Harus diakui, dinamika budaya maupun rasial pada masyarakat Indonesia memanglah beragam sekaligus kompleks. Disebut beragam karena bangsa ini dinilai terbuka terhadap berbagai perbedaan yang fundamental dalam sosial-budaya.
Oleh sebab keberagaman inilah, timbul suatu kompleksitas yang tidak mudah untuk dijelaskan. Dimulai sejak zaman kerajaan hingga kini, Indonesia terdiri atas pelbagai suku bangsa, adat-istiadat, kepercayaan, dan sebagainya.
Salah satu yang dibahas pada tulisan ini adalah mengenai akulturasi kebudayaan Tiongkok ke wilayah Nusantara. Dikutip dari Nationalgeographic.co.id (5/6/2021), Aris Ananta berpendapat bahwa upaya pengelompokan individu berdasarkan suku bangsa adalah tantangan yang pelik.
Secara kontekstual, orang Tionghoa yang telah lama mendiami daerah yang bukan tanah asli leluhurnya belum tentu bisa berbicara dalam bahasa Mandarin, karena belum tentu juga dibesarkan dengan budaya Tiongkok.
Sebanding dengan premis tersebut, orang dengan mata sipit belum tentu adalah orang Tionghoa, dan yang bisa berbicara bahasa Mandarin belum tentu juga orang Tionghoa tulen.
“Banyak sekali orang Tionghoa yang sudah tinggal lama di Indonesia. Para keturunan orang Tionghoa yang datang sebelum abad ke-19 kemungkinan sudah tidak menjawab lagi sebagai orang Tionghoa, terutama yang kawin campur,” terang M. Sairi Hasbullah dalam webinar bertajuk Berapa Sih Jumlah Tionghoa? Data dan Problematikanya pada 31 Mei 2021.
Adapun data statistik dari GoodStats (28/12/2024) memperkuat relevansi pernyataan sebelumnya, dengan menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan jumlah populasi diaspora Tionghoa terbanyak di dunia kurang-lebih sebesar 11,15 juta penduduk.
Membahas soal orang Tionghoa, ada satu sosok yang dinilai berjasa besar bagi Indonesia. Beliau adalah James Riady, konglomerat Tanah Air yang memiliki gurita usaha dalam berbagai sektor. Kira-kira, seperti apakah sosok beliau?
Perkenalan Singkat
Memiliki nama lengkap James Tjahaja Riady, beliau lahir di Jakarta, 7 Januari 1957. Dengan nama Tionghoa Li Bái, James Riady merupakan anak dari Mochtar Riady, seorang bankir termasyhur asal Indonesia yang mendirikan Lippo Group dan ibunya, Suryawati Lidya.
Lippo Group sendiri adalah induk perusahaan yang bergerak pada berbagai sektor, mulai dari properti, perbankan, ritel, pendidikan, hingga kesehatan. Bisa dibilang, eksistensi Lippo Group terkini adalah hasil kerja keras dari James Riady dalam mengembangkan bisnis perusahaan.
Sejak kecil, James Riady memang dididik dalam lingkungan bisnis yang disiplin dan kompetitif. Ayahnya mengirim beliau ke Macau untuk menempuh pendidikan dasar agar bisa belajar hidup mandiri sedini mungkin.
Setelah empat tahun hidup di sana, James Riady kemudian pindah ke Australia dan melanjutkan studi di University of Melbourne. Beliau menetap di sana sekitar 8 tahun lamanya.
Setelah lulus studi, James dikirim ke Amerika Serikat untuk belajar secara langsung soal dunia perbankan. Di usianya ke-18 tahun, beliau bekerja di Irving Trust Banking Company; di sinilah perjalanan karier James Riady bermula.
Riwayat Karier
Sekitar setahun bekerja di Irving Trust, James Riady berpindah ke Arkansas dan mendirikan Worthen Bank dengan modal awal US$ 20 juta. Pendirian ini adalah penugasan dari ayahnya, dengan adanya bujukan dari bankir lokal, yang diketahui bernama W. R. Witt Stephens dan Jackson T. Stephens.
