Peningkatan skala konflik dan ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas global. Bagaimana tidak, perang Rusia–Ukraina yang tak kunjung usai, konflik “abadi” Timur Tengah, sampai rivalitas antar-kekuatan besar yang semakin terbuka menunjukkan bahwa dunia memang betul-betul berada dalam fase yang rawan.
Namun, di tengah situasi itu, Asia Tenggara tampak berbeda. Dibanding kawasan lainnya, Asia Tenggara justru tampak relatif stabil. Mengapa demikian?
Dosen Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, Winda Eka Pahla Ayuningtyas, S.Pd., M.A., memaparkan faktor utama yang membuat Asia Tenggara tampak lebih “anteng” dibanding kawasan lain. Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh prinsip non-intervensi atau ASEAN Way yang selalu dijunjung negara-negara ASEAN.
Dalam keterangannya pada GNFI, ASEAN dibangun dengan semangat menjaga perdamaian lewat dialog, saling menghormati kedaulatan, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing negara. Prinsip inilah yang membuat anggotanya cenderung menahan diri, menghindari konflik, dan memilih jalur komunikasi saat muncul perbedaan kepentingan.
“ASEAN cukup berhati-hati dalam menempatkan diri di tengah persaingan kekuatan besar dunia. Negara-negara di kawasan ini berusaha menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak tanpa harus berpihak secara ekstrem,” jelas Winda.
Stabilitas kawasan dipandang sebagai kepentingan bersama, utamanya karena ada kerja sama ekonomi, perdagangan, dan pembangunan yang bergantung pada situasi yang kondusif. Oleh karena itu, ASEAN relatif mampu menjaga ketenangan dan stabilitas dibandingkan kawasan lain yang terdampak konflik berkepanjangan.
Bisakah ASEAN Tetap Relevan di Tengah Gonjang-ganjing Dunia?
Winda menerangkan, prinsip non-intervensi adalah fondasi utama ASEAN. Menurutnya, kunci agar ASEAN tetap relevan di tengah kondisi saat ini adalah konsisten dengan prinsip dasarnya, tapi harus tetap aktif dalam praktiknya.
Namun, dikatakan bahwa ASEAN juga perlu memperkuat kemampuannya untuk merespons isu-isu regional secara cepat dan nyata. Relevansi ASEAN sangat ditentukan pada sejauh mana organisasi ini bisa menjadi ruang yang dipercaya, bukan hanya bagi anggotanya, tapi juga kekuatan besar yang berkepentingan di kawasan.
Dosen yang juga merupakan praktisi Sustainable Development Goals (SDGs) itu mengingatkan agar ASEAN tetap menjaga posisi seimbang di tengah kompleksitas dunia, yakni tidak terjebak dalam politik blok.
ASEAN perlu melakukan pendekatan yang inklusif dan terbuka, sembari memperkuat kerja sama konkret di bidang ekonomi, ketahanan regional, dan isu-isu non-tradisional—seperti perubahan iklim dan keamanan manusia—agar ASEAN tetap “dibutuhkan”.
“Dengan menunjukkan bahwa stabilitas Asia Tenggara membawa manfaat nyata bagi semua pihak, ASEAN dapat mempertahankan prinsipnya sekaligus tetap relevan di tengah dinamika global yang terus berubah,” jelasnya lebih lanjut.
ASEAN dan Intervensi Asing
Melihat kondisi di mana ASEAN yang tampak stabil, apakah sebenarnya ASEAN juga mengalami intervensi asing seperti halnya kawasan lain yang berkonflik?
Menjawab hal tersebut, Winda tak menampik jika ASEAN pun memang cukup banyak diintervensi asing. Namun, jelas jika bentuknya tidak berupa perang. Alih-alih konflik bersenjata yang berbahaya, ASEAN justru banyak diitervensi melalui jalur ekonomi, investasi, kerja sama infrastruktur, hingga pengaruh strategis.
Ia mencontohkan bagaimana masifnya proyek Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok yang masuk ke banyak negara ASEAN, termasuk Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, proyek besar ini membawa keuntungan besar dari sisi pembangunan. Akan tetapi, proyek BRI juga bisa menimbulkan ketergantungan ekonomi dan kekhawatiran soal pengaruh politik jangka panjang.
Di sisi lain, Amerika Serikat seakan “tak mau kalah”. Mereka bersama sekutu meningkatkan keterlibatan strategisnya dengan menggaet beberapa negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura untuk bekerja sama di bidang pertahanan, khususnya di Laut China Selatan.
Namun, sekali lagi Winda menjelaskan, dampak intervensi asing di ASEAN jauh lebih terkendali. Hal ini karena anggota ASEAN umumnya bisa menjaga kesimbangan dan tidak bergantung pada satu kekuatan besar.
ASEAN disebutnya sebagai penyangga. Dengan mendorong prinsip netralitas dan dialog, ASEAN cenderung tidak menghadapi konflik terbuka.
“Tantangannya ke depan adalah memastikan bahwa intervensi dalam bentuk ekonomi dan strategis ini tidak memecah solidaritas ASEAN, sehingga stabilitas kawasan tetap terjaga,” tuturnya.
Prinsip Non-Intervensi, Betulkah “Kelemahan” ASEAN?
Prinsip non-intervensi kerap dikritik karena membuat ASEAN tampak “lemah”. Hal ini dianggap membatasi kemampuan organisasi dalam bertindak saat ada krisis regional.
Namun, Winda menyebut bahwa non-intervensi justru menjadi “kekuatan” besar ASEAN. Prinsip ini disebutnya menjadi salah satu alasan kenapa saat ini ASEAN tidak mudah terseret dalam kekacauan global.
Dengan tidak mencampuri urusan dalam negeri anggotanya, ASEAN mampu menjaga tingkat kepercayaan antarnegara serta mencegah konflik internal berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
“Prinsip ini bukan berarti ASEAN pasif atau tidak peduli, melainkan memilih pendekatan yang lebih berhati-hati dan berorientasi pada stabilitas. Non-interference memberi ruang bagi negara-negara ASEAN untuk fokus pada kepentingan domestik masing-masing, sambil tetap menjaga kerja sama regional melalui dialog dan diplomasi,” tegas Winda.
Indonesia Sebagai Pemegang Kunci Stabilitas ASEAN
Indonesia memiliki peran yang vital di ASEAN, baik sebagai negara terbesar di kawasan maupun salah satu pendiri organisasi. Dalam menjaga stabilitas kawasan, Indonesia konsisten mendorong pendekatan dialog dan diplomasi.
“Sikap Indonesia yang relatif moderat dan inklusif membantu menjaga persatuan ASEAN dan mencegah perbedaan kepentingan berkembang menjadi konflik terbuka,” katanya.
Peran Indonesia itu dibuktikan dalam langkah-langkah konkret, salah satunya mendorong Lima Poin Konsensus ASEAN terkait Myanmar agar krisis internal tersebut tidak merusak kohesi kawasan. Selain itu, dalam isu Laut China Selatan, Indonesia turut berperan dalam menyelesaikan damai.
“Indonesia terus menekankan penyelesaian damai berdasarkan hukum internasional serta mendorong kemajuan perundingan Code of Conduct di tingkat ASEAN,” pungkas Winda.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


