halim perdanakusuma pilot tempur asal madura penakluk markas nazi yang jadi nama bandara - News | Good News From Indonesia 2026

Halim Perdanakusuma: Pilot Tempur Asal Madura Penakluk Markas Nazi yang Jadi Nama Bandara

Halim Perdanakusuma: Pilot Tempur Asal Madura Penakluk Markas Nazi yang Jadi Nama Bandara
images info

Halim Perdanakusuma: Pilot Tempur Asal Madura Penakluk Markas Nazi yang Jadi Nama Bandara


Setiap hari, ribuan penumpang memadati Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa nama bandara tersebut diambil dari sosok pahlawan nasional dengan rekam jejak militer yang mendunia.

Abdul Halim Perdanakusuma, putra asli Madura, bukan sekadar tentara biasa. Ia adalah satu-satunya orang Indonesia yang tercatat pernah mengebom markas Nazi Jerman di Eropa selama Perang Dunia II.

Lahir di Sampang pada 18 November 1922, perjalanan hidup Halim berubah drastis saat ia menempuh pendidikan militer. Sempat bergabung dengan AL Hindia Belanda, Halim justru mendapatkan kesempatan emas untuk belajar di Royal Canadian Air Force (RCAF) dan Royal Air Force (RAF)Inggris pada usia 22 tahun.

Di sana, ia dididik menjadi navigator pesawat pengebom berat seperti Lancaster dan B-24 Liberator. Kemampuannya di udara sangat menonjol hingga ia meraih pangkat Wing Commander.

Dijuluki 'The Black Mascot' oleh Ratu Inggris

Berdasarkan buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003, Halim telah menjalankan sedikitnya 42 hingga 44 misi pengeboman di wilayah kekuasaan Nazi Jerman dan Perancis.

Setiap kali ia ikut dengan skwadronnya dalam serangan udara atas kota-kota di Jerman dan Perancis, pasti seluruh awak pesawat pulang dengan selamat," tulis M.Sunjata dalam bukunya.

Menariknya, Halim memiliki reputasi sebagai pembawa keberuntungan. Setiap kali ia ikut dalam skadron serangan udara, seluruh awak pesawat dipastikan pulang dengan selamat. Hal ini membuatnya mendapat julukan "The Black Mascot" (Jimat Hitam) dari Ratu Inggris.

Kembali demi Kemerdekaan Indonesia

Usai Perang Dunia II, jiwa nasionalisme memanggilnya pulang. Meski sempat menjadi bagian dari militer Belanda (MLD), Halim memilih menyeberang ke Badan Keamanan Rakyat Udara (sekarang TNI AU)milik Republik Indonesia.

Padahal, saat itu upah tentara Indonesia jauh lebih kecil dibanding tentara Belanda. Namun bagi Halim, kemerdekaan adalah harga mati. Ia pun menjadi tokoh kunci dalam membangun kekuatan udara Indonesia yang masih sangat muda.

Namun malam kelam terjadi pada 14 Desember 1947. Pesawat Avro Anson RI-003 dikemudikan Halim dan Iswahyudi dalam perjalanan pulang dari Thailand menuju Singapura, dan akan dilanjutkan ke Bukittinggi jatuh.

Pada tahun itu Belanda memblokade Indonesia. Sedangkan Indonesia membutuhkan senjata dan obat-obatan. Halim ditugaskan terbang ke Thailand (Siam) untuk misi super rahasia.

Dia membeli senjata dan pesawat angkut. Bersama Opsir Iswahyudi, mereka menerbangkan pesawat Avro Anson. Misi berhasil. Pesawat dipenuhi perlengkapan perang untuk dibawa pulang.

Nahas, cuaca buruk di kawasan Lumut, Malaysia, membuat pesawat jatuh terhempas. Kedua putra terbaik bangsa itu gugur dalam tugas. Jenazah Halim sempat dimakamkan di Malaysia sebelum akhirnya dipindahkan ke TMP Kalibata pada tahun 1975.

Untuk menghormati jasanya, pemerintah mengubah nama Lapangan Udara Tjililitan menjadi Bandara Halim Perdanakusuma, agar generasi mendatang selalu ingat akan keberanian sang penakluk langit dari Madura ini.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.