Secara harfiah, musik merupakan sekumpulan bunyi harmonis yang umumnya tersusun atas komponen ritmis dan melodis. Bunyi yang berasal dari getaran suara bernada milik penyanyi, diiringi dengan alat musik akan menciptakan suatu lagu. Lagu akan menggambarkan genre yang tersampaikan secara implisit, misalnya pop, rock, R&B, ballad, jazz, reggae, retrowave, dangdut, dan sebagainya.
Lagu memiliki utilitas yang bervariasi. Sejauh yang diketahui, lagu dapat berperan sebagai alat propaganda, media bercerita, bentuk ekspresi individual, maupun murni untuk mengaktualisasikan kreativitas. Setiap negara biasanya dapat dikenali berdasarkan kaidah linguistik serta genre yang menjadi ciri khas melalui representasi lagu.
Baru-baru ini, para warganet menemukan adanya semacam ‘kebetulan’ pada trek lagu yang digubah oleh ABBA, band group kondang asal Stockholm, Swedia yang didirikan oleh Agnetha Fältskog, Björn Ulvaeus, Benny Andersson, dan Anni-Frid Lyngstad pada tahun 1972. Trek yang dimaksud di sini adalah Gimme! Gimme! Gimme! (A Man After Midnight) yang rilis tahun 1979. Wah, memang ‘kebetulan’ apa yang ditemukan oleh warganet?
Korelasi 'Tidak Langsung' Antara Trek Lagu ABBA dengan Benyamin Sueb
Sekadar informasi, Gimme! Gimme! Gimme! (A Man After Midnight) adalah salah satu lagu paling populer secara global, bersanding dengan Lay All Your Love On Me, Dancing Queen, dan Waterloo. Lagu tersebut bahkan telah dilakukan sampling oleh musisi ternama, yaitu Madonna dengan Hung Up (2005). Selain itu, lagu Don’t Start Now karya Dua Lipa (2020) juga diisukan terpengaruh oleh melodi dari Bul Bul Efendi.
Secara kronologis, Gimme! Gimme! Gimme! (A Man After Midnight) dirilis satu tahun setelah lagu Bul Bul Efendi karya Benyamin Sueb hadir, tepatnya pada tahun 1978. Di Indonesia, Benyamin Sueb sendiri merupakan salah satu seniman Betawi yang melegenda pada periode 1970 dan 1980-an, seperti halnya komedian Malih dan Bolot, Mpok Nori, Haji Bokir, dan sebagainya.
Satu hal yang dianggap ‘kebetulan’—lebih tepatnya disebut mirip adalah melodi Gimme! Gimme! Gimme! dengan Bul Bul Efendi, yang bila didengarkan secara saksama terasa sangat sinkron. Salah satu YouTuber mancanegara, Jarred Jermaine bahkan membuatkan video pendek kompilasi bandingan antara Gimme! Gimme! Gimme! (A Man After Midnight) dan Bul Bul Efendi.
Kontroversi Seputar Teknik Sampling
Sampai saat ini, masih terjadi perdebatan panjang mengenai teknik sampling dalam dunia musik. Ada yang menyebut jika 8 bar dalam lagu sudah serupa, itu dikategorikan sebagai plagiarisme. Namun, ada juga yang berpandangan lain jika 2 bar saja ditemukan serupa dalam sebuah lagu, maka itu sudah termasuk plagiat.
Mengacu pada historinya, emastered.com (24/10/2024) menjelaskan bahwa pembuatan musik dengan teknik ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1940-an. Kala itu, komposer asal Prancis, Pierre Schaeffer mulai melakukan eksperimen suara, menggunakan apa saja seperti contohnya suara kereta api hingga ucapan manusia.
Dia akan memanipulasi rekaman suara tersebut, menyambung dan mengulangnya hingga tercipta suatu komposisi musik berbasis sampel yang baru dan pas.
Maju ke dekade 1960-an, Delia Derbyshire mengerjakan sebuah proyek terobosan yang inovatif pada masanya. Di BBC Radiophonic Workshop, dia memanipulasi loop tape dan osilator untuk menciptakan musik tema acara televisi Doctor Who yang ikonis waktu itu, yang ditulis oleh komposer Ron Grainer.
Apa yang dilakukan Derbyshire ini dinilai sebagai purwarupa dari teknik sampling, dengan menggunakan teknologi berupa pembengkokan dan pembentukan ulang suara menjadi sesuatu yang futuristik.
Pada periode yang sama, Mellotron juga telah ditemukan. Instrumen ini memanfaatkan loop tape guna menciptakan kembali suara instrumen orkestra, sehingga memungkinkan para musisi untuk “mengutak-atik” senar, paduan suara, dan berbagai jenis instrumen lainnya sebelum sampler terkenal pada era modern kini. Lagu berjudul Strawberry Fields Forever karya The Beatles dianggap mengaplikasikan Mellotron dalam gubahannya.
Memasuki periode 1970-an, perkembangan synthesizer awal sepertiSynclavier dan Fairlight CMI dianggap sebagai perintis dalam penciptaan musik berbasis sampling. Instrumen tersebut memungkinkan musisi untuk mengambil sampel audio di dunia nyata, memanipulasinya lalu mengubahnya menjadi musik kekinian.
Meskipun memang teknologi semacam ini hanya dapat diakses oleh studio dan artis papan atas, akan tetapi ini membuka pintu bagi eksperimen musik kreatif.
Tampaknya, hal tersebut berlaku pula pada proses penggubahan trek lagu Gimme! Gimme! Gimme! (A Man After Midnight) dan Bul Bul Efendi. Mengingat kedua lagu ini diciptakan pada dekade ’70-an akhir, terasa masuk akal bahwa melodi yang digunakan erat kaitannya dengan teknik sampling.
Selain itu, FROYONION.COM (14/5/2023) berpendapat bahwa lagu karya ABBA maupun Benyamin Sueb tersebut merupakan lagu jadul era 1970-an, di mana saat itu belum begitu ramai akan hak cipta serta internet yang belum semaju sekarang, yang memudahkan dalam pelacakan similaritas antarmelodi.
Apakah Kawan GNFI setuju kalau Gimme! Gimme! Gimme! (A Man After Midnight) (mungkin saja) terinspirasi dari Bul Bul Efendi?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


