Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Letaknya di wilayah khatulistiwa membuat ekosistem darat dan lautnya berkembang dengan tingkat biodiversitas yang tinggi.
Di sektor kelautan, Indonesia menjadi bagian utama dari kawasan Coral Triangle bersama beberapa negara di kawasan Asia Pasifik.
Coral Triangle diakui sebagai wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia dan menjadi satu-satunya dari tiga pusat biodiversitas global, bersama Hutan Amazon dan Cekungan Kongo, yang berada di wilayah laut.
Dalam konteks ini, perairan Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut global.
Penemuan Kawanan Dugong di Pulau Romang
Ekspedisi yang dilakukan oleh WWF Indonesia di perairan Maluku Barat Daya menjadi bukti konkret kekayaan hayati tersebut. Dalam ekspedisi Romang Damer 2025, tim peneliti menemukan kawanan dugong berenang di sekitar Pulau Romang.
Senior Manager Program WWF Indonesia sekaligus Expedition Lead, Ahmad Hafiz Adyas, menyatakan bahwa temuan ini memiliki arti penting bagi ilmu pengetahuan dan konservasi.
“Dari hasil pantauan drone, kami menemukan 32 individu dugong di Pulau Romang. Kenapa ini menjadi penting? Belum pernah tercatat individu dugong sebanyak ini di Indonesia,” ujar Hafiz di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis (5/2/2026).
Menurut Hafiz, dugong biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat terbatas. “Biasanya dugong itu selalu kalau ditemukan cuma satu, dua, paling banyak mungkin tiga. Jarang sekali banyak begini berkumpul,” katanya.
Ia membandingkan temuan tersebut dengan negara lain, di mana catatan dugong di Thailand hanya sekitar 26 individu dan di beberapa wilayah India jumlahnya juga lebih sedikit.
Indikator Kesehatan Ekosistem
Selain dugong, ekspedisi ini mencatat keberadaan lebih dari 200 spesies yang masuk kategori Endangered, Threatened, and Protected (ETP).
Tim juga mendokumentasikan kemunculan paus orca yang jarang tercatat di perairan Indonesia. Hafiz menegaskan bahwa dugong dan orca merupakan spesies kunci.
“Kenapa ini di-highlight? Karena mereka adalah spesies kunci. Kalau spesies ini terjaga, maka ekosistem lain ikut terjaga,” ujarnya.
Keberadaan spesies-spesies tersebut menjadi indikator penting kesehatan ekosistem laut di kawasan Maluku Barat Daya.
Ditetapkan sebagai kawasan konservasi
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama WWF Indonesia turut menegaskan pentingnya temuan ini.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menyatakan bahwa ekspedisi tersebut berhasil mendokumentasikan lebih dari 30 individu dugong serta mengidentifikasi struktur terumbu karang purba melalui metode fotogrametri.
“Temuan ini tentunya memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi dan menegaskan pentingnya Romang Damer sebagai kawasan dengan fungsi ekologis yang sangat strategis,” kata Koswara.
Ia menjelaskan bahwa Kepulauan Romang dan Damer kerap disebut sebagai wilayah yang kurang mendapat perhatian, meskipun memiliki kekayaan biodiversitas dan fungsi ekologis yang penting.
“Padahal kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan ekosistem laut sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen, pemerintah telah menetapkan perairan Romang dan Damer sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 dan Nomor 6 Tahun 2022.
Ditemukan juga karang purba
Senior Project Manager Yayasan WWF Indonesia, Hafizh Adyas, menjelaskan bahwa ekspedisi Romang Damer 2025 dilakukan untuk memperbarui data ilmiah setelah lebih dari satu dekade tidak ada penelitian menyeluruh di kawasan tersebut.
Penelitian berlangsung lebih dari satu bulan dan melibatkan tim darat serta laut. Kajian ekologis difokuskan pada tiga ekosistem utama, yakni terumbu karang, lamun, dan mangrove.
Hasil kajian menunjukkan tutupan karang hidup berada pada kisaran 39 hingga 51 persen, yang menandakan kondisi ekosistem masih tergolong baik. Tim juga menemukan struktur karang purba berusia sekitar 100 hingga 200 tahun.
“Kalau karang sebesar itu, kita bisa duga usianya sudah lebih dari 100 sampai 200 tahun,” kata Hafizh. Pada ekosistem lamun, tingkat kerapatan mencapai sekitar 57 persen dengan sembilan jenis lamun teridentifikasi.
Sementara itu, ekosistem mangrove menunjukkan keberadaan sedikitnya 43 spesies dengan regenerasi alami yang berjalan baik.
Masa Depan Laut Maluku Barat Daya
Temuan kawanan dugong di Maluku Barat Daya menegaskan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi berbasis ilmu pengetahuan dan pelibatan masyarakat lokal.
Pemerintah melalui KKP terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi yang sejalan dengan kebijakan ekonomi biru, yang menekankan keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sinergi antara pemerintah, lembaga penelitian, dan masyarakat diharapkan dapat memastikan kawasan Romang Damer tetap memberikan manfaat ekologis dan sosial ekonomi secara berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


