Di tengah gemerlap lampu kota dan deru kendaraan yang tak pernah tidur, ada satu pemandangan kontras yang kini makin sering dijumpai di sudut-sudut jalan besar. Sebuah bangunan minimalis dengan dinding kaca, pendingin ruangan yang sejuk, serta tata cahaya yang dirancang apik. Di bagian depan, terpampang papan nama yang membawa diksi sederhana namun kini dikemas mewah bernama Angkringan Premium.
Fenomena menjamurnya angkringan yang naik kelas menjadi potret menarik dari evolusi gaya hidup masyarakat urban. Dahulu, angkringan identik dengan gerobak sederhana di pinggir jalan, diterangi lampu senter temaram, beralaskan tikar yang sudah sedikit berlubang, dan menyajikan menu nasi kucing dengan harga yang sangat bersahabat bagi kantong pelajar maupun pekerja kasar. Tempat itu bukan sekadar warung makan, melainkan ruang sosial yang paling jujur.
Namun sekarang, wajah angkringan perlahan berubah. Gerobak kayu berganti menjadi meja bar, tikar berganti menjadi kursi bean bag, dan harga nasi teri yang dulunya setara uang parkir kini melonjak mengikuti ambiance atau suasana yang ditawarkan.
Perubahan tersebut membawa dua sisi mata uang yang patut direnungkan: sebuah kemajuan estetika dan juga ancaman terhadap lunturnya nilai kesederhanaan.
Pergeseran Makna: Dari Kebutuhan Perut Menjadi Kebutuhan Mata
Agifa Dafan Saputra dalam tulisannya menyoroti bagaimana anak muda masa kini sering kali terjebak dalam penjajahan mental gaya hidup. Pilihan tempat nongkrong bukan lagi didasarkan pada rasa makanan atau keterjangkauan harga, melainkan pada seberapa Instagramable tempat tersebut. Estetika visual menjadi komoditas utama yang dijual, sering kali mengalahkan esensi dari kuliner itu sendiri.
Banyak pengusaha kuliner yang menangkap peluang tersebut dengan cerdas. Mengubah konsep angkringan dari kaki lima menjadi kafe ruko bukanlah dosa. Justru, hal tersebut menunjukkan inovasi dan adaptasi bisnis yang patut diapresiasi.
Tempat yang lebih bersih, higienis, dan nyaman tentu menjadi nilai tambah yang dicari oleh konsumen kelas menengah yang mendambakan kenyamanan tanpa kehilangan sensasi kuliner tradisional.
Namun, persoalan muncul ketika kemasan tersebut membuat jarak. Angkringan sejatinya merupakan antitesis dari restoran mahal yang sering kali mengintimidasi rakyat kecil. Ketika angkringan dibalut dengan kemewahan yang berlebihan, ada sekat tak terlihat yang terbangun.
Seorang tukang becak atau ojek daring berpikir dua kali untuk memarkir kendaraannya di depan angkringan yang dindingnya terbuat dari kaca mengilap. Rasa segan muncul, bukan karena dilarang masuk, tetapi karena atmosfer yang dibangun memang tidak lagi ramah bagi wong cilik.
Egalitarianisme di Meja Makan yang Mulai Pudar
Filosofi dasar angkringan yaitu egaliter. Kata angkring sendiri bermakna duduk santai dengan posisi kaki diangkat satu, sebuah gestur tubuh yang melambangkan kebebasan dan ketiadaan formalitas. Di atas tikar angkringan tradisional, jabatan dan status sosial meluruh.
Seorang mahasiswa doktoral bisa berdiskusi seru dengan seorang buruh bangunan tentang politik negara sambil menyeruput jahe hangat yang sama. Tidak ada meja VIP, tidak ada reservasi khusus. Semua duduk sama rendah.
Koran Perdjoeangan pernah mengulas sejarah angkringan yang dipelopori oleh Eyang Karso Dikromo dari Klaten. Niat awalnya sederhana, yaitu menyediakan makanan murah untuk rakyat di malam hari. Semangat kerakyatan yang menjadi jiwa dari angkringan. Tempat tersebut menjadi ruang demokrasi paling organik sehingga keluh kesah warga tersalurkan tanpa filter.
