Kita pernah melihat tayangan film atau breaking news di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat, di mana pemerintah negara bagian atau wali kota, kepolisian, atau tokoh masyarakat memberi penghargaan kepada seseorang yang dianggap sebagai hero atau pahlawan lantaran berhasil menyelamatkan korban bencana, misalkan dari kejadian kebakaran hebat. Korban itu bisa manusia dewasa, bisa anak kecil/bayi, bisa juga seekor binatang peliharaan.
Sejatinya para “pahlawan” itu tidak hanya orang dari negara-negara seperti Amerika Serikat itu, namun ada beberapa yang berasal dari Indonesia di mana sikap saling menolongnya terhadap sesama sangat tinggi. Sebuah sikap yang sudah menjadi DNA atau bagian dari budaya luhur bangsa Indonesia.
Tidak semua di antara kita yang ingat suatu kejadian pada tahun 2013, media Taiwan memberitakan aksi heroik tenaga migran wanita asal Indramayu, Indonesia bernama Sarini yang waktu itu berusia 35 tahun, yang berhasil menyelamatkan jiwa majikannya. Media Taiwan itu melaporkan kejadian di mana tiba-tiba sang majikan, seorang wanita tua, melompat dari kursi rodanya ke aliran sungai yang deras. Sarini yang tidak bisa berenang dengan susah payah menceburkan dirinya ke sungai itu, berhasil memeluk majikan wanitanya itu dan menyelamatkan nyawanya. Sontak media Taiwan memberitakan luas berita ketulusikhlasan Sarini menyelamatkan wanita tua dan juga memberitakan pemerintah daerah di mana Sarini berada memberikan penghargaan pada Sarini. Media di Indonesia kala itu tidak banyak yang memberitakan berita ini. Kejadian itu tepatnya terjadi pada tanggal 17 April 2013.
Ada lagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang juga berasal dari Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sugianto (31) namanya, menerima penghargaan—tidak tanggung-tanggung—dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae-Myung. Sugianto dinilai berjasa atas aksi kemanusiaannya dalam peristiwa kebakaran hutan di Yeongdeok, Provinsi Gyeongsang Utara, pada Maret 2025 lalu. Penghargaan tersebut diserahkan dalam sebuah acara resmi kenegaraan kepada 11 individu yang dinilai berjasa di bidang olahraga, budaya, pelayanan publik, dan kemanusiaan.
Sugianto menjadi salah satu penerima penghargaan berkat keberaniannya mengevakuasi warga lanjut usia dari permukiman yang terdampak kebakaran hutan. Dalam peristiwa tersebut, Sugianto yang bekerja sebagai awak kapal perikanan berinisiatif membangunkan warga, mengetuk pintu rumah satu per satu, serta menuntun dan menggendong para lansia keluar dari lokasi berbahaya hingga seluruh korban berhasil diselamatkan, meskipun dilakukan di tengah medan berbukit dan keterbatasan sarana penerangan akibat lumpuhnya listrik dan komunikasi.
Atas aksi kemanusiaan tersebut, Presiden Korea Selatan menganugerahkan medali dan penghargaan secara langsung kepada Sugianto, pemuda asal Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung itu. Pemerintah Korea Selatan juga tengah mempertimbangkan pemberian visa jangka panjang (F-2) sebagai bentuk apresiasi lanjutan. Penghargaan ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi bagi Sugianto, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia, khususnya Kabupaten Indramayu, di tingkat internasional, serta menunjukkan kontribusi positif dan peran kemanusiaan Pekerja Migran Indonesia di luar negeri.
Nah, di tahun 2026 ini muncul lima pahlawan kemanusiaan dari Indonesia yang juga dengan kesadaran mereka menyelamatkan seorang korban. Kejadiannya di negara Jepang. Kelima WNI tersebut adalah Puji Atun dan Widyawati Firda Saputri asal Cilacap, Novita Rohmah Danti dari Banyumas, Nira Nur Marisa asal Purwakarta, serta Elly Widyawati dari Ponorogo. Mereka bekerja di sektor pertanian di Kota Kumamoto.
Peristiwa itu terjadi di Minami-ku pada 15 Januari 2026 sekitar pukul 20.30 waktu setempat, ketika suhu udara ekstrem berada di kisaran 10–11 derajat Celsius. Seorang lansia terlihat berdiri mematung di dalam parit tanpa sarung tangan dan penutup kepala, diduga terjatuh dan tidak mampu keluar sendiri. Kejadian bermula saat Puji Atun, Widyawati, dan Novita Rohmah bersepeda sepulang kerja. Mereka mendengar teriakan minta tolong dari lansia tersebut. “Sang nenek terdengar minta tolong, ‘tasukete, tasukete’. Lalu kita berhenti saat bersepeda dan langsung membantu sang nenek,” tutur Novita, dikutip dari Tribunnews, Minggu (1/2).
Menyadari situasi darurat, ketiganya memanggil dua rekan yang fasih berbahasa Jepang, Nira Nur Marisa dan Elly Widyawati. Keduanya berlari menuju korban terdekat yang berjarak sekitar 10 menit, namun pos tersebut kosong dan hanya menyisakan instruksi untuk menghubungi nomor darurat 110.
Sambil menunggu bantuan, kelima PMI melakukan pertolongan pertama untuk mencegah hipotermia. Tubuh lansia diselimuti jas hujan, dilengkapi topi dan sarung tangan milik mereka, termasuk menutup bagian kaki. “Bahkan kita kasih sarung tangan dan topi biar tidak kedinginan. Kakinya pun kita tutupi dengan jas hujan pula,” ungkap mereka.
Sekitar 30 menit kemudian, petugas kepolisian tiba. Karena lansia itu tidak mengingat alamat rumahnya, polisi memintanya menuliskan namanya dalam aksara Kanji untuk proses identifikasi sebelum dibawa ambulans ke fasilitas kesehatan. Aksi tersebut dilaporkan kepolisian kepada perusahaan tempat para PMI bekerja, Fasilitas Sortir Sayuran Kota Kumamoto JA (Japan Agricultural Cooperatives). Sehari-hari, kelimanya bertugas melakukan pengepakan terong, melon, tomat, paprika, dan pare.
Pada 29 Januari 2026, kelima PMI diundang ke Kantor Kepolisian Kumamoto Minami dan menerima penghargaan Kansha-jo sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan empati. Pimpinan perusahaan, Uchida, menyampaikan kebanggaannya atas tindakan para karyawan asal Indonesia. Menurutnya, mereka dikenal rajin dan konsisten dalam bekerja sejak perekrutan pekerja Indonesia dimulai pada 2023. Saat ini, kelimanya berstatus Tokutei Ginou 1 dan menargetkan peningkatan ke Tokutei Ginou 2 agar dapat bekerja lebih lama di Jepang serta membawa keluarga.
Berita di atas seakan menjadi berita penyejuk bagi kita di Indonesia ini karena di tengah-tengah berita tentang Operasi Tangkap Tangan KPK terhadap pelaku tindak korupsi; berita tentang anak kecil yang bunuh diri di NTT karena ibunya tidak mampu membelikan buku dan pena, berita geng motor, berita carut-marut politik dsb., dsb.—ada segelintir anak bangsa di luar negeri yang mendapatkan penghargaan karena aksi kemanusiaan mereka yang tanpa pamrih.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


