Timor Leste memiliki patung Yesus Kristus yang sangat ikonik; Patung Cristo Rei. Patung ini tampak gagah berdiri di Cape Fatucama, Dili, dan dipadukan dengan latar biru serta panorama teluk yang indah.
Patung Cristo Rei merupakan salah satu tempat wisata religi di Timor Leste. Jika dilihat, patung kolosal Yesus Kristus ini unik karena seakan berdiri di atas “bumi”.
Dengan tinggi sekitar 27 meter, patung ini cukup mudah dilihat dari berbagai sudut kota. Konon, tingginya sengaja dibuat 27 meter karena menggambarkan integrasi Timor Timur sebagai provinsi ke-27 Indonesia saat itu.
“Hadiah” Pemerintah Indonesia untuk Timor Leste
Patung ini aslinya merupakan “hadiah” dari pemerintah Indonesia kepada Timor Leste. Saat itu, Presiden Soeharto ingin merayakan 20 tahun integrasi Timor Timur ke Indonesia.
Perkiraan total biaya yang dihabiskan untuk membangun patung tersebut adalah lebih dari Rp5 miliar. Merangkum dari berbagai sumber, proses pengerjaan patung ini memakan waktu hampir setahun.
Uniknya, meskipun patung ini merupakan simbol keagamaan umat Katolik, tapi Patung Cristo Rei dibuat oleh seniman Muslim asal Indonesia, Mochammad Syailillah alias Bolil. Demi membangun patung yang sesuai, ia berkonsultasi dengan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia di Jakarta.
Patung dibuat di Bandung. Pengerjaannya dilakukan oleh Bolil bersama puluhan pekerja lainnya. Setelah pengerjaan yang cukup lama, patung selesai dibuat pada 1996.
Peresmian patung tersebut dilakukan di bulan Oktober 1996. Patung ini juga sempat memegang rekor patung tertinggi di Indonesia kala itu.
Namun, pembangunan Patung Cristo Rei tak luput dari kritikan berbagai pihak, termasuk tokoh gereja. Di masa itu, pejuang-pejuang Timor Leste memang tengah mengupayakan agar Timor Timur bisa merdeka.
Simbol Sejarah dan Ikon Timor Leste
Saat Soeharto lengser dan estafet kepemimpinan Indonesia dipegang BJ Habibie, banyak hal yang berubah, termasuk status Timor Timur. Presiden Habibie memberikan “kebebasan” kepada rakyat Timor Leste untuk menentukan nasibnya sendiri; tetap bersama Indonesia atau merdeka.
Akhirnya, dibuatlah referendum pada 1999. Hasilnya sesuai prediksi, mayoritas rakyat Timor Leste memilih untuk merdeka.
Setelah merdeka, Timor Leste melakukan rangkaian upaya untuk membangun identitas nasional baru dan melepaskan diri dari pengaruh masa lalu saat masih menjadi bagian Indonesia. Meskipun demikian, Timor Leste tetap menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa kerja bersama dengan bahasa Inggris.
Berbagai bangunan peninggalan Indonesia pun ikut diubah. Namun, tidak dengan Patung Cristo Rei. Patung yang juga dikenal dengan Patung Kristus Raja Dili ini dibiarkan tetap berdiri kokoh.
Pemerintah Timor Leste merawat dan melestarikan patung ini dengan baik. Bahkan, patung juga pernah direnovasi.
Namun, ada hal menarik lain soal patung ini. Awalnya, dikatakan bahwa Cristo Rei mengarah ke arah Jakarta. Namun, gubernur setempat meminta agar patung tersebut diarahkan menghadap ke Dili.
Walhasil, patung ini dianggap sebagai simbol harapan, kebebasan, dan berkat bagi warga Timor Leste yang merdeka. Tak heran jika hingga saat ini, Cristo Rei menjadi lokasi andalan masyarakat Timor Leste yang ingin berwisata religi atau sekadar berkeliling menikmati keindahan alam sekitar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


