desa trunyan kintamani destinasi budaya bali aga dengan tradisi pemakaman unik - News | Good News From Indonesia 2026

Desa Trunyan Kintamani, Destinasi Budaya Bali Aga dengan Tradisi Pemakaman Unik

Desa Trunyan Kintamani, Destinasi Budaya Bali Aga dengan Tradisi Pemakaman Unik
images info

Desa Trunyan Kintamani, Destinasi Budaya Bali Aga dengan Tradisi Pemakaman Unik


Kawan ingin mencari sisi lain dari Pulau Dewata yang penuh dengan nuansa magis? Maka Desa Trunyan di Kecamatan Kintamani adalah tempatnya.

Terletak tepat di bibir Danau Batur Kabupaten Bangli desa ini dihuni oleh masyarakat Bali Aga atau penduduk asli Bali yang memiliki tatanan adat berbeda dari masyarakat Bali pada umumnya. Hal yang paling menarik perhatian dunia dari desa ini adalah tradisi pemakamannya yang dikenal sebagai "kubur angin" atau Mepasah.

Dalam tradisi ini jenazah tidak dibakar melalui upacara Ngaben atau dikubur ke dalam tanah melainkan hanya diletakkan begitu saja di atas permukaan tanah. Uniknya meski dibiarkan terbuka jenazah-jenazah tersebut sama sekali tidak mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Hal ini dimungkinkan karena keberadaan pohon raksasa bernama Taru Menyan yang secara alami mengeluarkan aroma harum yang sangat kuat sehingga sehingga mampu menyamarkan bau proses penguraian tubuh manusia.

Nama desa "Trunyan" sendiri merupakan gabungan dari kata Taru yang berarti pohon dan Menyan yang berarti harum. Keajaiban alami ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi simbol keharmonisan antara manusia dengan alam yang dijaga ketat oleh masyarakat setempat.

 

Aturan Adat Mepasah dan Pembagian Tiga Lokasi Pemakaman

Meskipun dikenal sebagai tempat pemakaman terbuka tidak semua jenazah di Desa Trunyan dapat diletakkan di bawah pohon Taru Menyan.

Masyarakat setempat menerapkan persyaratan yang sangat ketat untuk menentukan di mana seseorang akan disemayamkan setelah meninggal. Aturan ini didasarkan pada cara kematian dan status sosial individu tersebut semasa hidupnya.

Terdapat tiga lokasi pemakaman atau sema yang memiliki fungsi berbeda. Pertama adalah Sema Wayah yang merupakan lokasi paling utama di bawah pohon Taru Menyan khusus untuk warga yang meninggal secara wajar, sudah menikah, dan memiliki anggota tubuh lengkap.

Di sini jenazah hanya dibatasi oleh anyaman bambu sederhana yang disebut ancak saji. Kedua adalah Sema Bantas yang diperuntukkan bagi warga yang meninggal secara tidak wajar seperti akibat kecelakaan atau bunuh diri.

Lokasi ketiga adalah Sema Muda yang digunakan khusus untuk pemakaman bayi, anak-anak, atau orang dewasa yang belum sempat menikah. Pembagian ini menunjukkan betapa detailnya tatanan sosial masyarakat Trunyan dalam menghargai setiap fase kehidupan dan kematian.

Menariknya jumlah jenazah yang diletakkan di bawah pohon Taru Menyan dibatasi maksimal hanya sebelas orang sehingga sehingga jika ada jenazah baru maka tulang belulang jenazah yang paling lama akan dipindahkan ke samping.

 

Barong Brutuk Kesenian Sakral yang Unik di Kintamani

Selain tradisi pemakamannya Desa Trunyan juga memiliki kekayaan seni pertunjukan yang sangat langka bernama Barong Brutuk.

Kesenian ini berbeda dari barong pada umumnya di Bali karena Barong Brutuk ditampilkan secara individu dan menggunakan kostum yang terbuat dari rangkaian daun pisang kering yang telah disucikan. Tarian ini melambangkan penguasa spiritual desa yaitu Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ida Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar.

