riwayat hidup cak nur dan kiprahnya dalam pembaruan islam - News | Good News From Indonesia 2026

Riwayat Hidup Cak Nur dan Kiprahnya dalam Pembaruan Islam

Riwayat Hidup Cak Nur dan Kiprahnya dalam Pembaruan Islam
images info

Riwayat Hidup Cak Nur dan Kiprahnya dalam Pembaruan Islam


Dalam perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, terdapat sejumlah tokoh yang memberi warna baru melalui gagasan-gagasannya yang segar dan kontekstual.

Salah satu sosok yang menonjol adalah Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan muslim yang dikenal luas karena pandangannya yang terbuka, moderat, dan relevan dengan tantangan zaman.

Melalui pemikiran serta kiprahnya di bidang intelektual dan pendidikan, ia turut membentuk arah diskursus keislaman Indonesia menjadi lebih inklusif dan dialogis.

Nurcholish Madjid lahir pada 17 Maret 1939 di Jombang, Jawa Timur. Ia dikenal sebagai salah satu cendekiawan dan pemikir Islam terkemuka yang memiliki peran besar dalam mendorong pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. 

Ayah Nurcholish, Haji Abdul Madjid, dikenal memiliki kedekatan hubungan dengan KH Hasyim Asy’ari, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng di Jombang. Hubungan tersebut terjalin dengan baik dan penuh keakraban. (Nurcholish Madjid (1939-2005)(Gagasan-Gagasan Pembaruan Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia), 2021)

Ia mengusung gagasan Islam yang inklusif, menjunjung tinggi toleransi, serta mampu berdialog dengan perkembangan zaman modern. Corak pemikirannya banyak berakar pada nilai-nilai al-Qur’an dan hadis, sekaligus diperkaya melalui interaksi dengan tradisi intelektual Barat. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Cak Nur. 

Bersama keluarganya, Nurcholish menghabiskan dan menikmati masa kanak-kanaknya di Jombang. Memasuki usia remaja, sebagian besar waktunya diisi dengan kehidupan pesantren sebagai tempat ia menimba ilmu agama. Ia pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso pada tahun 1955, sebelum kemudian melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Pondok Modern Gontor.

Di pondok inilah Nurcholish mulai membangun fondasi serta basis intelektualnya. Lingkungan pendidikan tersebut membentuk kapasitas keilmuannya, termasuk mengantarkannya menguasai bahasa Arab dan Inggris dengan baik.

Setelah itu, Nurcholish Madjid melanjutkan studi ke Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah Jakartayang saat itu masih bernama IAIN. Ia menyelesaikan program sarjana (B.A) hingga doktorandus pada tahun 1968.

Kesempatan akademiknya kemudian membawanya melanjutkan studi ke University of Chicago, Amerika Serikat, hingga meraih gelar Ph.D dalam bidang Ilmu Kalam dan Filsafat.

Ia menulis disertasi berjudul “Ibn Taimiya on Kalam and Falsafah: Problem of Reason and Revelation in Islam” di bawah bimbingan Profesor Fazlur Rahman, seorang sarjana Muslim asal Pakistan. Fazlur Rahman dikenal luas sebagai akademisi yang sangat mendalami studi pemikiran Islam dan saat itu mengajar di University of Chicago. (Sekularisasi: membongkar
kerancuan pemikiran Nurcholish Madjid, 2008)

Sebagai mahasiswa, Nurcholish tidak hanya menunjukkan keseriusan dalam menekuni studi akademiknya di fakultas, tetapi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan. Ia kerap terlibat dalam forum diskusi, baik di dalam maupun di luar kampus, serta berpartisipasi dalam beragam aktivitas ekstrakurikuler yang semakin memperkaya wawasan intelektual dan pengalaman organisasinya.

Pesona dan kharisma tokoh asal Jombang ini memang begitu kuat. Nurcholish Madjid kerap dipandang sebagai salah satu figur penting dalam arus pembaruan pemikiran Islam di Indonesia.

Melalui gagasan-gagasannya, seperti konsep teologi Islam inklusif serta wacana sekularisasi yang ia populerkan sejak era 1970-an, ia tampil sebagai intelektual sekaligus pembaharu yang berada di barisan terdepan dalam dinamika pemikiran Islam di tanah air. (Koreksi Terhadap Drs. Nurcholis Madjid Tentang Sekularisasi, 1972).

Meski demikian, tidak bisa dimungkiri bahwa ide-ide yang ia kemukakan juga memicu perdebatan panjang. Pemikirannya kerap menimbulkan polemik dan diskusi mendalam, khususnya di kalangan elit intelektual Muslim, yang menanggapi gagasan-gagasannya dengan beragam sudut pandang, dari yang mendukung hingga yang mengkritisi.

Pada sekitar dekade 1970-an, gagasan-gagasan yang disampaikan Cak Nur sempat mengguncang dunia pemikiran Islam di Indonesia. Ia mengemukakan pentingnya sekularisasi dalam konteks pembaruan kehidupan keagamaan dan sosial.

Pandangannya tersebut bahkan membuat Muhammad Kamal Hassan mengategorikannya dalam tipologi “modernis-sekuler,” sebagai bentuk penilaian atas corak pemikiran yang ia kembangkan.

Besarnya dedikasi Nurcholish Madjid terhadap pengembangan keilmuan, dunia pendidikan, serta pembaruan pemikiran Islam ia wujudkan secara nyata melalui pendirian Yayasan Wakaf Paramadina pada tahun 1986. Lembaga ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar konkretnya dalam membangun ruang intelektual yang lebih terbuka dan progresif.

Melalui Yayasan Wakaf Paramadina, Nurcholish berupaya mendorong peningkatan kualitas kehidupan intelektual umat Islam, sekaligus mempercepat proses pembumian gagasan-gagasan pembaruannya.

Ia berharap ide-ide yang selama ini berkembang dalam ranah wacana dapat lebih membumi, dipahami luas, dan memberi dampak nyata bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. (Nurcholish Madjid (1939-2005)(Gagasan-Gagasan Pembaruan Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia), 2021)

Sebagai pendiri Yayasan Paramadina, yang kemudian berkembang menjadi institusi pendidikan, Cak Nur memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan wacana keislaman di Indonesia. Ia wafat pada 29 Agustus 2005, namun warisan pemikiran dan gagasannya tetap hidup serta terus memberi pengaruh dalam diskursus Islam hingga sekarang. (dilansir dari bukunesia.com)

Sebagai penutup, Nurcholish Madjid dapat dipandang sebagai salah satu tokoh kunci dalam pembaruan pemikiran Islam di Indonesia yang berhasil menjembatani nilai-nilai keislaman dengan tuntutan modernitas.

Latar belakang pendidikan pesantren yang kuat, dipadukan dengan pengalaman akademik internasional, membentuk corak pemikirannya yang inklusif, rasional, dan dialogis.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.