Di tengah aliran Sungai Brantas yang membelah Jawa Timur, berdiri sebuah bangunan air yang sering luput dari perhatian. Ialah Bendung Gerak Waru Turi. Infrastruktur penting yang menjadi tulang punggung pengairan dan pengendalian air di wilayah Kediri dan sekitarnya.
Bendung Gerak Waru Turi berlokasi di Desa Gampeng, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Meski kerap disebut “bendungan”, secara teknis Waru Turi adalah bendung gerak. Bangunan yang dirancang untuk mengatur debit air, bukan membendung sungai secara permanen seperti waduk.
Bangunan ini melintang di Sungai Brantas dengan panjang sekitar 159–160 meter dan lebar kurang lebih 74,5 meter, termasuk apron. Ukurannya yang cukup lebar membuatnya bisa dilintasi kendaraan ringan, sekaligus menjadi jalur penyeberangan alternatif bagi warga sekitar.
Mengatur Air, Menjaga Sawah
Sebagai bendung gerak, Waru Turi dilengkapi pintu-pintu air yang dapat dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan. Sistem ini memungkinkan pengelola menyesuaikan debit Sungai Brantas untuk berbagai kepentingan, terutama irigasi dan pengendalian banjir.
Air dari bendung ini mengalir ke daerah-daerah persawahan di Warujayeng, Turi Tunggorono, Papar, Peterongan, hingga wilayah sekitarnya. Fungsi ini sangat krusial, mengingat Sungai Brantas merupakan salah satu sungai terpenting di Jawa Timur.
Pengaturan debit air yang tepat membantu mencegah kekeringan saat musim kemarau dan mengurangi risiko banjir saat debit sungai meningkat. Dengan kata lain, Bendung Gerak Waru Turi menjadi penjaga keseimbangan antara alam dan kebutuhan manusia.
Lahir dari Kebutuhan Zaman
Pembangunan Bendung Gerak Waru Turi dimulai pada tahun 1988 dan rampung pada 1991. Setahun kemudian, tepatnya pada 17 Februari 1992, bendung ini diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum saat itu, Ir. Radinal Muchtar. Kehadirannya bukan tanpa alasan.
Sebelum Waru Turi berdiri, sistem irigasi di wilayah Kediri mengandalkan intake lama di Mrican dan Turi yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Seiring waktu, bangunan tersebut mengalami kerusakan parah akibat endapan sedimen dari letusan Gunung Kelud pada tahun 1951 dan 1966.
Kondisi ini membuat pasokan air menjadi tidak optimal dan memerlukan solusi baru yang lebih modern dan andal. Karena menggantikan fungsi intake lama tersebut, Bendung Gerak Waru Turi juga kerap disebut Bendung Mrican atau Bendungan Gampengrejo oleh masyarakat setempat.
Bagian dari Modernisasi Pertanian
Pembangunan Waru Turi bertepatan dengan program pengembangan sumber daya air Sungai Brantas pada masa Orde Baru. Saat itu, pemerintah mendorong swasembada pangan dan modernisasi irigasi sebagai fondasi pembangunan nasional.
Dalam konteks ini, Bendung Gerak Waru Turi bukan sekadar bangunan teknis, melainkan simbol keberhasilan pembangunan infrastruktur pertanian. Dampaknya terasa nyata bagi masyarakat sekitar.
Produktivitas sawah meningkat, sistem pengairan menjadi lebih stabil, dan perekonomian lokal pun ikut tumbuh. Bendung ini secara tidak langsung menjadi penggerak roda ekonomi, terutama bagi petani yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air.
Dari Infrastruktur ke Ruang Rekreasi
Seiring berjalannya waktu, Bendung Gerak Waru Turi tak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengairan. Kawasan ini mulai dimanfaatkan warga sebagai tempat penyeberangan dan spot foto. Sekitar tahun 2001, area bendung kemudian dikembangkan sebagai objek wisata keluarga.
Letaknya sekitar 15 kilometer di sebelah timur Kota Kediri dan berada di sisi jalan raya Kediri–Kertosono, membuatnya mudah diakses dengan kendaraan bermotor. Kawasan ini biasanya dibuka pada jam tertentu, misalnya pukul 06.00 hingga 18.00 WIB, karena berstatus sebagai area operasional bendung.
Di sini, pengunjung bisa menikmati panorama Sungai Brantas, memancing, hingga bersantai. Tersedia pula fasilitas penunjang seperti area rekreasi lintas bendung dan kolam renang. Meski demikian, fungsi utama Bendung Gerak Waru Turi sebagai pengatur air tetap menjadi prioritas utama hingga hari ini.
Kini, keberadaannya lebih dari sekadar bangunan beton di atas sungai. Bendung Gerak Waru Turi adalah simpul penting yang menghubungkan kebutuhan alam, pertanian, dan kehidupan sosial masyarakat Kediri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


