kisah pembalasan raja penyu cerita rakyat dari wawonii sulawesi tenggara - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Pembalasan Raja Penyu, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara

Kisah Pembalasan Raja Penyu, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara
images info

Kisah Pembalasan Raja Penyu, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara


Kisah pembalasan raja penyu merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Wawonii, Sulawesi Tenggara. Konon dulunya di sekeliling Pulau Wawonii terdapat banyak ikan penyu.

Namun terjadi sebuah masalah yang akhirnya membuat para penyu tidak terlihat lagi di sana. Bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Wawonii, Sulawesi Tenggara tersebut?

Kisah Pembalasan Raja Penyu, Cerita Rakyat dari Wawonii Sulawesi Tenggara

Dinukil dari buku Cerita Rakyat Wawonii (Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia), pada zaman dahulu laut di sekitar Pulau Wawonii dihuni oleh ribuan ekor penyu. Mereka dipimpin oleh raja penyu dan permaisurinya.

Para penyu ini beraktivitas dengan normal di pulau tersebut dulunya. Tidak hanya itu, banyak juga induk penyu yang bertelur di pantai-pantai yang ada di pulau tersebut.

Suatu masa, terjadi sebuah permasalahan yang menggemparkan para penyu yang ada di sana. Ketika musim bertelur tiba, para induk naik ke pantai seperti biasa.

Namun setelah menunggu sekian lama, tidak adapun satu ekor anak penyu yang keluar dari pasir ketika waktunya tiba. Hal ini tentu membuat risau para induk penyu yang ada di sana.

Mereka kemudian melaporkan kejadian ini pada raja penyu. Mendapatkan laporan dari rakyatnya, raja penyu menyuruh para pengawalnya untuk mencari akar dari permasalahan tersebut.

Para pengawal penyu kemudian disebar ke berbagai sisi Pulau Wawonii. Mereka mencari penyebab mengapa anak-anak penyu tidak muncul ketika waktu menetas tiba.

Usut punya usut, ternyata dua manusia tidak bertanggung jawab yang menjadi pangkal permasalahan tersebut. Kedua manusia ini ternyata mencuri semua telur begitu induk penyu kembali ke lautan.

Para pengawal kemudian menceritakan hal ini pada raja penyu. Mengetahui hal ini, raja penyu menjadi murka dan marah.

Raja penyu menyerukan pembalasan atas perbuatan kedua manusia tersebut. Dirinya kemudian mengumpulkan semua penyu untuk membahas bagaimana cara membalas perbuatan tersebut.

Semua penyu diminta pendapatnya dalam perbuatan tersebut. Salah seorang penyu berkata jika mereka mesti menyerang para manusia bersama-sama.

Sang raja menolak usulan tersebut. Sebab usul itu dirasa akan membuat banyak korban berjatuhan di pihak para penyu.

Akhirnya salah satu ekor penyu kembali memberikan usulnya. Dia berkata jika mesti menghukum salah satu dari kedua manusia tersebut.

Dia merasa jika salah satu dari mereka ditenggelamkan, maka akan memberikan efek jera bagi manusia lainnya. Sang raja pun setuju dengan usul tersebut.

Sang ratu ditunjuk langsung sebagai pelaksana dari rencana itu. Sang ratu diutus seorang diri ke pantai ketika musim bertelur tiba.

Tepat pada hari yang ditentukan, ratu penyu kemudian naik ke daratan. Ternyata kedua manusia tersebut sudah menunggu dari balik semak-semak.

Mereka melihat ratu penyu yang tak kunjung mengeluarkan telur, kedua manusia ini menjadi tidak sabar. Salah satu di antara mereka kemudian memasukkan tangannya ke ekor penyu untuk mengambil telur langsung.

Tanpa sadar, tangan yang dia masukkan masuk makin dalam. Namun masih tidak ada telur yang dapat dia ambil.

Tanpa sadar, ratu penyu langsung mengeraskan mulut ekornya. Hal ini membuat tangan manusia tersebut terjebak di sana.

Tidak menunggu lama, ratu penyu langsung menyeretnya ke dasar lautan. Teman manusia tersebut tidak bisa berbuat apa-apa melihat hal itu.

Begitu sampai di dasar lautan, semua penyu langsung menggigit manusia itu bersama-sama. Semua penyu melampiaskan emosinya atas perlakukan manusia tidak bertanggung jawab tersebut.

Raja penyu sebenarnya tidak berniat untuk membunuh manusia itu. Namun dia tidak bisa mengendalikan amarah rakyatnya, khususnya induk penyu yang sudah dicuri telur-telurnya.

Akhirnya sejak saat itu, raja penyu memerintahkan rakyatnya untuk pindah dari sana. Sejak saat itu, tidak ada lagi penyu yang menetaskan telurnya di pantai Pulau Wawonii.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.