Saat konsep tersebut dibawa masuk ke dalam ruko ber-AC dengan pelayan berseragam, nuansa egaliter tersebut sering kali menguap. Interaksi antar-pengunjung menjadi minim karena sekat-sekat meja yang diatur berjarak demi privasi.
Musik latar yang bising menggantikan obrolan akrab antar-orang asing. Angkringan berubah fungsi dari ruang temu sosial menjadi sekadar tempat makan transaksional. Pengunjung datang, foto makanan, makan, bayar, lalu pulang. Hilang sudah sapaan hangat “Monggo, Mas" yang biasa terdengar tulus dari bakul angkringan kepada siapa saja yang lewat.
Menjaga Jiwa Merakyat di Tengah Modernisasi
Kendati demikian, menyalahkan modernisasi angkringan sepenuhnya juga bukan sikap yang bijak. Perubahan tersebut menjadi suatu keniscayaan zaman. Banyak pemilik angkringan sukses yang memulai usahanya dari nol di trotoar, lalu berhasil menabung dan menyewa tempat yang lebih layak. Kisah sukses Angkringanku Naik Kelas membuktikan bahwa bisnis tradisional pun punya hak untuk berkembang dan memberikan kesejahteraan lebih bagi pemiliknya.
Tantangannya kemudian yaitu bagaimana menyeimbangkan kemajuan fisik dengan pelestarian nilai. Sebuah angkringan modern tetap bisa mempertahankan jiwa merakyatnya jika pengelolanya sadar terhadap akar budayanya. Kuncinya terletak pada rasa dan keterbukaan.
Kawan GNFI tentu sepakat bahwa kenyamanan tempat tidak harus berbanding lurus dengan harga yang mencekik atau suasana yang eksklusif. Pengelola angkringan modern bisa tetap mempertahankan menu-menu sederhana dengan harga wajar.
Desain interior bisa dibuat nyaman tanpa harus terlihat mewah dan berjarak. Yang paling penting, keramahan khas angkringan dapat membuat penjual hafal nama pelanggannya dan mau menjadi pendengar setia.
Harmoni Antara Tradisi dan Inovasi
Kehadiran angkringan premium dan angkringan tradisional sebenarnya tidak perlu dibenturkan sebagai lawan. Keduanya memiliki segmen dan peran masing-masing dalam ekosistem kuliner kota.
Angkringan modern menjadi oase bagi masyarakat yang ingin menikmati sate telur puyuh tanpa harus khawatir kehujanan atau kepanasan. Sementara angkringan trotoar tetap menjadi benteng terakhir bagi masyarakat yang mencari kehangatan interaksi manusia yang autentik dan murah.
Justru, fenomena tersebut bisa dilihat sebagai bukti bahwa kuliner lokal memiliki daya tahan yang luar biasa. Nasi kucing tidak mati digilas burger atau pizza justru berevolusi, bersolek, dan masuk ke dalam mal serta ruko-ruko mentereng. Hal tersebut merupakan bentuk kemenangan budaya lokal yang mampu beradaptasi dengan selera zaman.
Namun, bagi Kawan GNFI yang rindu terhadap esensi cangkruk atau nongkrong yang sesungguhnya, sesekali kembalilah ke angkringan pinggir jalan. Rasakan kembali sensasi aroma arang yang terbakar, suara sendok beradu dengan gelas kaca, dan obrolan random dengan orang tidak dikenal yang dapat memberikan perspektif baru tentang hidup.
Pada akhirnya, esensi angkringan bukan terletak pada kemewahan tempat atau mahalnya harga makanan. Hal tersebut terletak pada kemampuannya menyatukan manusia. Di bawah temaram lampu jalan atau di balik kaca kafe yang dingin, masyarakat menjadi manusia yang sama-sama lapar, sama-sama butuh teman bicara, dan sama-sama mencari sedikit kehangatan di tengah dinginnya kehidupan kota.
Mari rayakan kemajuan angkringan tanpa melupakan dari mana asalnya. Biarkan ia naik kelas secara fisik, tapi tetap membumi secara hati. Sebab, kekayaan sejati bangsa bukanlah pada gedung-gedung tingginya, melainkan pada kemampuannya untuk tetap ramah dan menerima siapa saja di satu meja makan yang sama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


