tradisi irung irung desa cihideung ritual adat untuk menjaga mata air dan kesuburan alam - News | Good News From Indonesia 2026

Tradisi Irung-Irung Desa Cihideung, Ritual Adat untuk Menjaga Mata Air dan Kesuburan Alam

Tradisi Irung-Irung Desa Cihideung, Ritual Adat untuk Menjaga Mata Air dan Kesuburan Alam
images info

Tradisi Irung-Irung Desa Cihideung, Ritual Adat untuk Menjaga Mata Air dan Kesuburan Alam


Warga Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, hingga kini masih menjaga sebuah kearifan lokal bernama Tradisi Irung-Irung. Ritual adat ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk ikhtiar masyarakat dalam merawat mata air dan menjaga keberlangsungan saluran air yang menopang kehidupan sehari-hari.

Tradisi Irung-Irung tidak hanya dimaknai sebagai ritual budaya, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas anugerah air yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pelaksanaannya, warga memulai prosesi dengan pertunjukankesenian sasapian yang mengiringi perjalanan menuju sumber mata air. Sepanjang perjalanan, iring-iringan melewati hamparan lahan pertanian yang didominasi tanaman sayuran dan bunga, mencerminkan eratnya hubungan antara air, tanah, dan mata pencaharian warga.

Sesampainya di lokasi mata air, warga bersama-sama melakukan kegiatan bersih-bersih sebagai tahap awal ritual. Setelah itu, upacara adat dilanjutkan dengan mengarak seekor kambing yang kemudian disembelih. Darah hewan kurban tersebut dialirkan ke sumber mata air sebagai simbol penyucian dan penghormatan terhadap alam. Prosesi ini menjadi bagian penting dari rangkaian Irung-Irung sebelum warga secara serentak turun ke kolam mata air.

Suasana kemudian berubah menjadi meriah ketika warga melakukanperang air sambil diiringi kembali oleh kesenian sasapian. Daging kambing yang telah disembelih dibawa ke area panggung kesenian untuk dimasak dan disantap bersama, menegaskan nilai kebersamaan dan gotong royong dalam tradisi ini.

Abah Yanto Susanto, pemilik padepokan setempat, menjelaskan bahwa Tradisi Irung-Irung memiliki makna mendalam. Ritual ini bertujuan membersihkan kembali sikap dan perilaku manusia dalam memperlakukan sumber air. Air dipandang sebagai elemen penting yang berkaitan langsung dengan kesuburan tanah, keberhasilan pertanian, dan keselamatan hidup masyarakat sekitar.

"Tradisi Irung-irung ini bertujuan untuk membersihkan kembali, membuang sifat buruk berkaitan dengan bagaimana memelihara sumber air untuk kehidupan masyarakat sekitar. Air ini kan berkaitan dengan tanaman dan kesuburan yang juga berhubungan dengan meminta keselamatan," kata Abah Yanto Susanto (54) selaku pemilik padepokan yang dimuat dari Merdeka.

Upaya Menghidupkan Kembali Tradisi

Seiring waktu, perubahan kepemilikan lahan menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan tradisi ini. Menurut penuturan warga senior, sebagian besar tanah di Desa Cihideung kini telah beralih kepemilikan kepada pihak swasta, menyisakan hanya sekitar 10 persen lahan yang masih dimiliki warga asli. Kondisi ini berdampak pada akses terhadap mata air Irung-Irung yang kini berada di dalam kawasan wisata.

Padahal, mata air tersebut dulunya menjadi pusat pelaksanaan ritual Irung-Irung. Atas dasar itulah warga berupaya menghidupkan kembali tradisi ini agar tetap dapat dijalankan, mengingat seluruh aliran air di sekitar desa berasal dari sumber Irung-Irung.

“Kami pikir tradisi ini terasa penting untuk dihidupkan lagi. Lihat air yang mengalir di sekeliling kita, berasal dari air Irung-Irung,” kata salah seorang warga.

Masyarakat pun bersepakat untuk menjadikan ritual ini sebagai agenda tahunan yang idealnya dilaksanakan setiap bulan Agustus, meski waktu pelaksanaan bisa disesuaikan dengan kondisi sosial dan keagamaan.

Saat ini, warga juga menjalin komunikasi dengan pihak pengelola kawasan wisata agar tetap memiliki ruang dan legitimasi untuk menyelenggarakan ritual adat di lokasi mata air tersebut.

“Misalnya beberapa tahun lalu waktu pelaksanaan diganti karena bulan Agustus tepat dengan pelaksanaan ibadah puasa,” kata salah seorang warga.

Mata Air dan Ketahanan Hidup Warga

Keberadaan mata air Irung-Irung memiliki peran vital bagi masyarakat Cihideung. Sekitar 85 persen warga desa menggantungkan hidup sebagai petani bunga, sehingga ketersediaan air menjadi faktor utama keberlanjutan pertanian. Jika mata air rusak atau mengering, dampaknya akan langsung dirasakan oleh seluruh petani di wilayah tersebut.

Karena itu, masyarakat secara rutin menggelar ritual ngalokat Irung-Irung, yaitu tradisi pembersihan sumber air yang sarat makna ekologis dan sosial. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan rasa syukur kepada Sang Pencipta, tetapi juga mengajarkan nilai berbagi, kepedulian antarsesama, serta tanggung jawab kolektif dalam menjaga alam.

Dalam kajian budaya Jawa Barat, ritual ngalokat sumber air dipahami sebagai bentuk kearifan lokal yang menekankan pentingnya merawat dan menghormati sumber daya air permukaan. Melalui tradisi seperti Irung-Irung, masyarakat diingatkan bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada ketersediaan air yang bersih dan terjaga—kapan pun dan di mana pun.

"Pada dasarnya, ngalokat sumber air adalah tradisi warisan leluhur di Jawa Barat yang notabene merupakan sebuah bentuk kearifan lokal dalam menjaga, merawat, melindungi dan sekaligus menghargai sumber-sumber air yang ada, khususnya sumber air permukaan.” tulis Djoko Subinarto yang dinukil dari Telusur.

“Lewat ritual ngalokat, kita semua diingatkan ihwal betapa pentingnya menjaga, merawat, melindungi dan menghargai sumber air permukaan karena tidak ada yang paling penting sesungguhnya bagi kelangsungan kehidupan manusia selain tersedianya pasokan air yang memadai. Kapan pun dan di mana pun,” pungkas Djoko.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.