kabupaten kuantan singingi tempat lahirnya tradisi pacu jalur yang pernah viral - News | Good News From Indonesia 2026

Kabupaten Kuantan Singingi, Tempat Lahirnya Tradisi Pacu Jalur yang Pernah Viral

Kabupaten Kuantan Singingi, Tempat Lahirnya Tradisi Pacu Jalur yang Pernah Viral
images info

Kabupaten Kuantan Singingi, Tempat Lahirnya Tradisi Pacu Jalur yang Pernah Viral


Kawan GNFI masih ingat tren aura farming dalam tradisi pacu jalur yang sangat viral pada pertengahan tahun 2025 lalu? Saat itu, ada potongan video seorang anak dengan kacamata hitamnya berdiri di ujung perahu sambil menari, sukses menarik perhatian warganet.

Gerakan dan gayanya yang tampak chill itu semakin populer saat di-remix dan stitch oleh banyak kreator global, termasuk akun klub sepak bola kenamaan dunia. Hal ini membuat tradisi pacu jalur menjadi semakin terkenal.

Namun, jauh sebelum terkenal, Pacu Jalur adalah warisan budaya yang hidup selama berabad-abad. Tradisi ini lahir dan besar di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, sebuah wilayah yang sudah lama dikenal dengan tradisi sungainya yang kuat.

Kabupaten Kuantan Singingi: Selayang Pandang

Kabupaten Kuantan Singingi, sering disingkat Kuansing, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Riau. Dibentuk pada 4 Oktober 1999, kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Indragiri Hulu.

Terletak di di barat daya Provinsi Riau, Kuansing berbatasan dengan Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan di utara, Kabupaten Indragiri Hulu di timur, Provinsi Jambi di selatan, dan Kabupaten Kampar serta Provinsi Sumatra Barat di sebelah barat.

Nama Kuantan Singingi disebut memiliki beberapa makna. Melansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, nama kabupaten ini adalah gabungan dari dua kata, “Aku” dan “Antan”. “Aku” bisa diartikan dengan pancang batas daerah Kuantan dengan alu (Antan).

Di sisi lain, ada pula yang menyebutkan jika namanya berasal dari kata “Kuak” dan “Tun Atan”. “Kuak” bermakna rintisan, sedangkan “Tuk Atan” adalah nama orang yang dianggap berperan dalam mendirikan Kuantan Singingi.

Lebih lanjut, terdapat kemungkin lain terkait penamaan ini, yakni dari kata “Akuan” dan “Sultan”. Lama-lama, nama itu melebur menjadi “Kuantan".

Terakhir, ada yang percaya jika kata “Kuantan” berasal dari bahasa Parsi yang berarti ‘banyak air-air’. Uniknya, Kuantan Singingi memang dilintasi oleh dua sungai besar, yakni Sungai Kuantan dan Sungai Singingi, membuatnya seakan-akan memiliki banyak air.

Tak berhenti di sana, masih ada sekitar 34 anak sungai besar dan kecil yang mengaliri Kabupaten Kuantan Singingi. Jika ditotal, perkiraan panjang sungai yang melewati kabupaten ini adalah 1.518 km.

Kawan GNFI, Kabupaten Kuantan Singingi sangat luas. Wilayahnya memiliki luas sekitar 7.656,03 km2. Daerah yang paling luas ada di Kecamatan Singingi, yakni 1.953,66 km2. Sangat luas, bukan?

Namun, meskipun luas, kepadatan penduduknya relatif rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kuantan Singingi, per 2024, jumlah penduduknya adalah 365.989 jiwa. Artinya, per km2-nya, hanya ada sekitar 47 jiwa saja yang mendiaminya.

Tradisi Pacu Jalur yang Jadi Keunikan Kuantan Singingi

Sebagai daerah yang memiliki banyak sungai, budaya dan kehidupan sosial masyarakatnya pun tak erat kaitannya dengan sungai. Dari sini, lahirlah tradisi istimewa nan khas, salah satunya Pacu Jalur.

Pacu Jalur adalah perlombaan mendayung perahu panjang khas Kuantan Singingi yang rutin digelar setahun sekali di Sungai Kuantan. Tradisi ini ternyata sudah ada sejak lama dan masih dilestarikan hingga saat ini.

Dalam sejarahnya, Pacu Jalur bermula di abad ke-17. Saat itu, perahu jalur dipakai sebagai alat transportasi utama oleh masyarakat desa di wilayah Rantau Kuantan. Jalur dalam bahasa setempat yang berarti perahu itu merupakan moda transportasi utama di masa lalu.

Perahu panjang itu berfungsi untuk membawa hasil bumi. Saking panjangnya, jalur bisa mengangkutantara 40-60 orang sekaligus.

Seiring waktu, mulai bermunculan jalur-jalur yang dihias dengan ukiran cantik, seperti kepala harimau, buaya, sampai ular. Tak ketinggalan, agar semakin nyaman, ada pula yang menambahkan payung sampai atribut lainnya.

Lama kelamaan, jalur yang mulanya alat transportasi mulai dipakai sebagai ajang perlombaan antarkampung saat perayaan adat atau hari bear keagamaan. Saking ikoniknya, di masa Hindia Belanda, Pacu Jalur juga dijadikan bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Setelah merdeka, Pacu Jalur terus dilestarikan dan menjadi agenda wajib, utamanya saat Hari Kemerdekaan RI.

Kawan GNFI, sebagai penguat indentitas lokal, pada tahun 2014, Kemeterian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menetapkan Pacu Jalur sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.