indonesia butuh lebih banyak ruang aman untuk remaja - News | Good News From Indonesia 2026

Indonesia Butuh Lebih Banyak Ruang Aman untuk Remaja

Indonesia Butuh Lebih Banyak Ruang Aman untuk Remaja
images info

Indonesia Butuh Lebih Banyak Ruang Aman untuk Remaja


Remaja Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia yang bergerak cepat. Nilai, prestasi, dan citra diri seolah menjadi ukuran utama keberhasilan. Sejak usia muda, mereka sudah akrab dengan target, kompetisi, dan ekspektasi. Di satu sisi, ini membuka peluang besar. Namun di sisi lain, tidak sedikit remaja yang kelelahan secara emosional, bahkan sebelum benar-benar mengenal siapa dirinya.

Mereka terlihat kuat di luar. Aktif di kelas, ramai di media sosial, dan tampak baik-baik saja. Akan tetapi di dalam, banyak yang sedang belajar bertahan

Tekanan Zaman yang Dihadapi Remaja

Remaja hidup di era ketika segalanya serba dibandingkan. Nilai rapor, jumlah pengikut, prestasi lomba, hingga gaya hidup menjadi etalase penilaian. Mereka dituntut untuk selalu tampil berhasil, produktif, dan “normal”.

Akibatnya, kegelisahan, rasa tidak aman, dan kebingungan yang sebenarnya wajar dalam proses tumbuh sering dianggap sebagai kelemahan. Banyak remaja akhirnya memilih diam. Mereka takut dianggap berlebihan, manja, atau tidak bersyukur.

Padahal, tidak semua luka perlu disembunyikan. Ada yang justru perlu didengarkan.

Makna Ruang Aman bagi Perkembangan Remaja

Ruang aman (safe space) bukan sekadar tempat fisik, tetapi suasana. Ia adalah lingkungan yang memungkinkan remaja berbicara tanpa takut disalahkan, bertanya tanpa merasa bodoh, dan mengekspresikan emosi tanpa dihakimi.

Ruang aman tidak berarti tanpa batas atau aturan. Justru di sanalah remaja belajar tentang tanggung jawab, empati, dan keberanian menjadi diri sendiri. Dalam ruang seperti ini, mereka merasa dihargai sebagai manusia utuh bukan sekadar siswa, anak, atau objek harapan orang lain.

Di sanalah kepercayaan diri tumbuh, bukan karena dipuji, tetapi karena dimengerti.

Dampak Minimnya Ruang Aman

Ketika ruang aman tidak tersedia, remaja cenderung memendam semuanya sendiri. Mereka terlihat baik-baik saja di luar, tetapi berjuang sendirian di dalam. Rasa takut, cemas, dan bingung dibiarkan menumpuk.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menggerus kepercayaan diri, menurunkan fokus belajar, dan memengaruhi kesehatan mental. Remaja bisa kehilangan arah, bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka tidak pernah diberi ruang untuk memahami dirinya sendiri.

Diam yang terlalu lama bisa berubah menjadi jarak.

Peran Sekolah, Keluarga, dan Komunitas

Ruang aman tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja. Sekolah dapat menciptakan iklim belajar yang lebih inklusif dan empatik bukan hanya mengejar nilai, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional siswa.

Keluarga perlu membuka ruang dialog dua arah, di mana anak tidak hanya didengar ketika berprestasi, tetapi juga ketika sedang rapuh. Komunitas dapat menjadi tempat remaja merasa diterima apa adanyatanpa harus menjadi versi “sempurna” dari siapa pun.

Ketika ketiganya saling menguatkan, remaja tidak hanya dididik secara akademis, tetapi juga didampingi secara manusiawi.

Menuju Generasi Muda yang Utuh

Indonesia tidak kekurangan generasi muda yang cerdas dan berbakat. Yang masih perlu diperkuat adalah ekosistem yang membuat mereka merasa aman untuk tumbuh bukan hanya cepat, tetapi juga sehat. Remaja yang hari ini merasa didengar, akan menjadi orang dewasa yang esok hari mampu mendengarkan.

Remaja yang hari ini merasa aman, akan menjadi warga yang peduli dan bertanggung jawab di masa depan. Karena bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh otak-otak cemerlang, tetapi oleh hati-hati yang pernah diberi ruang untuk bertumbuh.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.