mengapa disebut flores jejak sejarah di balik nama pulau di ntt - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Disebut Flores? Jejak Sejarah di Balik Nama Pulau di NTT

Mengapa Disebut Flores? Jejak Sejarah di Balik Nama Pulau di NTT
images info

Mengapa Disebut Flores? Jejak Sejarah di Balik Nama Pulau di NTT


Kawan, ketika kita mendengar nama Flores nama itu terdengar indah sekaligus terasa berbeda dari banyak nama daerah lain di Indonesia. Jika sebagian besar wilayah Nusantara memiliki nama yang berasal dari bahasa lokal atau bahasa sansekerta yang diserap ke dalam bahasa lokal, Flores justru menyimpan jejak sejarah dari pertemuan antara masyarakat kepulauan timur Indonesia dengan bangsa Eropa.

Asal usul Pulau Flores tidak hanya berkaitan dengan proses geologis yang membentuk bentang alamnya, tetapi juga dengan sejarah panjang permukiman manusia. Sejak kedatangan Homo Floresiensis hingga pengaruh bangsa asing yang datang melalui jalur perdagangan, Flores telah menjadi tempat pertemuan berbagai budaya. Keberagaman budaya dan alam Flores membuatnya menjadi salah satu pulau dengan nilai sejarah dan budaya yang luar biasa.

Di balik namanya, tersimpan kisah pelayaran, budaya, dan identitas yang terus bertahan hingga saat ini.

Berdasarkan berbagai sumber sejarah, nama Pulau Flores diyakini berasal dari bahasa Portugis yang berati "bunga". Pada abad ke-16, pelaut Portugis mulai menjelajahi wilayah timur Nusantara untuk mencari rempah-rempah untuk menguasai perdagangan dan perekonomian dunia serta penyebaran agama.

Mereka menyebut wilayah ini dengan istilah cabo de flores yang artinya "tanjung bunga". Nama tersebut diberikan oleh penjajah Portugis, S.M. Cabot, yang tertarik dengan keindahan alamnya yang subur serta kekayaan hayati yang memikat para pendatang. Kemudian penamaan ini diresmikan secara formal pada tahun 1636 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda yaitu Hendrik Brouwer, ketika Belanda mulai menguasai wilayah Nusantara.

Menariknya, meskipun nama Flores berasal dari bahasa asing, pulau ini tetap kaya akan identitas lokal. Pulau Flores dihuni oleh beragam kelompok etnis dengan bahasa, adat, dan tradisi yang berbeda-beda hal ini mencerminkan kekayaan budaya yang tumbuh di wilayah ini. Nama Flores tidak hanya sekadar menjadi penanda wilayah melainkan juga menjadi payung identitas bagi keberagaman budaya yang hidup di dalamnya.

Pada tahun 1969 sebuah penelitian oleh Orinbao mengungkapkan bahwa nama asli dari Pulau Flores adalah Nusa Nipa yang artinya "pulau ular". Nama tersebut bukan sekadar penanda geografis saja tetapi ada makna filosofis dan kultural yang kuat. Dalam mitologi lokal Flores, ular dipandang sebagai simbol perlindungan dan kebijaksanaan yang mencerminkan nilai serta pandangan hidup masyarakat setempat.

Nama Flores dimaknai sebagai simbol keindahan dan kehidupan. Makna "bunga" kerap dihubungkan dengan harapan, kesuburan, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Nilai-nilai ini masih tercermin dalam kehidupan masyarakat Flores hingga kini. Mulai dari tradisi pertanian, upacara adat, hingga cara masyarakat lokal menjaga alam sekitarnya.

Nama Nusa Nipa lebih relevan secara antropologis karena mencerminkan identitas budaya asli masyarakat Flores serta cara mereka memaknai alam. Meskipun Flores lebih dikenal secara internasional, pemahaman tentang nama Nusa Nipa memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang sejarah dan kebudayaan pulau ini.

Dengan demikian, pemberian nama Pulau Flores mencerminkan pertemuan antara pengaruh luar dan budaya lokal. Nama Flores yang berasal dari penjelajah Portugis dan diresmikan oleh belanda memang dikenal luas. Namun Nusa Nipa tetap memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat asli. Memahami kedua nama ini membantu kita untuk menghargai kekayaan sejarah dan budaya Pulau Flores.

Melalui kisah asal-usul namanya, Pulau Flores mengajarkan bahwa identitas sebuah daerah tidak selalu lahir dari satu sumber saja. ia tumbuh dari pertemuan berbagai budaya, pengalaman sejarah dan nilai-nilai lokal yang terus dijaga oleh lintas generasi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AN
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.