Kawan GNFI, siapa yang tak kenal dengan pesona Grand Canyon yang berada di Arizona, Amerika Serikat? Keindahan bukit warna-warninya kerap menjadi perhatian dunia bahkan terkenal sebagai situs warisan dunia UNESCO.
Ternyata Indonesia juga punya loh Grand Canyon lokal yang indah dan magis, tepatnya di Nusa Tenggara Timur atau dikenal dengan Kelabba Madja.
Bahkan keindahan Grand Canyon lokal Indonesia ini kerap dijuluki sebagai ‘tempat dengan pelangi jatuh’ di Pulau Sabu, NTT karena bukit warna-warninya yang menakjubkan.
Ingin tahu bagaimana pesona bukit warna-warni dari Kelabba Madja di NTT? Simak selengkapnya, ya, untuk #MakinTahuNTT.
Kelabba Madja dengan Pesona ‘Pelangi’ di Atas Batu
Sebagai destinasi wisata alam yang mempesona, Kelabba Madja terkenal dengan bukit warna-warninya dengan gradasi warna mencolok, terutama merah, coklat, putih, hingga kebiruan dalam tebing dengan lekukan tak beraturan bak disapu kuas raksasa.
Kelabba Madja ini terbentuk secara alami selama jutaan tahun hingga membentuk formasi bukit atau tebing batu berlapis dengan guratan warna alaminya. Pesona inilah yang seolah mengantarkan wisatawan untuk melihat ‘pelangi’ di atas batu.
Namun ternyata, Kelabba Madja tak hanya sekadar menjadi destinasi wisata saja, tapi menjadi tempat yang sakral bagi masyarakat Sabu di wilayahnya dengan percaya bahwa Kelabba Madja sebagai tanah dewa atau tempat suci Dewa Maja.
Karena kesakralan dan kemagisan yang melekatnya, setiap tahun tempat ini menjadi tempat untuk gelaran upacara penyembelihan hewan (kambing atau ayam) sebagai simbol permohonan perlindungan dan kesuburan dari Dewa Maja.
Apa Itu Kelabba Madja?
Kelabba Madja berada di Pulau Sabu, NTT yang masih dalam pengembangan untuk hal potensi wisatanya dan tak sepopuler Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Labuan Bajo.
Tebing ini secara geografis merupakan jenis geomorfologi petrografi unik dengan karakteristik utamanya membentuk pilar batu raksasa menjulang tinggi dengan puncak yang lebar menyerupai payung atau jamur.
Pemandangan tebing atau dinding batu asimetris dan terkesan artistik dengan warna khasnya menjadi daya tarik tersendiri dan terdapat pula tiga batu besar yang terletak di bukitnya yang semakin menambah keotentikannya.
Tiga batu besar ini dikenal sebagai ‘Batu Keseimbangan’ yang melambangkan ayah, ibu, dan anak, serta dipercaya akan simbol keseimbangan alam.
Proses geologi dalam waktu jutaan tahun inilah yang sebenarnya membentuk proses pengendapan sedimen purba dari lapisan batuan mencakup batu pasir merah, endapan mineral lain dengan komposisi kimia yang berbeda.
Untuk warna-warna yang muncul pada tebing, warna merah (kaya akan oksida besi), biru dan putih (kaya mineral lempung) pada periode geologis berbeda akibat iklim inilah yang menciptakan lanskap pelangi yang unik dan langka hingga dikenal sebagai Kelabba Madja.
Kelabba Madja sendiri merupakan nama dari bahasa sempat yakni Kelabba yang merujuk pada ‘batu putih’ atau ‘tebing’ dan Maja merujuk pada ‘singgasana Dewa Maja’ dan lokasinya dianggap sakral bagi penduduk lokal atau dikenal pula dengan ‘Gunung Pelangi’.
Bagaimana Cara Mengunjungi Kelabba Madja?
Berlokasi di tempat terpencil yakni di Wadumeddi, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (Pulau Sabu), wisatawan dapat berkunjung dengan banyak transportasi.
Karena akses terbatas, transportasi laut (kapal ferry, kapal pungka atau Awu) menjadi andalan untuk harga yang cukup terjangkau dibandingkan melalui transportasi udara,yakni dengan pesawat (pesawat perintis dari Kupang) menuju Pulau Sabu.
Setelah tiba di Pulau Sabu, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan darat (motor atau mobil) selama sekitar 1,5 hingga 2 jam menuju Kelabba Madja dengan tarif masuk sekitar Rp 10.000 per orang.
Mengingat Kelabba Madja sebagai tempat suci dan sakral bagi masyarakat lokal, disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal dengan tujuan untuk memahami batas-batas yang boleh dimasuki dan mengetahui hal-hal mana yang dilarang karena alasan religi.
Selain itu, wisatawan juga wajib mengenakan pakaian yang sopan, dilarang menggunakan kata-kata kotor untuk menghormati adat tradisi setempat akan kepercayaan sakral penduduk lokal di Kelabba Madja.
Waktu terbaik untuk mengunjungi Kelabba Madja pada bulan Mei–September saat musim kemarau, supaya perjalanan tidak terhambat cuaca hujan hingga wisatawan dapat melihat warna batuan lebih kontras apalagi di waktu sunrise (pagi), dan sunset (senja).
Meski lokasinya terpencil, tapi keindahan langka dan ikonik wajib Kawan GNFI sambangi untuk petualangan berkesan di Grand Canyon-nya Indonesia.
Tertarik menyambanginya, Kawan GNFI?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


