisional Batak Toba yang masih terjaga keutuhannya hingga hari ini.

Atas dasar otentisitas tersebut, pemerintah kini tengah mengakselerasi langkah untuk mengangkat status kawasan ini menjadi Cagar Budaya Peringkat Nasional.

Dalam kunjungan kerjanya, Menteri Budaya, Fadli Zon, menegaskan bahwa Huta Simarmata telah melampaui standar kelayakan untuk mendapat pengakuan nasional. Sebagai catatan, saat ini status perlindungannya masih berada di level lokal melalui Keputusan Bupati Samosir Nomor 9 Tahun 2021.

"Kami akan segera mendorong proses pengusulannya dalam sinergi bersama pemerintah daerah," ungkap Fadli Zon melalui saluran keterangan resmi.

Harmoni Ruang dan Jejak Megalitik yang Autentik

Kekuatan utama Huta Simarmata terletak pada kemampuannya mempertahankan elemen-elemen fundamental huta (kampung) Batak. Di sini, pengunjung masih bisa menyaksikan parik (pagar pembatas kampung), rumah-rumah adat, hingga sopo yang tertata rapi. Tak ketinggalan, keberadaan lesung batu dan sarkofagus menjadi saksi bisu dari sistem kehidupan sosial yang kompleks.

Salah satu artefak yang mencuri perhatian adalah sarkofagus batu raksasa. Objek megalitik ini dihiasi oleh pahatan figur manusia dalam posisi jongkok dengan ekspresi wajah yang khas—sebuah manifestasi visual dari sistem kepercayaan dan penghormatan leluhur masyarakat Batak di masa silam.

“Kita menyaksikan langsung sarkofagus berusia ratusan tahun dengan dimensi yang luar biasa besar, sebuah temuan yang tergolong langka. Hal ini membuktikan signifikansi Huta Simarmata dalam konstelasi sejarah dan kebudayaan Batak,” tambah Fadli.

Arsitektur Tanpa Paku: Keajaiban Konstruksi Tiga Abad

Fadli Zon juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kondisi fisik rumah-rumah adat kuno di lokasi tersebut. Bangunan-bangunan ini merupakan mahakarya arsitektur yang didirikan tanpa menggunakan satu pun paku, melainkan mengandalkan sistem sambungan kayu tradisional yang presisi.

“Di perkampungan ini, setidaknya ada sepuluh unit rumah adat yang masih berdiri kokoh, dengan beberapa di antaranya telah mencapai usia lebih dari 300 tahun. Teknik bangunannya mencerminkan kecerdasan arsitektur tradisional yang sangat maju dan krusial untuk terus kita lestarikan,” tuturnya.

Kehadiran lesung batu yang dahulu menjadi pusat aktivitas menumbuk padi juga menjadi poin penting. Artefak fungsional ini adalah bukti empiris dari tradisi agraris serta pola hidup komunal (gotong royong) yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang masyarakat adat setempat.

Transformasi Menuju Destinasi Edukasi Berbasis Budaya

Ke depan, Huta Simarmata diproyeksikan tidak hanya sebagai situs yang statis, tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya yang edukatif. Menurut kacamata sang Menteri, kawasan ini menawarkan pengalaman imersif bagi siapa saja yang ingin mendalami filosofi hidup masyarakat Batak.

“Berkunjung ke Huta Simarmata bukan sekadar tentang menikmati lanskap alam yang memesona, melainkan sebuah perjalanan literasi untuk memahami sejarah, adat, dan kearifan cara hidup. Ini adalah kekayaan budaya yang wajib kita proteksi bersama,” pungkasnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.