kota ende kota pancasila yang jadi saksi lahirnya dasar negara - News | Good News From Indonesia 2026

Kota Ende, Kota Pancasila yang Jadi Saksi Lahirnya Dasar Negara

Kota Ende, Kota Pancasila yang Jadi Saksi Lahirnya Dasar Negara
images info

Kota Ende, Kota Pancasila yang Jadi Saksi Lahirnya Dasar Negara


Di mata pelajaran Sejarah semasa sekolah, Kawan GNFI pasti mempelajari rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh tiga tokoh nasional; Moh. Yamin, Soepomo, dan Soekarno. Ketiganya menyampaikan pandangannya tentang dasar negara dalam sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) di Jakarta pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945.

Hasilnya, usulan dasar negara milik Soekarno yang dinamakan “Pancasila” dipilih. Kata “Pancasila” yang diambil dari bahasa Sansekerta itu hingga kini dijadikan sebagai ideologi negara. Bahkan, hari di mana Soekarno menyampaikan usulan Pancasila, yaitu 1 Juni 1945 juga ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila.

Namun, tahukah Kawan GNFI jika ternyata Soekarno mendapatkan “ilham” perumusan Pancasila saat diasingkan oleh Belanda? Bukan di Jakarta, Soekarno pernah diasingkan ke Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) selama empat tahun, terhitung dari 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938.

Di Kota Ende inilah Soekarno mendapatkan ide cemerlang terkait dasar negara. Berkat ikatan sejarahnya yang kuat, Kota Ende pun disebut sebagai Kota Pancasila.

Kota Pancasila yang Jadi Saksi Lahirnya Dasar Negara

Kisah pengasingan Soekarno ke Ende tak lepas dari propaganda yang ia lakukan. Tahun 1926, Bapak Proklamator ini mengajak segenap rakyat Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa sekaligus bahasa perjuangan.

Ia selalu menyelipkan semangat di setiap pidatonya demi membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang melawan Belanda. Tak hanya berpidato, Soekarno juga getol menulis yang bertujuan sama; menentang Belanda dan mengajak rakyat untuk melawan penjajah.

Walhasil, akibat propaganda yang ia lakukan, Belanda pun mengasingkan Soekarno dan keluarganya ke Pulau Flores, NTT. Ia ditempatkan di Kota Ende yang saat itu masih menjadi kawasan terpencil.

Kehidupannya di Ende sangat berbeda dengan di Jawa. Bung Karno tidak bebas berpidato karena diawasi Belanda. Bahkan, jika ada warga yang berhubungan dengan Soekarno, Belanda tak segan akan menghukum atau memecat mereka dari pekerjaannya.

Bukan Soekarno namanya kalau tak punya sejuta akal cerdik. Disadur dari buku bertajuk Soekarno di Pengasingan Ende 1934-1938, ia membentuk Sandiwara/Toneel Kalimutu.

Lewat sandiwara ini, ia menggelorakan semangat perjuanga masyarakat Ende. Ada sekitar 12 naskah yang ditulisnya. Naskah yang paling tenar adalah Indonesia’45.

Selain itu, ia juga banyak beradaptasi dengan lingkungan Ende. Soekarno mengisi hari-harinya dengan membaca buku ajaran Islam, surat kabar, pengetahuan umum, dan buku dari Eropa.

Lebih lanjut, dalam tulisan Samingan dan Yosef Tami Roe dalam jurnal Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, diteranngkan jika Soekarno juga belajar agama Kristen. Ia turut bersahabat degan pastor-pastor dan para bruder.

Dari sini, Soekarno melihat dan mengenal makna keberagaman budaya dan agama lebih mendalam. Ia banyak berdikusi dengan pastor terkait banyak hal, termasuk perumusan Pancasila.

Soekarno sering merenung. Lokasi andalannya untuk merenung adalah di bawah pohon sukun di barat Lapangan Perse, Ende. Di sini, ia mendapatkan ide konsep dasar falsafah negara. Konsepan yang dia buat di bawah pohon itulah yang ia bawa saat bersidang di Jakarta.

Pohon sukun asli yang dipakai Soekarno untuk merenung sudah tiada. Namun, pada 1981, ditanamlah pohon serupa di tempat yang sama. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Ende menjadikan tempat “perenungan” itu menjadi Taman Renungan Bung Karno.

Rumah tempat tinggalnya di Ende juga dijadikan museum. Keterkaitan Kota Ende dengan munculnya Pancasila kemudian membuat daerah ini dijuluki dengan Kota Pancasila atau Kota Lahirnya Pancasila.

Ende yang Indah

Kota Ende aslinya adalah ibu kota Kabupaten Ende, NTT. Kabupaten Ende sendiri dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di wilayah Bali, NTB, dan NTT.

Dulunya, Kota Ende adalah lokasi berdirinya sebuah kerajaan. Daerah ini menjadi pusat aktivitas politik, pemerintahan, sampai perdagangan.

Suku Ende menjadi suku mayoritas di Kota Ende. Namun, ada juga Suku Lio yang juga banyak mendiami daerah ini.

Selain sejarahnya, Ende terkenal dengan wisata alamnya yang ciamik. Taman Nasional Kelimutu dengan danau tiga warna yang indah itu ada di Ende.

Selain itu, ada pula Pantai Batu Biru, Desa Adat Saga, Air Terjun Murudhaekale, dan masih banyak lainnya. Beberapa tempat juga dijadikan Desa Wisata oleh pemerintah untuk mendongkrak ekonomi lokal.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.