Pertunjukan ini hanya dipentaskan pada saat upacara Ngusaba di Pura Pancering Jagat yang biasanya jatuh pada bulan purnama keempat menurut penanggalan Bali. Para penarinya adalah 21 pemuda desa yang harus menjalani masa karantina dan penyucian diri selama 42 hari di area pura. Selama masa tersebut mereka diwajibkan menjauhi segala bentuk larangan moral agar kesucian tarian tetap terjaga.

Barong Brutuk bukan sekadar tontonan namun merupakan media pewarisan nilai luhur dan simbol pertemuan unsur maskulin serta feminin dalam menjaga keseimbangan dunia. Wisatawan yang beruntung dapat menyaksikan pementasan ini akan merasakan atmosfer sakral yang sangat kental dan berbeda dari pementasan seni komersial lainnya.

 

Lokasi dan Cara Menuju Desa Trunyan

Desa Trunyan terletak di kaki Gunung Abang tepat di pesisir timur Danau Batur. Untuk mencapai lokasi ini Kawan harus menyeberangi danau menggunakan perahu motor dari dermaga Desa Kedisan di Kintamani. Perjalanan menyeberangi air danau yang tenang memberikan pemandangan tebing dan perbukitan yang sangat asri sebelum akhirnya merapat di dermaga kecil desa yang sunyi.

Secara administratif desa ini masuk dalam wilayah Kabupaten Bangli dan berjarak cukup jauh dari hiruk-pikuk pusat pariwisata di Bali Selatan. Jarak dari Denpasar menuju Kintamani memakan waktu sekitar dua jam perjalanan darat dengan kondisi jalan yang berkelok namun memiliki pemandangan yang menyegarkan mata. Udara di kawasan ini cenderung dingin karena berada di dataran tinggi sehingga sehingga disarankan untuk membawa pakaian hangat saat berkunjung.

Akses menuju pemakaman utama biasanya sudah termasuk dalam paket sewa perahu yang ditawarkan di dermaga Kedisan. Selama perjalanan pengunjung akan disuguhi pemandangan Gunung Batur yang megah dari tengah danau.

 

Etika dan Tips Berkunjung ke Desa Tradisional Trunyan

Berkunjung ke tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat memerlukan etika dan kesopanan yang tinggi. Kawan disarankan untuk selalu berpakaian sopan dan mengikuti arahan pemandu lokal atau tetua adat saat berada di area pemakaman. Sangat dilarang untuk mengambil atau memindahkan benda apa pun yang ada di area sema termasuk uang koin atau barang-barang pribadi yang diletakkan di dekat jenazah sebagai bagian dari sesaji.

Meskipun pemandangan tengkorak manusia yang berjejer di area pemakaman terlihat eksotis di mata kamera pastikan untuk selalu meminta izin sebelum mengambil foto di titik-titik tertentu. Keramahan masyarakat Trunyan akan sangat terasa jika pengunjung menunjukkan rasa hormat terhadap tradisi leluhur mereka.

Desa Trunyan menawarkan pengalaman wisata yang akan mengubah perspektif Kawan tentang arti kematian dan hubungan abadi antara manusia dengan lingkungannya. Tempat ini bukan sekadar objek wisata namun sebuah laboratorium budaya hidup yang masih terjaga keasliannya di tengah modernitas zaman.

 

Ayo Rasakan Kedamaian Mistis di Desa Trunyan Bali

Melihat jejeran tengkorak yang tertata rapi tanpa bau busuk di bawah naungan pohon Taru Menyan akan memberikan kesan batin yang tak terlupakan. Desa Trunyan adalah tempat di mana sejarah kuno dan keajaiban alam menyatu dalam harmoni yang tenang di lereng Kintamani.

Jadi kapan Kawan akan merencanakan perjalanan menyeberangi Danau Batur untuk mengunjungi desa unik ini?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.