Sebagai informasi, kedua orang ini merupakan pendiri Stephens Inc., bank investasi diluar Wall Street. Ini bisa terjadi dikarenakan Jackson Stephens sendiri adalah sahabat dari Mochtar Riady.
Berkat relasi dan profesionalisme inilah, James Riady berkesempatan untuk berkenalan dengan gubernur Arkansas saat itu, Bill Clinton yang kelak menjadi presiden Amerika Serikat.
Kesempatan ini muncul saat Clinton mencalonkan diri di tahun 1992, James memberikan dukungan finansial yang cukup besar pada masanya, dengan total sumbangan mencapai lebih dari US$ 475.000 sejak 1991 kepada partai Demokrat sebagai pengusung Bill.
Setelah menang terpilih sebagai presiden, hubungan mereka semakin intens, dengan peluang bisnis yang juga terbuka lebar.
Dari sini, perkembangan bisnis James Riady semakin besar melalui pembelian Bank of Trade di California, bank Tiongkok-AS tertua. Tidak lama setelah itu, beliau pindah ke Los Angeles dan mendirikan cabang dari Lippo Bank dengan bantuan bankir asal Taiwan yang merupakan tangan kanan ayahnya, John Huang sebagai pengawas.
Setelah menjadi CEO Lippo Group, James Riady sukses memajukan beberapa anak perusahaan. Diketahui perusahaan tersebut seperti Lippo Bank, PT. Lippo Karawaci Tbk, PT. Lippo Cikarang Tbk, dan PT. Matahari Putra Prima Tbk.
Selain berfokus pada bisnis dan perbankan, James juga mengembangkan sektor pendidikan dengan mendirikan Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), yang membawahi Sekolah Pelita Harapan dan Universitas Pelita Harapan.
Sementara di sektor kesehatan, beliau membangun Siloam Hospitals yang kini menjadi salah satu jaringan rumah sakit swasta terbesar di Indonesia.
Tak hanya itu, James Riady juga diketahui aktif dalam bidang humaniora dan olahraga, termasuk sebagai penjabat Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan ketua pendanaan di Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).
Kasus yang Melibatkan Beliau
Sepak-terjang James Riady sejatinya tidaklah lepas dari berbagai kasus yang ada. Sebagai contoh, pada tahun 2001, beliau terkena dakwaan oleh pengadilan Los Angeles atas pelanggaran hukum terkait sumbangan dana ilegal untuk kampanye politik Bill Clinton.
James mengakui kekeliruan ini dan bersedia membayar denda sekitar US$ 8,6 juta. Kemudian, perkembangan cabang Lippo Bank di Los Angeles juga tidak membawa kabar baik karena kredit macet serta pelanggaran undang-undang terkait pencucian uang.
Yang terbaru, James Riady sempat diperiksa sebagai saksi oleh KPK atas dugaan kasus suap dalam perizinan megaproyek Meikarta.
Pembelajaran dan Motivasi
Terlepas dari kasus kontroversial yang menyertainya, James Riady merupakan sosok yang layak diteladani oleh generasi muda Indonesia. Dalam hal ini, terdapat beberapa hal yang bisa dipetik hikmahnya.
Pertama, beliau dikenal oportunis dan berani mengambil risiko. Sebagai pengusaha, terkadang ada satu momen di mana yang disebut sebagai “tindakan ekstrem” mau tak mau harus dilakukan, bahkan jika itu mempertaruhkan reputasi dan kredibilitas. Sebagai penyeimbang, bertanggung jawab dan konsekuen sudah menjadi ‘penawarnya’.
Kedua, beliau adalah orang yang ulet, yang memperjuangkan kariernya untuk kemaslahatan masyarakat termasuk keluarganya. Ketiga, beliau sangat memperhatikan nilai dari pendidikan, dengan terbukti bersedia mendirikan yayasan untuk memajukan pendidikan Indonesia.
Jika James Riady saja bisa seperti itu, maka Kawan GNFI juga pasti bisa!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


