Di tengah keterbatasan ruang gerak perempuan Jawa pada akhir abad ke-19, Kartini menghadirkan suara yang melampaui zamannya. Melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada sahabat-sahabat di Eropa, ia merumuskan gagasan tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan martabat perempuan.
Korespondensi internasional itu menjadi medium penting lahirnya pemikiran progresif yang berpengaruh hingga kini.
Latar Sosial dan Tradisi Pingitan
Raden Ajeng Kartini lahir pada 1879 di Jepara dalam keluarga priyayi Jawa. Sebagai anak bangsawan, ia memperoleh kesempatan bersekolah di Europese Lagere School, tempat ia belajar bahasa Belanda dan mengenal literatur Barat.
Namun, pada usia dua belas tahun ia harus menjalani tradisi pingitan, sebuah praktik yang membatasi perempuan untuk keluar rumah hingga tiba saatnya menikah.
Pingitan menjadi pengalaman eksistensial yang membentuk kesadaran kritis Kartini. Dalam keterasingan itu, ia tidak berhenti belajar. Ia membaca buku, majalah, dan surat kabar berbahasa Belanda yang memberinya akses pada pemikiran modern Eropa.
Dari ruang domestik yang sempit, cakrawala intelektualnya justru meluas. Kontras antara kebebasan gagasan yang ia baca dan keterkungkungan yang ia alami melahirkan refleksi mendalam tentang ketidakadilan gender.
Literasi sebagai Jalan Pembebasan
Bagi Kartini, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan pintu menuju kebebasan berpikir. Ia menyadari bahwa pendidikan adalah fondasi utama untuk mengangkat derajat perempuan.
Dalam surat-suratnya kepada sahabat pena seperti Rosa Abendanon dan Estelle Zeehandelaar, ia mengungkapkan kegelisahan tentang rendahnya akses pendidikan bagi perempuan pribumi.
Kartini menganalisis bahwa ketertinggalan perempuan bukanlah kodrat, melainkan akibat sistem sosial yang mengekang. Tanpa pendidikan, perempuan tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi, memahami haknya, atau berpartisipasi dalam kehidupan publik.
Ia menolak anggapan bahwa perempuan cukup dididik untuk menjadi istri dan ibu semata. Baginya, perempuan harus menjadi manusia utuh yang berpikir, merasakan, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Pemikirannya menunjukkan kesadaran struktural yang jarang muncul pada masanya. Ia tidak hanya mengeluhkan nasib pribadi, tetapi juga memetakan persoalan sosial yang lebih luas. Literasi, dalam pandangannya, adalah alat transformasi sosial.
Korespondensi Internasional sebagai Ruang Dialog
Surat-menyurat dengan kalangan Eropa memberi Kartini ruang dialog lintas budaya. Melalui korespondensi itu, ia memperkenalkan realitas perempuan Jawa kepada dunia luar sekaligus menyerap ide-ide progresif tentang emansipasi dan kemajuan.
Surat-suratnya kemudian dihimpun dan diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, yang menjadi tonggak penting dalam sejarah pemikiran Indonesia.
Dalam surat-surat tersebut, Kartini tidak bersikap inferior terhadap Barat. Ia bersikap kritis dan selektif.
Ia mengagumi kemajuan pendidikan dan kebebasan perempuan di Eropa, tetapi tetap menghargai nilai-nilai luhur budaya Jawa. Ia membayangkan sintesis antara tradisi dan modernitas, bukan peniruan membabi buta.
Korespondensi internasional itu juga memperlihatkan kapasitas analitisnya. Ia mampu membedah struktur feodalisme, praktik poligami, dan sistem perkawinan paksa yang membatasi pilihan perempuan.
Dengan bahasa yang reflektif dan argumentatif, ia menyampaikan gagasan tentang pentingnya reformasi sosial melalui pendidikan.
Visi Emansipasi yang Humanis dan Kontekstual
Emansipasi dalam pemikiran Kartini bukanlah pemberontakan tanpa arah, melainkan perjuangan yang berakar pada nilai kemanusiaan.
Ia tidak menempatkan laki-laki sebagai musuh, melainkan sebagai mitra dalam membangun masyarakat yang lebih adil. Ia percaya bahwa kemajuan bangsa tidak mungkin tercapai tanpa kemajuan perempuan.
Kartini juga memahami kompleksitas masyarakat kolonial. Ia menyadari bahwa perjuangan perempuan pribumi berbeda dengan perempuan Eropa.
Karena itu, visinya bersifat kontekstual. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan lokal, termasuk keterampilan praktis dan penguatan moral.
Gagasannya tentang pendidikan perempuan tidak hanya bertujuan menciptakan individu terdidik, tetapi juga generasi masa depan yang lebih baik.
Ia melihat perempuan sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Dengan meningkatkan kualitas perempuan, ia meyakini kualitas bangsa pun akan terangkat.
Warisan Pemikiran yang Tidak Tergantikan
Meskipun Kartini wafat pada usia muda, gagasannya terus bergema. Publikasi surat-suratnya membuka mata banyak kalangan tentang kondisi perempuan pribumi. Sekolah-sekolah perempuan yang kemudian didirikan di berbagai daerah menjadi wujud konkret dari visinya.
Pemikiran Kartini dapat dibaca sebagai embrio feminisme Indonesia yang berakar pada pengalaman lokal dan dialog global.
Ia menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari pena dan kertas, dari refleksi yang jujur terhadap realitas sosial. Dalam konteks sejarah kolonial, keberaniannya menyuarakan ketidakadilan adalah tindakan yang revolusioner.
Hari ini, ketika akses pendidikan bagi perempuan semakin luas, relevansi pemikiran Kartini tetap terasa.
Tantangan mungkin berubah bentuk, tetapi semangat literasi, kesetaraan, dan martabat manusia yang ia perjuangkan masih menjadi fondasi penting dalam pembangunan masyarakat yang inklusif.
Melalui korespondensi internasionalnya, Kartini membuktikan bahwa gagasan dapat menembus batas geografis dan budaya. Dari Jepara, ia mengirimkan suara yang melampaui zamannya, merumuskan visi emansipasi yang cerdas, humanis, dan berorientasi masa depan.
Pemikirannya mengajarkan bahwa literasi bukan hanya kemampuan teknis, melainkan kekuatan untuk membayangkan dunia yang lebih adil.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


